pulsa-logo

Kemkominfo Bisa Punya Andil Besar Cegah Kekerasan


PULSA

Rabu, 01 April 2015 • 18:45

Kemkominfo, tabloid Kominfo, tabloid pulsa


gambar: kemkominfo logogambar: kemkominfo logo

Belakangan ini masyarakat diresahkan oleh maraknya kejahatan begal di banyak daerah di Indonesia. Mencengangkan, karena beberapa di antara para pelaku adalah remaja belasan tahun.

Kita juga dibuat mengelus dada mendengar kasus bullying di kalangan anak-anak dan remaja, bahkan terjadi di dalam lingkungan sekolah. Saling intimidasi ini sudah semakin mengkhawatiran, sampai-sampai sudah menyebabkan jiwa melayang.

Baru-baru ini juga diberitakan bahwa Polisi berhasil manangkap para pelajar yang kedapatan tengah menjarah barang-barang di sebuah rumah yang tengah ditinggal bekerja oleh penghuninya. Memilukan, karena saat menjalankan aksinya mereka masih mengenakan seragam Sekolah Menengah Pertama.

Fenomena merebaknya aksi kekerasan dan tindakan melanggar hukum yang dilakukan para pelaku berusia muda bisa disebabkan oleh banyak hal. Faktor-faktor jangka panjang yang membentuk sikap dan kepribadian anak dan remaja, bisa menjadi pendoronganya.

Faktor linkungan keseharian, mulai dari apa yang mereka tonton dan dengar, hingga bagaimana mereka berinteraksi secara nyata maupun lewat dunia maya (yang tanpa batas itu), turut memberi andil besar dalam aksi keseharian mereka.

Konten Negatif, Video Game & Sinetron Jadi Sorotan

Dalam sebuah seminar Pendidikan Karakter Sejak Dini, Investasi Untuk Indonesia Yang Bermartabat, di Bandung belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, menyoroti maraknya aksi kekerasan dan pembegalan yang turut melibatkan remaja sebagai pelakuknya.


Menurut Dia, ada berbagai kemungkinan faktor penyebab kecenderungan kekerasan oleh anak yang perlu diteliti besaran pengaruhnya dan perlu dilihat secara utuh faktor-faktor yang ada di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Menurut Sang menteri, berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memiliki pemahaman yang berbeda tentang situasi yang dihadapinya. Anak-anak terkadang mengalami kesulitan dalam membedakan antara yang maya dan nyata. Mereka juga belum memahami secara utuh batasan-batasan benar-salah, boleh-tidak boleh, menyakiti-atau tidak, dan terutama dampak tindakannya di masa depan.

Permasalahan video game, masih kata Anies, adalah karena peredarannya yang massif dan begitu mudah dimainkan oleh anak dan remaja tanpa memperhatikan rating yang diberikan. Sayangnya para orangtua kurang menyadari bahwa tidak semua video game cocok dimainkan anak semua umur. Kesulitan membedakan mana yang benar dan yang salah ketika menyimak tontonan televisi semisal sinetron, juga menjadi faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan anak-anak.