pulsa-logo

Plus Minus TKDN


dian iskandar

Senin, 25 April 2016 • 11:25

plus, minus, tkdn


Per 1 Januari 2017 nanti, para vendor smartphone 4G LTE berbasis frequency-pision duplex (FDD) yang ingin masuk ke pasar Indonesia wajib memiliki nilai TKDN sebesar 30%. Beberapa nama seperti Asus, Vivo, Huawei, Asiafone, OPPO, Hisense, Samsung dan beberapa merek lokal, sudah memproduksi smartphone-nya di tanah air demi memenuhi peraturan itu.

Awalnya peraturan TKDN ini menggunakan satu opsi yaitu Manufaktur Perakitan dimulai dari TKDN 20%. Tapi sekarang, aturannya sedikit longgar. Pemerintah akhirnya menerapkan lima skema TKDN untuk bisa dicapai oleh para vendor.

Skema pertama, pembuatan hardware atau perangkat keras dengan TKDN sampai 100%. Kedua, pembuatan perangkat keras 75% dan perangkat lunak atau software 25%. Ketiga, pembuatan perangkat keras 25% dan perangkat lunak 75%. Skema keempat adalah masing-masing komponen lokal di perangkat lunak dan perangkat keras 50%. Skema terakhir, pembuatan perangkat lunak seluruhnya (100%) lokal.

Tapi ternyata tidak semua vendor setuju dengan skema itu. Samsung contohnya, menilai bahwa aturan TKDN yang lama tidak perlu diubah menjadi skema lima opsi penghitungan yang direncanakan, karena sudah sesuai dengan kemampuan teknologi Indonesia saat ini yang belum mampu menghasilkan piranti lunak (software) yang canggih.

Dikutip dari CNNIndonesia.com, Vice President PT Samsung Electronics Indonesia, Lee Kang Hyun mengatakan peraturan TKDN yang lama membuat produsen ponsel pintar mau tak mau membangun pabrik di Indonesia karena komponen manufaktur mengambil besaran mayoritas dalam formulasi TKDN. Hal itu menurutnya lebih penting dibandingkan sekadar investasi software yang memang lebih mudah.