pulsa-logo

Peta Persebaran Malware di Seluruh Dunia


Arief Burhanuddin

Rabu, 08 Februari 2017 • 21:38


Credit: Pete Linforth/PixabayCredit: Pete Linforth/Pixabay

Perusahaan keamanan internet Malwarebytes baru-baru ini merilis laporan bertajuk "State of Malware". Laporan ini merupakan hasil riset paruh kedua 2016 yang berisi tentang distribusi malware secara global.  

Laporan dari Malwarebytes ini didasarkan atas data yang dikumpulkan dari bulan Juni hingga November 2016. Data ini mencakup hampir satu miliar pendeteksian malware dari hampir satu juta konsumen dan perusahaan pengguna perangkat Windows dan Androidyang terdistribusi di lebih dari 200 negara.

Gambaran besar

Ada lebih banyak malware yang terdeteksi di Amerika Serikat dibanding di negara lain. Parahnya, berbagai kategori malware juga dipuncaki oleh malware yang berada di Amerika Serikat. Sebagai contoh, 68,85% dari malware yang masuk kategori penipuan iklan menyerang di Amerika Serikat. Satu-satunya kategori malware dimana Amerika serikat ‘tidak menjadi juara’ di dalamnya adalah kategori trojan perbankan dimana negara Turki mendapat serangan terbesar.

Untuk skala benua, Eropa menjadi pemimpin dunia dalam hal pendeteksian malware. Sedangkan Perancis, Inggris dan Spanyol adalah negara Eropa yang paling banyak terinfeksi malware.

Credit: Geralt/PixabayCredit: Geralt/Pixabay

Ransomware


Ransomware sendiri merupakan istilah untuk malware yang memiliki kemampuan tak hanya merusak tapi juga dapat 'menyandera' data Anda. Kebanyakan ransomware akan meminta tebusan supaya data Anda kembali. Bisa dalam bentuk uang tunai, atau uang digital seperti bitkoin dan sejenisnya

Eropa memimpin dalam dunia pendeteksian ransomware dengan keberhasilan menemukan 49% dari total ransomare yang berkeliaran di dunia. Namun jika ditelaah lebih dekat, terlihat bahwa target ransomware tidak selalu mengikuti pola global. Delapan puluh satu persen kasus ransomware terdeteksi menyerang perusahaan di Amerika Utara, sementara untuk serangan ransomware ke inpidu atau konsumen, 51% terjadi di Eropa.

Berikut adalah distribusi pendeteksian ransomware di seluruh benua. (Semua daftar dalam artikel ini diambil dari laporan Malwarebytes.)

  1. Eropa 49.26%
  2. Amerika Utara 32,51%
  3. Asia 9,84%
  4. Oceania 3,72%
  5. Amerika Selatan 3,67%
  6. Afrika 1,00%
  7. Antartika 0.00%

Berikut adalah 10 besar negara pendeteksi ransomware.

  1. Amerika Serikat 25,6%
  2. Jerman 16,2%
  3. Italia 4,6%
  4. Inggris Raya 3,7%
  5. France 3,7%
  6. Australia 3,2%
  7. Kanada 3,0%
  8. Spanyol 2,8%
  9. India 1,8%
  10. Austria 1,5%

Botnet

Botnet sebenarnya merupakan sekumpulan program yang saling terhubung melalui Internet yang berkomunikasi dengan program-program sejenis untuk melakukan tugas tertentu. Meski bisa digunakan secara positif, namun Botnet kini dipakai juga untuk mengirimkan surel spam, atau bahkan ikut serta dalam serangan DDos.

Android ransomware. Credit: MalwarebytesAndroid ransomware. Credit: Malwarebytes

Serangan DDoS (Distributed Denial of Service) pada bulan Oktober yang dapat  memutuskan hubungan antara url situs dan alamat server telah meningkatkan kesadaran masyarakat atas serangan botnet berbasis IOT di AS. serangan botnet mungkin tampak seperti ancaman baru bagi banyak orang Amerika Utara tetapi sebenarnya hal itu adalah berita lama bagi orang-orang yang tinggal di Asia.

Jika Amerika Utara ‘menderita’ serangan ransomware sebanyak sepertiga dari seluruh serangan ransomware dunia, maka untuk serangan botnet ini, mereka hanya menderita sekitar seperdelapan dari serangan botnet yang terdeteksi di seluruh dunia. Di sisi lain, Asia menjadi sasaran empuk botnet dengan mengalami sekitar 60% serangan botnet. Sedangkan untuk ransomare, hanya 10% dari total serangan global yang menyentuh Asia.

Berikut adalah distribusi deteksi botnet di seluruh benua.

  1. Asia 61,15%
  2. Eropa 14,97%
  3. Amerika Utara 12,49%
  4. Amerika Selatan 6.56%
  5. Afrika 4,32%
  6. Oceania 0,51%

Malware Android

Dari seluruh malware android yang dtemukan secara global, 31% terdeteksi di Eropa.  Jika dilihat per benua, Eropa tampaknya menjadi target utama malware, namun jika dilihat secara per negara, hasilnya tidak demikian. Dari 10 daftar negara yang paling sering mendapat sernagan malware, 4 diantaranya tidak muncul di daftar teratas yang terkena serangan ransomware. Malwarebytes mengungkapkan bahwa tingginya sernagan malware Android di Brasil, Indonesia, Filipina dan Meksiko adalah karena lazimnya penggunaan toko aplikasi pihak ketiga di luar Play Store.

Berikut adalah 10 besar negara deteksi dimana paling banyak terdeteksi malware Android.

  1. Amerika Serikat 12,74%
  2. Brasil 9,95%
  3. Indonesia 6.54%
  4. India 5,04%
  5. Spanyol 4,60%
  6. Filipina 4,25%
  7. Prancis 4,24%
  8. Mexico 3,87%
  9. United Kingdom 3,59%
  10. Italia 2,79%

Bagaimana dengan Rusia?

Penggunaan internet di Rusia telah meningkat pesat selama 10 tahun terakhir dan bahasa Rusia merupakan bahasa kedua yang paling sering digunakan di web setelah bahasa Inggris. Namun Rusia (yang termasuk negara Eropa) tidak muncul dalam top 10 daftar malware yang dilaporkan Malwarebytes.

Malwarebytes mencatat adanya Trojan perbankan yang populer di Rusia, tetapi mereka juga mencatat bahwa serangan ransomware - yang sejauh ini merupakan jenis yang malware paling populer – juga minim di Rusia.

Kesimpulan

Penting untuk diingat bahwa hampir satu miliar serangan malware yang menjadi dasar laporan Malwarebytes dideteksi oleh satu perusahaan selama periode enam bulan. Jumlah infeksi malware global untuk tahun ini kemungkinan akan lebih besar. Jadi, malware memang sudah menjadi masalah global

Arief Burhanuddin/ Sumber: Forbes