pulsa-logo

Selfie, Lebih Banyak Negatifnya Ketimbang Positifnya


Arief Burhanuddin

Rabu, 10 Februari 2016 • 13:06

selfie, lebih, banyak, negatifnya, ketimbang, positifnya


Ilustrasi, Image Source via GoogleIlustrasi, Image Source via Google

Kamera depan sebuah smartphone awalnya tidak terlalu dianggap sebagai fitur yang serius. Mungkin hanya sekedar alat untuk memotret wajah sendiri atau bisa juga sebagai pengganti cermin (haha!). Namun entah angin apa, tiba-tiba munculah sebuah tren bernama selfie. Di sini peran kamera depan hidup kembali. Produsen smartphone yang tadinya hanya memperhatikan kamera utama di bagian belakang, kini juga mulai fokus di kamera depan dan mendandaninya dengan beragam fitur.

Tren selfie tak hanya melanda kaum selebritis. Dari rakyat jelata hingga presiden negara adidaya pun merasa berhak untuk melakukan selfie. Tengok saja, mulai dari Obama hingga Presiden Jokowi, foto-foto selfienya dapat dengan mudah ditemukan di internet. Variasi gaya selfiepun kini juga makin beragam. Mulai dari ekspresi wajah datar sedatar-datarnya, hingga selfie menantang bahaya di ketinggian atau tempat-tempat ekstrim.

Namun pernahkah Anda bertanya, apa pengaruhnya jika kita sering melakukan selfie? Well, tak selamanya selfie berakibat buruk pada kita sih. Meski demikian, dari 5 pengaruh selfie yang diungkap oleh situs lifehack.org, 4 diantaranya memang lebih condong menjadi hal yang negatif

1. Selfie Meningkatkan Resiko Terhadap Privasi

Facebook saat ini telah menggunakan teknologi pengenalan wajah (Deep Face Project) dan beberapa ahli berpendapat bahwa hal ini adalah ilegal. Fitur pengenal wajah ini tentu saja cukup menghawatirkan Anda yang masih konsen dengan masalah privasi atau keamana pribadi. Lihatlah bagaimana Facebook memproses 350 juta foto setiap harinya. Pengenalan wajah tak hanya dapat mengenali profil orang yang ada di foto, tapi juga membuka ancaman bagi orang lain untuk mengakses informasi berharga secara personal untuk kemudian digunakan sebagai alat komersial atau eksploitasi lainnya.

Meski demikian, fitur pengenal wajah tak selalu berdampak buruk. Pihak keaman mungkin jadi lebih mudah mengakses ke semua data, termasuk akses ke orang-orang yang mereka curigai dan emngidentifikasi mereka.

2. Selfie Bisa menyebabkan Kecanduan


Seringkali mencoba untuk mendapatkan foto selfie yang paling sempurna untuk  diposting akun Instagram Anda? Jangan mencoba terlalu keras karena bisa menyebabkan Anda kecanduan dan terobsesi. Contoh ekstrim adalah kisah Danny Bowman melakukan percobaan bunuh diri. Alasannya? Dia tidak bisa mendapatkan foto selfie yang sempurna walau telah mencobanya selama 10 jam sehari (rata-rata ia melakukan 200 selfies sehari). Ibunya kemudian datang dan menyelamatkan hidupnya dan dia sekarang harus menjalani program rehabilitasi. Bowman kemudian secara bertahap belajar untuk hidup tanpa iPhone-nya.

3. Selfi Dapat Merusak Hubungan di Dunia Nyata

Tahukah Anda bahwa teman sejati Anda dapat akhirnya tidak menyukai Anda ketika ketika Anda memasukkan terlalu banyak memasukkan foto selfie di sosial media? Keputusan untuk memasukkan banyak foto diri dapat merusak persahabatan dan hubungan Anda dengan rekan Anda. Ini adalah kesimpulan mengejutkan yang diperoleh para peneliti di Heriot-Watt University, Edinburgh. Mereka menemukan selfie akan berdampak negatif terhadap tingkat keintiman hubungan.

4. Posting Terlalu Banyak Foto Selfie tIdak Menyebabkan Kelainan

Beberapa waktu lalu muncul rumor mengenai kelainan psikologis yang disebut “Selfitis”. Ada beberapa tahap penyakit ini, yang pertama yang adalah selfitis ringan jika Anda memposting sekitar 3 foto selfie per hari. Anda akan disebut emndapat penyakit Selfitis kronis jika Anda mengambil foto diri sendiri sepanjang hari dan kemudian mempostingnya setidaknya enam kali sehari. Rumor ini menjadi viral dan orang-orang mulai khawatir akan kebenaran berita tersebut. Namuns etelah rumor menyebar beberap saat, barulah diketahui bahwa selfitis tersebut hanyalah sebuah lelucon dan sama sekali tidak benar.

Memposting banyak foto selfie tidaklah serta merta akan membuat Anda memiliki kelainan kejiwaan. Kecuali kasus Bowman di atas dan juga gangguan terhadap hubungan pertemana  Anda.

5. Selfies menempatkan terlalu banyak penekanan pada penampilan fisik

Akan terlihat indah bukan, jika Anda memposting foto yang menunjukkan keramahan, kejujuran, kebaikan, serrta hal-hal yang baik di sekitar kita?

Namun tren selfie tampaknya bergerak ke arah lain. Selfie kini cenderung fisikal. Kecantikan, otot yang kekar, mode yang sedang tren, gadget terbaru hingga latar belakang mobil mewah menjadikan selfie kini melulu soal fisik dan materi. Bahakan akhir-akhir ini, ada tren selfie baru yang disebut belfie (bottom-selfie). Agak kurang sopan jika Kami memajang salah satu contoh foto belfie di halaman ini. Namun  Anda dapat menggooglingnya dan Anda mungkin akan terkejut (jika tidak mengernyitkan dahi cukup dalam) melihat tren belfie tersebut.

Sekali lagi, Saat ini postingan selfie semuanya begitu fisik dan nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, kebaikan, kesederhanaan semakin terpinggirkan

@ariefburhan/lifehack.