pulsa-logo

Berharap Blackberry Bikin Android


dian iskandar

Rabu, 12 Agustus 2015 • 21:02


Image credit: GoogleImage credit: Google

Belum lama ini laporan penjualan Blackberry kuartal 1 tahun fiskal 2015 dirilis. Dari situ diketahui bahwa BlackBerry hanya menjual 1,1 juta ponsel di kuartal pertama, turun 500.000 dari kuartal sebelumnya.

Perusahaan yang dipimpin oleh John S Chen itu juga melaporkan kerugian sebesar 28 juta dolar AS atau 5 sen per saham. Ini juga sekaligus membuktikan bahwa duo BlackBerry Passport dan Classic belum bisa mengembalikan kejayaan Blackberry dalam waktu singkat.

Di Indonesia sendiri Blackberry terlihat tak lagi antusias mengeluarkan produk baru. Buktinya, seri Leap yang sudah lebih dulu diluncurkan di Malaysia dan India tidak juga masuk ke tanah air. Senior Country Product Manager BlackBerry Indonesia Ardo Fadhola berdalih jika BlackBerry Leap pada dasarnya adalah peningkatan dari BlackBerry Z3 a.k.a Jakarta dan ditargetkan untuk dipasarkan di negara yang tidak tersedia BlackBerry Z3.

Artinya, seperti halnya BlackBerry Jakarta yang merupakan perangkat untuk pasar terpilih, BlackBerry Leap pun ditujukan untuk dipasarkan di pasar terpilih. Tapi jika memungkinkan untuk masuk dan menggantikan BlackBerry Jakarta, maka BlackBerry Leap pun akan tersedia di pasar Indonesia.

Soal penjualan di Blackberry di Indonesia, diakui Ardo masih memiliki pangsa pasarnya sendiri. "Memang tidak sebesar dulu, karena sekarang telah banyak produk smartphone lain yang menggempur pasar smartphone Indonesia dengan berbagai sistem operasi, sebut saja smartphone Android yang membanjiri pasar smartphone Indonesia" kata dia.

Padahal tiga tahun lalu Blackberry sangat diperhitungkan terutama bagi pabrikan Tiongkok yang bercokol di Indonesia. Ini diakui Jeeves Jiang CEO Coolpad Indonesia yang mengatakan bahwa "Tiga tahun lalu sulit bagi kami untuk masuk ke Indonesia karena Blackberry dan Nokia masih sangat kuat," kata dia.

 


Tetap di Bisnis Smartphone

Meski dalam keadaan yang kurang beruntung, Blackberry tetap setia di bisnis smartphone. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh, USA Today, CEO Blackberry John Chen  mengatakan bahwa itu adalah bisnis yang baik untuk menghasilkan uang.

Handset BlackBerry juga perangkat yang memperkenalkan pelanggan kepada layanan dan keamanan data manajemen perusahaan. "Jadi ini adalah mengapa semua Pemerintah di negara-negara maju menggunakan perangkat kami," kata Chen seperti dikuip USA Today (29/5). "Anda dapat melihat kepala negara menggunakan perangkat kami", lanjut dia.

Masalahnya, Blackberry banyak kehilangan pemasukan dari biaya layanan yang dicas operator untuk menikmati layanan BlackBerry terutama pada perangkat model lama. John Chen mengatakan bahwa biaya ini adalah pendapatan marjin tertinggi yang dimiliki perusahaan, dan sekarang menyusut karena pengguna menggantikan perangkat Blackberry yang lama dengan yang baru.

Bakal ke Android?

Ditengah berita mengenai penurunan penjualan, santer isu mengenai Blackberry yang disebut-sebut bakal ikut membuat perangkat berbasis Android. Selasa lalu (16/6) seorang blogger asal Rusia mengatakan bahwa Blackberry tengah banting stir untuk ikut membesut perangkat bertenaga Android.  Dia juga mengatakan bahwa Blackberry Venice bakal menjadi perangkat pertama BB Android yang bakal muncul di November.

Nah, isu tersebut juga semakin santer ketika situs N4BB.com (blog khusus Blackberry) melempar isu yang sama. Bahkan di situs itu disebutkan bahwa perangkat Blackberry Android bakal hadir lebih awal di Agustus.  

Menurut N4BB, BlackBerry bisa memperkenalkan smartphone Android lebih cepat di Agustus dengan kode nama Prague. Dan itu bukan masuk perangkat high end. Kabarnya akan menjadi smartphone low-end, yang sekelas BlackBerry Z3.

Mendengar isu ini, melalui CEO-nya Blackberry menyatakan, bisa saja mereka membuat smartphone berbasis Android selama mereka bisa membuatnya jadi perangkat yang lebih aman. Penyataan itu disampai John Chen dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada 23 Juni, John Chen menjawab: "Kami hanya membuat ponsel yang aman, dan BlackBerry adalah ponsel yang paling aman.

"Jadi, jika saya dapat menemukan cara untuk mengamankan ponsel Android, saya juga akan membuat itu,” kata Chen.  Dengan kata lain, John Chen menegaskan bahwa BlackBerry terbuka untuk merangkul Android dengan syarat, tapi untuk saat ini dia tidak bisa mengatakan lebih lanjut.  

Blackberry sendiri tidak asing dengan Android. Buktinya di platform Blackberry 10, pengguna bisa menikmati aplikasi Android bermodalkan 'emulator' yang tertanam di dalamnya. Tapi buat sebagian besar pecinta Android, ini tentu kurang 'nendang' karena minus Play Store dimana itu merupakan toko aplikasi milik Google.

Anda saja Blackberry benar-benar bisa membuat perangkat Android yang lebih aman, ini akan menjadi sesuatu yang menarik. Setidaknya, sisi keamanan yang menjadi keunggulan Blackberry bisa dinikmati oleh komunitas Android yang besar ini. (*)