pulsa-logo

BDD ( Bekraf Developer Day), Upaya Pemerintah Dorong Industri Game di Indonesia


Kurdi

Selasa, 25 Juli 2017 • 10:44


Menurut laporan yang dirilis oleh Unity yang bekerjasama dengan perusahaan analitik SuperData, penggunaan aplikasi game di Indonesia terus mengalami peningkatan secara signifikan.

Dari survei yang mereka lakukan tahun 2016 lalu, orang Indonesia sangat suka mengunduh dan menginstal game. Angkanya bahkan tiga kali lipat lebih banyak dibanding dengan Amerika Serikat, Meksiko, dan India.

Dari sisi uang yang dibelanjakan pun, Orang Indonesia ternyata tidak ‘pelit-pelit amat.’ Masih menurut SuperData, jumlah konsumen Indonesia yang membayar untuk game ternyata lima puluh persen lebih tinggi dibanding negara India. Bahkan jika dibandingkan rata-rata dengan konsumen normal di seluruh dunia, konsumen game mobile Indonesia membeli game hampir dua kali lipat.

Angka-angka di atas ternyata tidak hanya berlaku di ranah game mobile, namun juga bisa jadi cerminan industri kreatif Indonesia secara umum, termasuk aplikasi.

Ketua Asosiasi Game Indonesia, Narendra menuturkan bahwa tahun 2017 ini nilai market game di Indonesia diprediksi akan mencapai 880 juta dolar AS (seiktar 11,7 Triliun rupiah) atau meningkat 50 persen dari tahun lalu.

Meski demikian, angka tersebut tidak serta merta dinikmati oleh kebanyakan pengembang game lokal. Narendra memperkirakan bahwa pengembang game asal Indonesia hanya mencicipi 3 persen dari nilai total itu. “Soal market share saya tidak punya data yang valid, tapi diperkirakan sekitar 3 persen,” kata Narendra.


Upaya Pemerintah

Banyak upaya dilakukan pemerintah guna mendorong tumbuhnya industri kreatif terutama industri game dan aplikasi. Selain menyediakan berbagai fasilitas dan training untuk pengembang, pemerintah melalui BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) juga menggelar berbagai event untuk lebih mengasah kemampuan para pengembang game dan aplikasi lokal. 

Salah satu contoh ajang yang digagas oleh BEKRAF adalah Bekraf Developer Day (BDD).

Acara yang berlangsung di Palembang 10 Juli kemarin ditujukan untuk merangkul para pegiat di industri kreatif terutama yang berkaitan dengan pengembangan aplikasi dan game. Ini merupakan serangkaian program Bekraf guna menggali potensi para developer lokal dimana saat ini Palembang dipilih menjadi kota kelima diselenggarakannya BDD. Sebelumnya BEKRAF telah menggelar acara serupa di Surabaya, Solo, Bali, dan kota-kota besar lainnya. 

Di Palembang sendiri, ajang ini disambut baik oleh para peserta yang terdiri dari mahasiswa, pengembang aplikasi lokal perseorangan maupun perusahaan. Lebih dari 500 peserta mengikuti program ini. BDD menggandeng nara sumber dari para pelaku industry kreatif kaliber dunia seperti Google, Samsung, Microsoft juga IBM dan operator selular seperi Indosat dan XL.

Serangkaian kegiatan di Developer Day disiapkan untuk membantu para developer lokal mengetahui seluk beluk industri kreatif sebelum mereka terjun menjadi pebisnis. Diantara kegiatan tersebut, para mendapat pelatihan yang bersifat pebekalan dengan tujuan membantu para pelaku industry kreatif dalam menghadapi kendala yang ada.

Setidaknya ada 6 Deputi dengan masing-masing tugas yang disiapkan oleh Bekraf untuk para developer pemula, diantaranya; Bidang Permodalan, Infrastruktur, Promosi, HaKI dan Regulasi, Riset dan Pengembangan dan Hubungan Lembaga dan Wilayah.

Untuk bantuan HaKi misalnya, Bekraf akan membantu para developer baru baik perseorangan maupun perusahaan untuk mendaftarkan hak cipta produknya dengan gratis. Hak cipta tersebut bisa didaftarkan lewat aplikasi Biima yang bisa diunduh di Google Play Store.

Ajang BBD ini diharapkan bisa menumbuhkan para developer yang bisa mengangkat kearifan lokal dalam bentuk digital. Hal ini disampaikan Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungari.  Menurut Hari, developer yang baik adalah bisa membuat solusi terhadap masalah-masalah di sekitar kita.

Tanggapan Pengembang

Sejalan dengan ajang BDD yang digagas BEKRAF, Asosiasi Game Indonesia menyambut baik kegiatan tersebut. Diharapkan dengan adanya BDD bisa menciptakan pengembang-pengembang game baru. ”Kita ingin bisa lebih banyak orang atau developer yang membuat game, kualitasnya meningkat dan ujung-ujungnya market share lokal juga meningkat,” kata Narendra Wicaksono ketua Asosiasi Game Indonesia.

Tantangan bagi para pemain di industri game adalah selera para gamer yang makin tinggi. “Taste pemain game kita sudah tinggi, jadi para developer juga harus membuat game yang kualitasnya juga bagus, karena game yang dari luar kan masuknya banyak dan bagus-bagus dan gak ada filter juga kan dari government (Pemerintah-red) untuk memproteksi,” Imbuh Narendra.

“Industri game bukan seperti mengimpor semen (barang jadi-red) yang bisa mudah dicegah di pelabuhan. Menurutnya, kanal game sangat mudah diakses lewat web. Dunia digital yang serba seamless kini membuat game-game asal luar negeri bisa dengan mudah didapat.” Tambah Narendra.

Untuk bisa bersaing, menurut Narendra, para pengembang game setidaknya perlu melakukan tiga hal yaitu meningkatkan kualitas, promosi serta dukungan dari investor.  “Game Indonesia itu sudah ada yang menembus pasar Internasional. Ada yang sudah mencapai 20 juta download,” Papar Narendra.

(Dian Iskandar/Arief Burhanuddin)