pulsa-logo

Menanti Bangkitnya Microsoft


dian iskandar

Selasa, 14 Oktober 2014 • 22:14

Menanti Bangkitnya Microsoft, tabloid pulsa


sumber gambar: microsoft-news.com

Microsoft telah meminang bisnis perangkat dan layanan Nokia. Perjanjian jual-beli kedua raksasa teknologi itu rampung April lalu. Microsoft mengeluarkan total dana 7,2 miliar dollar AS (sekitar Rp 79 triliun) untuk mengakuisisi unit bisnis perangkat dan layanan bisnis Nokia. Proses pembelian itu sendiri sudah di mulai sejak Oktober 2013.

Sebelum dibeli Microsoft, Nokia merupakan partner strategis bagi perusahaan berlambang jendela itu. Itu karena Nokia setia menggunakan OS Windows Phone ke smartphone Lumia miliknya. Nokia pun sempat gontai ditengah-tengah persaingan smartphone. Bahkan di fase terakhir Nokia terlihat putus asa karena pada akhirnya mengeluarkan produk dengan OS Android. Meskipun Android yang dikenakan di Nokia X dan X2 diklaim menjalankan platform sendiri, tanpa layanan resmi Google.

Langkah itu memang harus dilakukan agar tetap menjaga asa bisa mempertahankan serta mengembangkan bisnisnya di perangkat mobile. Selain itu, memiliki perangkat sendiri menjadikan Microsoft lebih leluasa dalam memasarkan OS mobile-nya.

Di sisi lain, penjualan PC sendiri  saat ini tidak lagi menjanjikan. Bahkan Samsung akhirnya memutuskan keluar dari bisnis komputer laptop di benua Eropa. Samsung dikabarkan akan menghentikan penjualan laptop Ativ berbasis Windows dan Chromebook di negara-negara di Eropa. Begitu juga dengan Sony, pabrikan elektronik asal Jepang itu sudah lebih dulu menarik diri dari bisnis komputer dan laptop dengan menjual pisi Vaio pada Februari lalu. Menurunnya penjualan perangkat komputer desktop dan laptop di pasar global disinyalir sebagai alasan keputusan Samsung tersebut. Maraknya penggunaan smartphone, bisa dibilang biang keladi dari merosotnya minat konsumen terhadap perangkat PC.

Tanda-tanda Samsung akan menarik diri dari bisnis laptop sebenarnya sudah terlihat pada acara IFA 2014, awal September lalu. Pada pameran teknologi yang digelar di Jerman itu, Samsung tidak meluncurkan produk laptop Ativ baru.

Bagi Microsoft sendiri, meski menjadi penguasa di industri PC dengan menguasai 90% pangsa pasar, namun PC telah menjadi minoritas di dunia komputasi dengan munculnya ponsel, dan terutama Android. Jadi, angka tersebut tidak bisa diandalkan lagi. Jika dibandingkan dengan seluruh perangkat di dunia (PC Tablet, ponsel dll), Windows kini hanya menempatkan 14% perangkat di dunia.


Pengakuan itu datang dari COO Microsoft Kevin Turner di Worldwide Partner Conference (WPC) di Washington, DC September lalu. Turner mengatakan bahwa Microsoft dan mitra-mitranya perlu mengadopsi " pola pikir penantang", karena dunia berubah dan Windows bukanlah platform dominan lagi .

Langkah Strategis Microsoft

Untuk menghadapi persaingan di perangkat mobile Microsoft mau tak mau harus mengambil langkah yang strategis guna meningkatkan daya saingnya. Meski memiliki perangkat sendiri, Microsoft juga harus bisa merayu para pabrikan lain untuk bergabung dalam ekosistemnya.

Beberapa hal penting sudah dilakukan, misalnya Microsoft merevisi kebijakan mereka dan menggratiskan biaya lisensi Windows Phone OS. Hal ini dilakukan demi memudahkan para rekanan OEM (Original Equipment Manufacture) merilis produk-produk Windows Phone berharga terjangkau.

Tujuannya tak lain adalah mampu bersaing dengan Android untuk menghasilkan hardware murah.

Ketentuan gratis biaya lisensi ini hanya berlaku untuk perangkat yang berukuran di bawah 9 inchi, alias tablet mini dan smartphone/phablet.

Langkah ini memungkinkan untuk menjalankan Windows pada hardware low-end. Diharapkan dapat membantu mendapatkan produsen perangkat onboard lebih banyak membuat Windows Phone.

Selain itu, Microsoft juga hapus biaya tahunan bagi pengembang Windows Phone baik yang sudah bergabung ataupun bagi mereka yang baru akan bergabung.

Biaya tahunan untuk para developer, tadinya ditujukan untuk para pengembang yang masih ingin memiliki akun developer dan aplikasi buatan mereka di Windows Phone Store. Tetapi, kini tak ada lagi biaya tahunan yang akan dikenakan bagi semua developer.

Cara ini diambil Microsoft untuk lebih menarik minat para pengembang menjajakan aplikasinya di Windows Phone Store yang saat ini masih terpaut jauh dari Apple Store dan Google play Store. Tentunya, langkah ini direspon positif karena memudahkan para pengembang yang ingin mencoba memasarkan karya berupa aplikasi ke Windows Phone.

Meski mengalami pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun, tetapi keterbatasan aplikasi Windows Phone yang tak sebanyak di platfrom iOS dan Android memang cukup berpengaruh terhadap penetrasi OS besutan Microsoft di pasaran.

Mengalahkan Blackberry dari posisi ke-3 sebagai penguasa OS mobile di dunia, tetapi perkembangannya begitu lambat. Selain itu, faktor dukungan aplikasi dari pengembang di Windows Phone juga dirasa masih kurang. Sebagai contoh, aplikasi-aplikasi besar seperti WhatsApp, Wechat, dan beberapa aplikasi populer terhitung lebih jarang melakukan update untuk platfrom Windows Phone ketimbang iOS dan Android.

Mengenalkan Windows 10, Platform Baru Multi Perangkat

Tepat 1 Oktober waktu Indonesia, Microsoft akhirnya mengenalkan platform baru Windows 10. Nama platform itu tadinya diperkirakan banyak orang sebagai penerus Windows 8.1 yakni Windows 9, ternyata langsung loncat menjadi Windows 10.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa Microsoft seolah "meloncat" dari Windows 8 langsung ke Windows 10. Menurut Cnet, dengan penamaan yang melompati satu versi itu, Microsoft mencoba menunjukkan keseriusannya dengan memberikan perubahan yang fundamental di sistem operasi baru itu.

Pengguna OS Windows bisa mendapatkan sistem operasi Windows 10 tahun depan. Microsoft berencana melucurkan sistem operasi ini setelah ajang konferensi tahunan Build bagi para pengembangnya. Kemungkinan Windows 10 meluncur di pertengahan atau akhir tahun 2015.

Belum banyak informasi tentang aplikasi dalam Windows 10. Namun sejauh ini, aplikasi-aplikasi yang akan diluncurkan di Windows 10 bakal bersifat universal, alias bisa dijalankan untuk semua jenis perangkat, mulai dari PC, smartphone, hingga tablet.

Karena itu, para pengembang aplikasi diwajibkan untuk mengkustomisasi aplikasi buatannya agar bisa berjalan di semua platform, mulai dari segi tampilan hingga bagaimana caranya berjalan di smeua perangkat dengan beragam ukuran layar. Aplikasi-aplikasi tersebut bisa diunduh melalui Windows Store.

Berbeda dengan sistem operasi Windows 8 dimana aplikasi yang dimiliki sepenuhnya dioperasikan dengan layar sentuh, maka di Windows 10 ini sifatnya opsional.

Saat pengguna memasangkan perangkat tabletnya dengan sebuah docking keyboard, maka antarmuka yang ditampilkan berupa tampilan desktop standar komplit dengan tombol Start yang kembali hadir. Begitu docking keyboard dilepas, maka pengguna akan mendapatkan antarmuka layar sentuh layaknya Windows 8. Menarik bukan?

Produk Windows yang Terjangkau

Strategi yang dilakukan Microsoft ini sudah bisa dipastikan ke depan produk berbasis Windows akan semakin terjangkau. Tapi ini juga dibarengi dengan pendekatan Microsoft dalam menggandeng para pabrikan. Tanda-tanda Microsoft berhasil menggandeng pabrikan baru juga sudah terlihat. Sebut saja Advan yang baru saja mengenalkan dua tablet terbaru berbasis Windows, Vanbook W80 dan W100.

Baru-baru ini Chief Executive Officer (CEO) Microsoft, Satya Nadella, juga berkunjung ke Tiongkok dan menemui CEO Xiaomi, Lei Jun. Pertemuan antara dua pemimpin perusahaan teknologi ini bersifat tertutup dan menimbulkan banyak spekulasi. Kabarnya sih, Xiaomi dan Microsoft akan menggarap smartphone Windows Phone murah untuk pasar entry-level.

 

Mengapa Xiaomi? Saat ini Xiaomi adalah vendor smartphone yang sedang naik daun dengan jajaran smartphone Android dengan kualitas dan spesifikasi tinggi yang dijual dengan harga terjangkau. Xiaomi juga melejit dengan trik Hunger Marketing atau flash sale.

Sejauh ini kabar smartphone Windows Phone dari Xiaomi masih sebatas rumor yang belum mendapat komentar atau tanggapan resmi dari dua perusahaan tersebut. Hal ini berarti kabar yang beredar bisa saja meleset. Tapi Xiaomi hanya salah satu dari beberapa vendor Tiongkok yang sudah lebih dulu digandeng oleh Microsoft.

Ya, strategi Microsoft boleh dibilang sudah cukup matang, tapi apakah raksasa teknologi asal Amerika itu bisa bangkit dalam waktu dekat? Termasuk menggerek penjualan perangkat mobile berbasis Windows di Indonesia ke level yang lebih baik.

Sebagai catatan, berdasarkan survei yang dilakukan AdDuplex, pengguna perangkat mobile berbasis Windows di Indonesia hanya mencapai angka 1,5%. Grafik ini didasarkan pada data yang dikumpulkan melalui 11 aplikasi dan game yang terdapat iklan AdDuplex dengan sekitar 200.000 perangkat Windows Phone di seluruh dunia per Juli 2014.

Data ini termasuk perangkat yang menjalankan Windows Phone 7.x, serta Windows Phone 8 dan Windows Telepon 8.1. Meskipun tentu saja WP 8.1 belum banyak digunakan, per Juli ini berjalan sekitar 8% dari semua perangkat Windows Phone. (*)

Sumber: Tablod PULSA edisi 295

LATEST TIPS-APPS

Mengatur Pesan SOS di Smartphone Asus
BackUp Cloud di CloudMAX

2018-04-10 20:49:42