pulsa-logo

Sharing Economy: Antara Yang Senang dan Yang Malang


PULSA

Senin, 04 April 2016 • 11:05


Keberadaan aplikasi sejatinya mempermudah masyarakat yang menggunakannya. Aplikasi mempermudah sebuah proses pekerjaan atau meniadakan sebuah tahapan. Banyak yang dibuat senang, namun banyak juga yang dibuat malang.

Contohnya adalah keberadaan angkutan online yang sedang marak dipersoalkan. Di satu pihak, keberadaannya membuat sekelompok masyarakat mendapat penghasilan tambahan dan penggunanya diuntungkan sekaligus dimudahkan. Namun pihak lainnya menganggap aplikasi ini sebagai biang keladi dari berkurangnya pendapatan.

Terlepas dari bagaimana akhir cerita perdebatan ini, atau bagaimana bentuk solusi yang nantinya ditawarkan Pemerintah, apa yang tengah terjadi saat ini adalah merupakan sebab-akibat dari manjurnya sebuah model pasar yang disebut sharing economy.

Sharing economy, atau bisa disebut juga sebagai konsumsi kolaboratif, adalah sebuah model pasar hybrid, antara pemilik dan pemberi manfaat, yang merujuk pada sharing berbasis peer-to-peer, atas akses terhadap barang dan jasa, yang diatur melalui sebuah layanan online berbasis komunitas.

Grab dan Gojek adalah salah satu bentuk sharing economy, dimana pihak pembuat aplikasi menyediakan akses langsung bagi masyarakat kepada jasa layanan antar-jemput. Apakah sharing economy memberikan manfaat atau malah menciptakan mudharat? Tentunya Anda memiliki versi jawaban masing-masing. Namun sekali lagi, kita lihat saja solsusi yang ditawarkan pemerintah agar tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan.

Kita begitu terpesona dengan aplikasi yang mampu menghubungkan begitu banyak kepentingan dan membantu menyelesaikan beberapa persoalan. Sebuah pasar hybrid tercipta, begitu juga dengan pasar mayanya. Lalu bagaimana dengan pasar nyata dan manusia nyatanya?

Model pasar sharing economy yang menjarah dunia, termasuk Indonesia, bukan hanya Grab dan GoJek saja. Cobalah kita lirik maraknya keberadaan belanja online. Aplikasi-aplikasi ajaib ini telah mendorong tumbuhnya produktivitas rumahan dan memberikan kemudahan dalam berbelanja. Namun, sadar tak sadar, di depan mata, kita menyaksikan matinya pasar-pasar tradisional yang menjadi perantara antara produsen dan konsumen. Belanja online menjadi hantaman kedua bagi pasar tradisional, yang sebelumnya sudah terkapar dengan keberadaan toko-toko swalayan yang selalu ada di ujung jalan.


Contoh lain dari sharing economy, yang juga menciptakan kemalangan, namun membuat sebagian orang senang adalah: AirBnB yang merupakan singkatan dari AirBed and Breakfast, sebuah pasar hybrid online yang mempertemukan pemilik kamar rumahan atau penginapan di satu lokasi tertentu dengan peminat kamar murah seperti pelancong.

Cara kerjanya serupa. Anda memiliki kamar yang tak digunakan alias kosong, kemudian Anda menawarkan kamar tersebut di AirBnB untuk disewa, tentunya dengan tarif sewa yang murah. Jika ada pelancong yang berminat, Anda pun akan mendapatkan keuntungan dari sewa kamar kosong tadi. Serupa dengan aplikasi sharing economy lainnya, ada yang diuntungkan, namun ada yang merasa dirugikan. Hotel-hotel akan tergerus keuntungannya. Mereka taka akan mampu bersaing, karena mereka harus membayar pajak, menggaji karyawan dan biaya lainnya.

Ciri-ciri dari aplikasi serupa ini adalah mereka tidak memiliki properti. AirBnB tak memiliki properti kamar atau bangunan hotel, Grab dan Gojek yang tak memiliki properti kendaraan bermotor, dan situs belanja online-market place tak memiliki properti persedian barang untuk diperdagangkan.

Bentuk sharing ekonomi seupa yang juga sangat dasyat pengaruhnya adalah Facebook dan Twitter. Kedua aplikasi ini turut memiliki dampak yang besar terhadap industri media massa di dunia termasuk Indonesia.

Sharing economy selalu menyebabkan pergeseran. Di industri media, penyaluran proses informasi berubah total, dari yang tadinya berasal dari kekuatan nara sumber, menjadi proses informasi yang dipengaruhi oleh kekuatan wacana.