pulsa-logo

2017, Tahun Kinclong Xiaomi?


Kurdi

Selasa, 25 Juli 2017 • 13:07

pasar xiaomi, xiaomi roxi, itc roxi


Tahun lalu, kinerja pabrikan smartphone asal Cina sangat mengesankan dimana Huawei, Vivo dan Oppo tercatat sebagai pabrikan yang masuk lima besar dunia. Tapi sayangnya, Xiaomi tidak masuk dalam rombongan itu.

Xiaomi pun enggan menungungkapkan berapa jumlah penjualan mereka di 2016. Intinya, 2016 lalu mereka tidak bisa mempertahankan tradisi pertumbuhan penjualan yang fantastis. Padahal, perusahaan yang didirikan oleh Lei Jun itu memasang target 100 juta unit pada tahun lalu yang akhirnya direvisi menjadi 80 juta unit.

Menurut laporan beberpa analis menyimpulkan bahwa 2016 bukan tahun untuk pertumbuhan Xiaomi. Mereka terseok-seok di negerinya sendiri dan dan bertahan di India sebagai pasar utamanya, tidak ada akselerasi yang hebat seperti di tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, penjualan melonjak dari 7,2 juta pada 2012 menjadi 18,7 juta pada 2013 dan 61 juta pada 2014.

Tapi rupanya Xiaomi cepat sadar. Bahwa hanya dengan menjual perangkatnya secara online tidak bisa meningkatkan kinerja perusahaan. Sementara, taktik flash sale juga telah banyak dicontek oleh para pemain-pemain baru. Nah, akhirnya satu-satunya jalan adalah dengan membangun toko fisik. Dan ini terbukti sukses.

Menurut sebuah laporan dari media asal Taiwan, kuartal kedua (Maret – Juni ) Xiaomi berhasil meningkatkan pengiriman smartphone sebesar 70% dibanding kuartal sebelumnya. Pada kuartal tersebut Xiaomi berhasil menjual 23,16 juta unit di Q2 dan sang CEO pun optimis bisa  mengantongi pendapatan 14,7 miliar dolar AS pada akhir tahun ini.

Ini merupakan sukses Xiaomi ketika mereka mulai merambah pada penjualan melalui ritel fisik, sebagian besar melalui 123 toko Mi Home di China, sementara Xiaomi juga berencana untuk membuka beberapa toko lagi di negara lain. Meskipun demikian, penjualan online di JD.com, Tmall and Suning juga berkontribusi pada jumlah yang banyak pada kuartal kedua ini.


Bisnis Xiaomi telah tumbuh pesat di India, salah satu target pasar utamanya, dengan pendapatan di negara tersebut melonjak 328% dari tahun ke tahun. Nah, berita menggembirakan ini membuat Xiaomi untuk membuka 100 toko lagi dalam dua tahun ke depan.April lalu sempat beredar kabar bahwa Xiaomi akan memasuki pasar Amerika Serikat (AS). Namun, perlu dicatat bahwa belum ada konfirmasi resmi yang menegaskan hal itu.

Mungkin bukan di AS, tapi bisa juga Meksiko.

Perluasan pasar akan terus dikejar oleh Xiaomi termasuk di Indonesia, Rusia dan Ukraina, yang sebagai bagian pertumbuhannya terus berlanjut.

Masalahnya, dengan perubahan strategi ini, apakah Xiaomi bisa terus menjual produknya dengan harga yang lebih murah. Berbeda dengan strategi penjualan online, penjualan lewat toko fisik memiliki konsekuensi terhadap biaya operasional toko dan biaya distrubusi. Dan tentu ini akan berakibat pada harga jual produk Xiaomi.

Nah, kabarnya, Xiaomi tengah menyiapkan produk khusus untuk dijual secara offline. Ponsel ini memiliki rangkaian ponsel baru untuk diluncurkan di samping jajaran Mi dan Redmi. Mereka dikatakan lebih fokus pada desain, daripada berasal dari cetak biru "fitur dengan value for money" yang sama.

Sejalan dengan itu, Xiaomi juga dikabarkan akan meluncurkan sub-brand baru yang akan mendampingi Redmi dan Mi. Sub-brand Redmi dan Mi sangat terkenal, sangat sukses tak hanya di Cina bahkan di Asia. Namun menurut rumor terbaru, Xiaomi tak ingin berpuas diri dengan hal tersebut. Kabarnya produk pertama mereka dari merek baru ini pada akhir bulan Juli 2017 nanti.

Kabarnya, smartphone pertama dari sub-merek ketiga dari Xiaomi ini akan dilengkapi dengan dual kamera di bagian belakangnya yang dilengkapi dengan LED flash ganda dan desain garis antena U yang membentang dari sudut kiri ke atas, membuatnya terlihat hampir identik dengan model OnePlus 5.

Menurut rumor tersebut, semua ponsel dari sub-brand baru ini kemungkinan besar akan dijual secara offline dan Xiaomi telah memperluas toko Mi Home-nya untuk memudahkan penjualan dan distribusi dari smartphone-nya tersebut.

Sementara itu, ada pihak yang memprediksi bahwa nantinya Xiaomi akan meluncurkan smartphone baru ini dengan sistem penjualan cepat (flash sale) dalam beberapa jam, dilengkapi dengan layar lapang, kinerjanya didukung oleh chipset Snapdragon 8xx (seri chipset-nya masih belum diketahui)  dan baterai berkapasitas daya 4.000mAh.

Sayangnya, Xiaomi masih enggan untuk memberikan informasi terkait dengan apa nama sub-brand dan smartphone perdana apa yang nantinya akan dirilis di bawah brand tersebut.

Bersaing dengan Oppo dan Vivo

Beberapa media teknologi menyebutkan langkap Xiaomi menyiapkan strategi perluasan toko fisik dan sub-brand baru merupakan cara untuk bisa menyaingi Oppo dan Vivo. Mungkin karena pasar yang disasar oleh Xiaomi tak jauh berbeda dengan Oppo dan Vivo yang masih fokus di pasar Asia.

Tentu saja ini akan menarik, mengingat Oppo, terutama, sudah sangat kuat menancapkan ‘kukunya’ di beberapa pasar, salah-satunya di Indonesia.  Selain itu, prestasi Oppo juga terus berlanjut.  Data dari Strategy Analytics seperti yang pernah dimuat oleh 9to5google.com pada 10 Mei lalu menyebutkan bahwa, Oppo berhasil menggeser posisi smartphone Samsung selama kuartal pertama 2017.

Oppo berada di peringkat # 3 secara global dengan smartphone R9s-nya. Sementara iPhone 7 menjadi smartphone terlaris pada kuartal yang sama meskipun mengalami penurunan penjualan selama setahun.

Menurut penelitian tersebut, Apple mengirimkan 21,5 juta model iPhone 7 selama kuartal pertama tahun ini sementara iPhone 7 Plus yang pricier terdiri dari 17,4 juta unit. Secara keseluruhan, Strategy Analytics mengatakan 353,3 juta smartphone terjual pada Q1 2017 yang sedikit naik dari 333,1 juta di kuartal yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, posisi Oppo pada kuartal pertama tahun ini ada di peringkat ketiga setelah Apple dan Samsung. Dan ini cukup mengejutkan. (*)

Isk/berbagai sumber