pulsa-logo

Sejuta Harapan di Android One


PULSA

Rabu, 18 Februari 2015 • 13:24


android oneandroid one

Tahun 2015 bakal menjadi tahun terberat bagi produsel ponsel lokal. Pasalnya, tahun ini gempuran brand-brand asal Tiongkok makin marak. Jika tahun lalu pabrikan paling ambisisus asal negeri tirai bambu Xiaomi menancapkan kakinya di tanah air, awal tahun ini giliran OnePlus tak mau kalah sigap ikut menggempur pasar smartphone Indonesia.

Padahal, brand lain seperti Lenovo, ZTE, Huawei dan Oppo juga sudah cukup membuat tertekan para pemain lokal. Belum lagi brand asal Taiwan seperti Acer dan Asus, sama-sama ngotot tak ingin kalah saing tentunya.

Nah ditengah seingatnya persaingan, harapan bagi para vendor lokal untuk kembali unjuk gigi pun tumbuh kembali. Baru-baru ini tiga produsen ponsel lokal seperti Mito, Evercoss dan Nexian kompak mengumumkan smartphone berharga terjangkau yang di-endorse langsung oleh Google lewat platform Android One.

Android One sendiri sejatinya dibuat oleh Google untuk pasar Negara berkembang. Untuk mensukseskan Android One, Google menggandeng para pemain lokal. Jadi, Android One tak akan diusung oleh brand besar seperti Samsung, LG atau sebangsanya.

Android One, Bukan Sekedar ponsel Murah

Indonesia bukan Negara pertama tempat pertama kalinya perangkat Android One dipasarkan. September 2014, India menjadi tempat kelahiran Android One. Sundar Pichai selaku Senior Vice President Google kala itu menyatakan Android One dibuat agar semakin banyak orang bisa menggunakan smartphone.

"Tujuan kami adalah mengembangkan smartphone kualitas tinggi dengan harga terjangkau," kata Sundar. "Meskipun sudah ada 1,75 miliar orang di dunia sudah punya smartphone, mayoritas dari populasi dunia, lebih dari 5 miliar, belum memilikinya," seperti dikutip dari blog resmi Google.


Dengan Android One, Google sepertinya juga berharap bisa menghapus citra kalau ponsel Android murah itu kurang baik. Android One memang dirancang memiliki pengalaman penggunaan yang cukup baik.

"Ambisi Google di sini cukup jelas. Jika Android One sukses, Google bisa mengambil kembali pangsa pasar besar yang telah diambil oleh para manufaktur Android di seluruh Asia, di mana mereka sering membuat ponsel Android murah yang kualitasnya juga murahan," ucap Jack Dutton dari Business Insider.

Google menggarap Android One dengan menggandeng sejumlah vendor lokal di masing-masing negara terpilih. Raksasa internet itu menyediakan rancangan hardware yang dibutuhkan. Kemudian vendor yang bekerja sama tinggal membuatnya sesuai dengan konsep inti yang sudah diberikan.

Piranti keras tersebut jadi perhatian penting bagi Google. Pasalnya, piranti keras tersebut merupakan salah satu bagian yang mempengaruhi harga smartphone. Menurut Google, ada tiga hal yang menghambat kepemilikan smartphone berkualitas di negara berkembang.

Postingan Google pada 15 September tahun lalu menyebutkan alasannya adalah, "Pertama, soal piranti keras itu sendiri, karena bahkan smartphone untuk pengguna pemula masih sulit didapatkan,".

"Kedua, banyak orang yang tidak bisa mengakses piranti lunak Android dan aplikasi terbaru. Ketiga adalah tidak banyak orang yang smartphone-nya bisa mendukung koneksi data dan mahalnya biaya layanan internet, meski di sisi lain sudah ada koneksi 3G serta 4G," tulis Google.

Jadi intinya, meskipun berharga murah, Google berjanji menyediakan update secara berkelanjutan jika ada pembaruan piranti lunak yang resmi digulirkan olehnya. Ini berbeda dengan ponsel Android murah yang biasa ditawarkan oleh pabrikan lokal dimana update software tidak begitu diperhatikan dan merupakan tanggung jawab pabrikan.