pulsa-logo

Blackberry Akhirnya Lempar Handuk


Kurdi

Selasa, 11 Oktober 2016 • 15:00

Blackberry off, Blackberry lempar handuk, Blackberry bangkrut, Blackberry stop produksi, Blackberry indonesia


Baru-baru ini kabar mengejutkan mengenai Blackberry dilontarkan oleh sang CEO John Chen. Dia mengatakan bahwa, Blackberry tidak akan membuat smartphone yang mengandalkan sumber dayanya sendiri. Ke depan, Blackberry hanya akan mengandalkan perusahaan alih daya dalam membuat perangkat.

Ini sudah dibuktikan pada produk terbarunya yakni Blackberry DTEK50 dan DTEK60. Smartphone Android bermerek Blackberry itu adalah buatan TCL, pabrikan cina yang juga memproduksi smartphone Alcatel.

Blackberry DTEK50 merupakan smartphone yang mirip dengan Alcatel Idol 4. Baik dari disain maupun spek yang ditawarkan. Mungkin saja ke depan perangkat Blackberry di produksi oleh pabrikan lain. Bahkan, dengan terjalinnya kerjasama antara Blackberry dan perusahaan asal Indonesia PT BB Merah Putih, bakal muncul perangkat Blackberry ‘rasa’ Indonesia.

Kabar mengenai yang bakal meninggalkan produksi smartphone sudah berhembus mulai tahun lalu. Kala itu, John Chen mengatakan sebuah diskusi di California, Oktober silam, mengatakan bahwa bisnis ponsel pintar Blackberry tahun depan harus sudah meraih keuntungan."Jika tidak, saya harus mempertimbangkan lagi tentang nasib bisnis itu," kata Chen yang dilansir oleh Reuters.

Komentar Chen itu diutarakan setelah muncul laporan yang mengungkapkan bahwa perusahaan asal Kanada, yang sebelumnya menguasai bisnis ponsel pintar dunia, hanya menjual 800.000 unit ponsel pada kuartal kedua 2015.

Agar bisa menghasilkan untung, Chen menargetkan Blackberry menjual lima juta ponsel pertahun mulai 2016. Tapi sayangnya, angkat itu tak tercapai. Priv yang menjadi andalan Blackberry hanya terjual kurang dari 1 juta.

Merek Blackberry Tetap Ada


Blackberry tidak serta merta hengkang dari bisnis ponsel. Juga bukan berarti tidak ada lagi merek smartphone bermerek Blackberry. Seperti yang disebutkan di atas, produksi smartphone Blackberry akan dibuat oleh pihak ketiga. Perangkat terakhir yang dilahirkan oleh Blackberry adalah Priv.

Blackberry masih akan berperan dari sisi software. Kehandalan Blackberry dalam hal keamanan akan tetap menjadi tumpuan. Chen pun mengatakan bahwa saat ini perusahaan yang dipimpinnya fokus di segmen peranti lunak.

"Saya pikir pasar telah berbicara dan saya hanya mendengarkan," kata Chen dalam diskusi dengan wartawan. seperti yang dikutip dari Bloomberg.

"Anda harus berevolusi pada kekuatan Anda dan kekuatan kita sebenarnya ada di perangkat lunak dan keamanan,” lanjut Chen.

Chen berharap strategi baru akan meningkatkan margin dan benar-benar dapat meningkatkan jumlah ponsel merek BlackBerry yang dijual khususnya yang masih punya peluang yang cukup besar di pasar negara berkembang seperti Indonesia, Afrika Selatan dan Nigeria.

"Ini adalah cara bagi saya untuk memastikan merek BlackBerry masih ada di dalam perangkat," kata Chen.

Chen menambahkan  BlackBerry telah menjalin kerjasama perjanjian lisensi dengan perusahaan Indonesia untuk membuat dan mendistribusikan perangkat mereka, yakni PT BB Merah Putih.

Raksasa Lain yang Terjungkal

Blackberry bukan satu-satunya merek besar yang terjungkal pada persaingan smartphone dunia. Nama besar lainnya seperti Ericsson, Siemens dan Nokia juga akhirnya kandas. Sama halnya dengan Blackberry, Nokia pernah menjadi raja ponsel di Indonesia. Produk-produk unggulannya selalu ditunggu oleh para penggemarnya.

Tapi Nokia belum menyerah sepenuhnya. Perusahaan asal Finlandia itu santer dikabarkan bakal comeback pada awal 2017. Tapi dengan strategi yang berbeda tentunya.

Nokia sudah menekankan bahwa mereka tidak akan membuat perangkat secara mandiri. Smartphone Nokia nantinya akan dibuat oleh pihak yang tertarik untuk memasarkannya.  

Strategi ini sangat cocok dengan kondisi saat ini. Dimana para produsen tidak terlibat langsung dalam produksi masal. Seperti halnya yang dilakukan oleh Apple dan merek besar lainnya. Bedanya adalah, Apple tetap ikut terlibat dalam pemasaran produknya sedangkan Nokia tidak.

Nah, ini akan menjadi menarik ketika Blackberry dan Nokia akan kembali bersaing dengan strategi yang baru. Dan kabarnya, Blackberry yang nantinya diproduksi di Indonesia akan lebih murah. Pertanyaannya, apakah kedua mantan raksasa itu bisa menarik hati para penggemarnya yang kini beralih ke merek lain? (*)