pulsa-logo

ABG yang Tak Pakai Handphone dan Bersosial Media, Bagaimana Nasib Mereka?


Arief Burhanuddin

Rabu, 22 Juli 2015 • 15:20

smartphone, android, ios, windows phone, social, aplikasi, eksis, sosial media, handphone, ponsel, abg, tren, tabloid pulsa


Smartphone sering disalahkan karena dianggap sebagai penyebab gagunya hubungan sosial antar remaja dan merusak otak mereka (atau setidaknya mereka jadi jarang mendengarkan omongan orang tua mereka). Tapi pernahkah Anda memikirkan kelompok remaja lainnya? Bagaimana kehidupan remaja yang tidak memiliki smartphone sama sekali?

Lima belas persen remaja di New York ternyata hanya memiliki basic phone dan bukan smartphone, dan 12 persen lainnya tidak memiliki ponsel sama sekali. Dua orang peneliti, Crystle Martin dan Mimi Ito baru-baru ini menulis tentang fakta ini di jurnal The Conversation. Remaja yang memiliki uang lebih sedikit lebih mungkin tidak memiliki ponsel yang lebih canggih, dan dengan demikian mereka cenderung tidak menggunakan aplikasi social media mobile semacam snapchat, twitter atau facebook.

Ketika Dr Martin dan Dr Ito mewawancarai 14 remaja dengan uang saku yang rendah, mereka menemukan bahwa hanya setengah dari mereka memiliki smartphone. Semuanya tidak menggunakan Instagram, dan hanya satu yang menggunakan aplikasi jejaring social Snapchat. Anak-anak lain mengatakan kepada si pengguna Snapchat tersebut, "Kita semua menjadi buta di media sosial kecuali Kamu."

Kurangnya  akses ke aplikasi social media seperti Snapchat tampaknya tidak menjadi masalah yang besar, terutama bagi mereka yang khawatir tentang efek buruk penggunaan media sosial. Tapi anak-anak yang tidak dapat menggunakan teknologi akan kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada sekedar sebuah perangkat canggih yang dapat mengisi waktu mereka. Dr Martin dan Dr Ito menulis, "Perangkat digital dan jejaring sosial media adalah tempat dimana orang-orang muda merasa lebih lancer dan mendapatkan kenyamanan sehari-hari dengan bantuan teknologi untuk mengadopsi norma-norma sosial dibanding zaman kita dulu.”

"Apakah dia sedang mengelola jaringan kerjanya di LinkedIn atau belajar coding, orang-orang muda yang tidak memiliki kefasihan digital dan akses penuh ke jaringan akan selalu berada di belakang  rekan-rekan mereka yang lebih terhubung dengan teknologi."

Untuk melihat manfaat koneksi digital terhadap kehidupan remaja, kita mungkin harus mendengarkan cerita sukses seorang Andrew Watts, sekarang berumur 20 tahun.

Ia mendapatkan ketenaran melalui internet pada bulan Januari lalu karena menulis artikel bertajuk “A Teenager’s View on Social Media (Visi Remaja di Media Sosial)”. Ia kemudian menjelaskan  mengenaik “keajaiban-keajaiban” yang  terjadi setelah ia mempublikasikanartikel tersebut. TechCrunch, salah satu website teknologi terkemuka dunia mencarinya untuk melakukan wawancara. Dia juga diundang untuk memberikan pidato tentang media sosial. Dia berkesampatan bertemu dengan Menteri Perdagangan dan Pendiri Twitter Biz Stone. Malah pada satu titik, ia mempertimbangkan kemungkinan untuk berhenti mengejar impian kerja kantoran full time dan mencoba beberapa peluang pekerjaan yang saat ini ada di depan mata.


Tentu saja, kasus Watts adalah sebuah contoh ekstrim, namun karyanya tidak akan banyak mendapatkan perhatian jika orang dewasa tidak ingin tahu tentang dengan perilaku social media remaja. Menjadi seorang remaja di media sosial adalah menjadi bagian dari demografi yang sangat didambakan – dimana ia akan disurvei, dipasarkan, dan jika beruntung bahkan akan dibayar.

Hal ini menjadi kesempatan sangat besar dan terlihat. Mungkin sebagian orang memandangnya sebagai sesuatu yang buruk dan sebagian yang lain menganggap hal itu lebih baik, bisa menghasilkan banyak uang.

Dari situ semakin terlihat, seorang remaja yang tidak ambil bagian di media sosial akan menjadi ‘hantu’ dan tidak terlihat oleh mereka pengambil keputusan.

Sisi Negatif

Para ahli mengatakan remaja memiliki kebutuhan untuk merasa terhubung, apapun caranya bahkan jika itu dengan melakukan perilaku bodoh. Beberapa tren di social media yang kadang keterlaluan secara online malah menciptakan ‘rasa dimiliki’ oleh masyarakat dan membantu remaja menghindari perasaan terisolasi. Hal inilah yang kadang dapat menjelaskan mengapa ada video remaja yang  melakukan bullying malah ditonton oleh ribuan orang. Beberapa minggu lalu, tantangan #KylieJennerChallenge bahkan telah membuat puluhan remaja putri  masuk rumah sakit gara-gara menginginkan bentuk bibir seksi ala sosialita tersebut.

Yang up to date, ada video Cinnamon Challenge dmana remaja ditantang untuk memposting video dimana ia harus menelan sesendok penuh cabai tanpa bantuan air minum. Tentu ini sangat berbahaya karena bisa menimbulkan kasus tersedak hingga kematian.

"Mereka ingin menjadi berbeda dan tidak sama dengan orang dewasa," kata Dr Amir Levine, psikiater untuk orang dewasa, anak , remaja dan neuroscientist di pisi anak dan psikiatri remaja di Columbia University, kepada CBS News.

"Mereka benar-benar memiliki kebutuhan yang sangat penting untuk melakukan hal-hal yang rekan-rekan mereka juga lakukan. Bagian dari tekanan teman sebaya adalah bagaiman supaya dia sesuai dengan kelompok sebayanya.

@ariefburhan/berbagai sumber