pulsa-logo

Anak-Anak dan Smartphone Kini Semakin Tak Terpisahkan


Arief Burhanuddin

Senin, 03 April 2017 • 15:17


foto: Digital Trendsfoto: Digital Trends

Coba diingat-ingat, berapa kali Anda melakukan selfie, memotret sesuatu dengan smartphone Anda dalam sehari? Ingat-ingat juga, berapa kali Anda melepaskan smartphone dalam genggaman Anda?

Apakah Anda terbiasa melihat orang-orang yang menenteng tas di bahu kiri sambil tangan kanannya memegang smartphone? Bagaimana dengan kebiasaan Anda membuka-buka smartphone saat menjelang tidur?

Kini, keintiman manusia dengan smartphone tak melulu didominasi oleh orang-orang dewasa. Anak-anakpun saat ini tak bisa lepas dari perangkat canggih ini.

Anda mungkin tak lagi sering melihat anak-anak bermain gundu atau yoyo lagi. Yang terjadi, Anda akan melihat anak-anak dengan khuyuk menatap layar smartphonenya saat berjalan-jalan di mal, atau bahkan di halaman rumah sendiri. Dua hasil studi dari Nielsen dan Common Sense setidaknya memperkuat kenyataan bahwa tak hanya kaum milenial, namun anak-anak juga sekarang tidak dapat dipisahkan dari smartphone.

Penelitian pertama yang bertajuk The State of Mobile telah dipaparkan oleh Nielsesn di ajang Mobile Wolrd Congress 2017 kemarin di Barcelona. Laporan Nielsen terbaru mengenai penggunaan ponsel oleh anak-anak tersebut melibatkan survei terhadap orang tua di Amerika yang memiliki anak berusia 6 hingga 12 tahun yang dilakukan pada kuartal kedua tahun lalu. Hal utama yang disurvei oleh Nielsen adalah ekbiasaan penggunaan smartphone oleh anak-anak mereka.

Dari Studi tersebut, terungkap bahwa hampir setengah dari anak-anak tersebut (tepatnya 45%), sudah mendapatkan layanan operator pada umur 10 hingga 12 tahun. Kebanyakan, mereka menerimanya pada umur 10 tahun  (22%) kemudian diikuti pada usia 8 tahun (16%), usia 9 dan 11 tahun (15%).

Pada rentang usia 6-12 tahun, anak laki-laki (56%) lebih banyak memiliki smartphone dibanding anak perempuan (44%).


Pada rentang usia 6-12 tahun, terbanyak memiliki smartphone pada usia 10 tahun yaitu sebesar 34%. Sebagian besar dari mereka (93%) menggunakannnya di rumah dan terhubung dnegan koneksi nirkabel milik orang tua mereka. 72% dari anak-anak tersebut menggunakan semua jenis layanan nirkabel termasuk layanan suara, pesan dan data.

90% orang tua menyatakan bahwa mereka mencegah anaknya untuk memiliki koneksi internet sendiri sebelum umur 13 tahun. Mereka beralasan melakukan hal itu agar supaya mereka tetap dapat terhubung dan berkomunikasi dengan anak-anaknya dan mentakakan akan memberikan akses nirkabel sendiri saat anak-anak memasuki SMP. 80% orangtua menyatakan bahwa tindakan untuk tidak memberikan akses layanan operator sendiri ke anak-anak sekaligus supaya mereka dapat melakukan tracking terhadap keberadaan anak-anak mereka.

Bagi anak-anak yang telah meiliki layanan operator sendiri di smartphone mereka, percakapan suara merupakan fitur yang paling jarang digunakan. Aktivitas utama mereka adalah chatting (81%), mengunduh aplikasi (59%), dan membuka website (53%).

Lalu apa yang menjadi perhatian orang tua saat anak-anaknya mulai memegang smartphone dan memiliki layanan operator sendiri?

Kebanyakan orang tua khawatir bahwa anak-anak akan mudah kehilangan smartphone mereka (77%). Sementara sebagain yang lain mengkhawatirkan kondisi psikologis anak-anak yang mudah terdistraksi (kurang konsentrasi) akibat penggunaan smartphone (72%).

Tak hanya itu, sebagian orang tua yang disurvei (71%)  juga cemas jika anak-anakaya nanti hanya akan menghabiskan sebagain besar waktunya dengan menatap dan mengutak-atik layar smartphone. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan mengingat enam puluh persen dari orang tua yang disurvei mengakui bahwa anak-anak mereka mulai merengek berulangkali dan meminta layanan nirkanle sendiri saat menjelang usia 13 tahun.

Sebagian orang tua berharap agar ada kontrol yang lebih baik, fitur keselamatan, dan juga fungsi-fungsi untuk membatasi konten yang tidak layak dikonsumsi anak-anak (55%).  Sebagian yang lain (48%) menginginkan kontrol penggunaan yang lebih baik dan fungsi pembatasan akses. Sementara yang lainnya berharap agar ada layanan operator yang lebih ramah terhadap anak-anak (34%).

Sejalan dengan Common Sense

Paparan Nielsen perihal interaksi anak-anak dengan smartphone ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Common Sense Media.

Dalam penelitian yang diterbitkan tahun lalu, Common Sense menemukan bahwa 50 persen anak-anak telah mengaku kecanduan dengan smartphone mereka. Selain itu, sebanyak 66 persen orang tua merasa bahwa anak-anak mereka terlalu banyak menggunakan perangkat mobile dan uniknya, 52% anak-anak mereka mengakuinya. Hampir 36 persen orang tua mengatakan bahwa mereka berargumen setiap hari dengan anak-anak gara-gara penggunaan smartphone.

“Perangkat mobile secara mendasar telah mengubah interaksi kehidupan keluarga sehari-hari, baik itu soal melakukan melakukan pekerjaan rumah, melakukan perjalanan, atau saat sekedar makan malam bersama,” kata James Steyer, pendiri dan CEO dari Common Sense. “Sebagai masyarakat kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengawasi penggunaan media dan mencegah adanya kecanduan yang serius. Pastikan orang tua juga memiliki informasi yang cukup untuk membuat pilihan cerdas bagi keluarga mereka.”

Sementara itu, Nielsen akhir Maret 2017 juga ini merilis rangkuman komprehensif dan lintas platform mengenai generasi milenial. Dan ya, -seperti sudah diduga-,  mereka juga cukup terganggu dan sering terpaku pada perangkat mobile mereka, sama seperti anak-anak dan orang tua lainnya saat ini!

Nielsen mencatat bahwa  generasi milenium sekarang merupakan kelompok generasi terbesar di AS dan telah tumbuh bersama kemajuan teknologi dan paltform media. Kebiasaan milenial dan interaksi dengan media telah menjadi suatu hal yang menarik. Contohnya ketika melihat televisi, mata mereka masih terpaku pada layar. Namun saat jeda iklan, mereka masih  tetap menyetel TV, namun mata mereka beralih ke smartphone.

@ariefburhan/berbagia sumber