pulsa-logo

Lebih Banyak Orang Tua Memandang Media Sosial Sebagai Hal Positif Bagi Anaknya


Arief Burhanuddin

Selasa, 24 November 2015 • 11:35


Sampai saat ini efek sosial media bagi kesehatan jiwa masih simpang siur. Ada sebuah argumen yang menyatakan bahwa sosial media telah membuat orang menjadi lebih inpidualis dan membuat kita lebih ingin terlihat sempurna di sosial media dibanding kenyataan sebenarnya.

Hal itu dinyatakan oleh Essena O'Neil, seorang pengguna aktif instagram yang sebenarnya telah menjadi bintang di jejaring sosial milik Facebook tersebut dengan lebih dari  500.000 orang yang mengikuti Sayannya.

Berbagai brand telah menggunakan jasanya untuk mempromosikan produknya ke lebih dari 500 ribu follower Essena. Ribuan dolar ditengarai telah masuk ke koceknya dan membuat Essene cukup punya yang untuk remaja seusianya. Namun ternyata hal itu tak cukup untuk membuatnya bahagia.

“I felt the same as a young girl, I would just spend hours looking at everyone else's perfect lives and I strived to make mine look just as good,” she wrote. “Guess I succeeded. It's totally stupid. Everyone's doing it. And I know you didn't come into this world just wanting to fit in and get by.”

"Awalnya Saya sama seperti gadis-gadis yang lain, Saya hanya ingin menghabiskan waktu beberapa jam untuk melihat hidup orang lain yang sempurna dan Saya ingin membuat diriku terlihat sebagus mungkin," Kata Essena.

"Tebak, Saya telah berhasil melSayakannya, (tapi) hal itu sungguh bodoh. Semua orang melSayakannya. Saya tahu bahwa Anda tidak datang ke dunia itu (sosial media) hanya untuk supaya Anda cocok di dalamnya dan diperhatikan."

Hal itu pulalah yang menyebabkan Essena mengambil keputusan mengejutkan. Ia memilih untuk mematikan semua Sayan sosial medianya. Ia mengambil jalan berbeda dengan melSayakan ‘pemberontakan’ terhadap sosial media.


Artis instagram ini, - yang di bulan November ini bakal berusia 19 tahun – kemudian membuat website bertajuk Let’s Be Game Changer untuk menjelaskan keputusannya dan untuk mengambarkan berbagai fantasi yang ada di dunia sosial media.

"And yes, I quit all of social media. With 570,00+ followers on Instagram, 250,000+ subscribes on YouTube, 250,000+ on tumblr and 60,000+ average views on snapchat. Tumblr and Snapchat gone forever. My instagram left to expose the harsh and often humorous reality behind the #goals #instafamous culture and YouTube for purely vegan education. Deleting all those apps from my phone was one of the most empowering and freeing thing I have ever done,"

Jika diterjemahkan, ucapan Essena itu akan menjadi, “"Dan ya, Saya keluar dari semua media sosial. Dengan 570,000 lebih  pengikut di Instagram, 250,000 lebih yang  berlangganan di YouTube (channelku), 250,000 lebih  di tumblr dan 60.000 tampilan rata-rata di Snapchat. (Sayan) Tumblr dan Snapchat kini hilang selamanya.  InstagramKu Saya biarkan agar dapat untuk digunakan untuk mengekspos kenyataan pahit dan menggelikan di balik #goals (tujuan) budaya #instafamous (menjadi terkenal di instgram) dan YouTube Saya gunakan untuk murni melSayakan edukasi vegan (orang-orang yang tidak memakan daging dan turunannya dan hanya makan sayuran dan tanaman). Menghapus semua aplikasi yang ada di ponselku adalah salah satu hal yang paling berdaya dan membebaskanku dari hal-hal  yang pernah Saya lakukan, "

Dia juga mengkritisi brand yang membayarnya untuk mempromosikan produk. “Kami generasi yang dicekoki untuk mengkonsumsi ini itu, tanpa tahu dari mana himbauan itu berasal dan apa yang akan terjadi nanti.

Dia masih memiliki foto di laman Instagram, tapi menurut The Sunshine Coast Daily, bintang media sosial asal Australia itu telah menghapus foto-fotonya selama seminggu terakhir. Dia juga telah mengedit keterangan dari foto yang tersisa dan menghapuskan mitos bahwa banyak foto dirinya yang nyata …yang ternyata dibayar oleh berbagai perusahaan.

Di bio instagramnya, ia menulis status:  “social media is not real life” yang kira-kira berrati “sosial media bukanlah kehidupan yang sesungguhnya”.

Dia juga menyebarkan pemikirannya pada media sosial dengan video di websitenya. Video pertamanya di website berjudul "Mengapa saya berpikir media sosial ity menyebalkan." Di bawah video, dia menjelaskan perasaannya terhadap media sosial.

"Saya tidak bisa memberitahu Anda bagaimana saya merasa bebas tanpa media sosial. Tidak pernah lagi Saya biarkan angka-angka mendikte Saya. Hal itu mencekik Saya. Bukan karena saya punya 500.000 follower, Saya merasakan hal yang sama sebagai gadis muda, saya hanya akan menghabiskan berjam-jam melihat orang lain yang hidup sempurna dan saya berusaha untuk membuat saya terlihat sama baiknya ... Kira saya berhasil. ini benar-benar bodoh. semua orang melakukannya  dan Saya tahu kau tidak datang ke dunia sosial media ini hanya untuk menyesuaikan diri dan mendapatkan yang diinginkan. Anda membaca ini sekarang karena Anda adalah game changer (pembuat perubahan), Anda mungkin tidak tahu kekuatan Anda sebelumnya,  Saya hanya menemukan punya saya , tetapi... ketika Anda melakukannya... Anda akan menjadi gila. Ini akan menjadi hal brilian. Anda akan brilian, " Tulisnya sambil menantang pengikutnya untuk melewati satu minggu tanpa media sosial.

Bagaimana pendapat para orang tua?

Siapa yang sebenarnya patut cemas dengan adanya media sosial? Tudingan segera mengarah ke para orang tua.

Orang tua, menjadi obyek studi bagi lembaga  survei Qualtrics. Dalam sebuah survei terhadap sekitar 1.000 orang tua yang memiliki anak-anak berusia antara 8 hingga 17 tahun, sebasgian besar responden mengatakan bahwa media sosial memiliki dampak lebih positif pada diri anak-anak mereka dibanding dari yang negatif. 46,4% orang tua mengatakan media sosial memberikan efek positif, sementara hanya 10,7% mengatakan bahwa media sosial memberi dampak negatif (42,9% lainnya abstain).