pulsa-logo

Kerasnya Vendor Lokal Membendung Merek Cina


dian iskandar

Kamis, 03 Agustus 2017 • 16:54

pasar smartphone, smartphone lokal, smartphone cina,


Keberadaan smartphone merek lokal di Indonesia hanya menyisakan merek-merek mapan yang jumlahnya kini semakin surut. Menurut pengamatan PULSA, merek lokal yang kini masih konsisten adalah Advan, Polytron dan Evercoss.  Ketiga merek ini masih meng-update produk-produknya terutama smartphone.

Sebetulnya masih ada beberapa merek lain yang masih eksis, tapi mereka sangat jarang melakukan peluncuran produk terbaru dalam skala yang lebih luas. Beberapa produknya bahkan masih ada yang tergolong feature phone.

Rontoknya para pemain lokal ini tidak lepas dari serbuan merek asal Cina yang sangat agresif meraup pangsa pasar ponsel di Indonesia. Mereka juga dibekali dengan modal besar sehingga bisa dengan mudah “menggilas” para kompetitornya.  Promosi yang gencar dengan promotor yang jumlahnya ribuan menjadikan brand asal Cina ini mudah dikenali dan memikat konsumen.

Jika dilihat dari profil pengiriman smartphone di Indonesia, International Data Corporation (IDC) mencapat bahwa pada triwulan pertama 2017 (Januari-Maret), ada 7,3 juta unit perangkat, naik 13% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dan dan mengalami penurunan 15% dari kuartal sebelumnya. Menurut IDC, vendor smartphone top-5 pada triwulan pertama 2017 dipegang oleh Samsung, OPPO, Asus, Advan, dan Lenovo (termasuk Motorola).

Menurut Risky Febrian, Associate Market Analyst, Indonesia Client Devices dalam Press Release yang diunggah di laman IDC.com mengatakan, "Pasar smartphone di Indonesia seperti yang kita ketahui telah berubah (dimana) vendor yang berbasis di China menjadi lebih agresif dengan strategi mereka, tidak hanya dengan lini produk mereka tapi juga keseluruhan rencana dan aktivitas pemasaran mereka. Inisiatif mereka dengan uang yang melimpah telah membuat para (pemian) lokal berjuang untuk bersaing di pasar dengan sumber daya mereka yang terbatas. Sementara itu Samsung telah mengubah strateginya untuk menangkis persaingan dan mempertahankan kepemimpinan pasar, ".

Di Cina sendiri, merek-merek seperti Huawei, Oppo dan Vivo sudah terbukti bisa menggeser posisi pemain global sekelas Apple dan Samsung. Huawei, kini dikabarkan tengah menuju sukses, terutama jika mengacu pada laporan terbaru yang diterbitkan oleh perusahaan riset Canalys, mengenai pengiriman smartphone di Cina untuk kuartal kedua tahun ini.

Menurut laporan tersebut, Huawei mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di dalam negerinya dengan pengiriman sebanyak 23 juta unit smartphone pada triwulan kedua 2017 . Kemudian diikuti oleh Oppo berada di posisi kedua dengan 21 juta unit smartphone, meningkat 37% dari tahun ke tahun jika dibandingkan dengan tahun 2016. Dan Vivo menempati posisi ketiga dengan 16 juta pengiriman smartphone  antara bulan April dan Juni 2017.


Begitu juga dengan Xiaomi. Perusahaan yang dikomandoi oleh Lei Jun itu mencetak  angka pengiriman 15 juta unit pada periode tersebut. Namun angka ini sudah cukup untuk  melampaui angka pengiriman  Apple. Dan menempatkan Xiaomi di posisi ke-4, dengan peningkatan pengiriman smartphone yang naik sekitar  60% di pasar Cina bila dibandingkan dengan tahun lalu.

Bersaing harga

Tampilnya para vendor asal Cina dalam tiga besar pemegang pangsa pasar di tanah air tidak dipungkiri berkat strategi yang mencakup semua aspek pemasaran. Jika diperhatikan, baik di pinggir jalan atau etalase-etalase toko di pusat perdagangan ponsel, mereka akan sangat mudah ditemukan. Iklan TV, media cetak sampai duta-duta produk juga dipekerjakan. Belum lagi masih dibantu oleh para promotor yang sangat ramah menyapa calon pembeli.

Nah, kondisi ini yang menjadikan vendor lokal tidak punya pilihan lain selain harus memutar otak. Vendor lokal, yang berjuang untuk bersaing dalam skala seperti itu telah menemukan alternatif lain seperti meluncurkan aplikasi in-house mereka, memperkenalkan smartphone dengan harga bersaing dengan spesifikasi serupa dan lebih fokus pada kota provinsi dan daerah.

Menurut IDC dalam Press Release-nya (19/7), di antara vendor yang berbasis di China, OPPO dan Vivo adalah merek yang paling menonjol di pasar Indonesia. Mereka bersaing dalam ruang dengan inisiatif pemasaran mereka, dan juga memberi insentif dan margin yang menarik bagi mitra saluran mereka, serta layanan pasca-penjualan yang disempurnakan untuk mengatasi stigma negatif dari smartphone asal Cina. Ini telah menetapkan standar baru bagi beberapa vendor global dan lokal yang berebut untuk menambahkan lebih banyak kegiatan pemasaran mereka agar sesuai dengan standar persaingan yang baru.

Selanjutnya, vendor asal Cina telah memposisikan diri dengan baik di segmen mid-range dengan harga jual  antara 200 – 400 dolar AS (Rp2 - 5 jutaan). Karena kurangnya ekuitas merek, upaya vendor lokal untuk mengejar tidak berhasil, sehingga mereka harus terus bermain di segmen low-end < 200 dolar AS (di bawah Rp2,5 jutaan).

Meski demikian, hal ini tidak mengurangi usaha vendor lokal untuk mendapatkan kembali pangsa pasar smartphone karena mereka berusaha memberikan layanan bernilai tambah lebih banyak seperti Advan yang mengembangkan varian antarmuka pengguna Android sendiri yang disebut IdOS, Polytron dengan varian antarmuka pengguna Android-nya sendiri yang disebut FiraOS, dan Evercross bermitra dengan Foxconn untuk mengembangkan smartphone seri "Luna" mereka, sebuah re-branding lengkap dari Evercoss yang dipersenjatai dengan lebih banyak fitur dan pengembangan yang lebih baik ditujukan untuk pengguna mid-range yang sedang berkembang.

"Di masa mendatang, persaingan akan semakin meningkat di segmen mid-range dengan BlackBerry (via BB Merah Putih) dan masuk kembali Xiaomi di triwulan pertama 2017, diikuti oleh Nokia yang diperkirakan segera masuk. Sementara fitur dan inovasi teknologi sangat penting untuk mempertahankan pertumbuhan jangka panjang, beberapa vendor lokal akan terus melakukan upaya untuk melokalkan penawaran produk dan layanan mereka untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi spesifik orang Indonesia, seperti yang telah kita lihat dengan smartphone Advan yang dilengkapi dengan aplikasi yang dikembangkan secara lokal Seperti Panduan Muslim untuk Ramadhan, "Ujar Risky.

Dari data yang dihimpun oleh IDC pada triwulan pertama 2017, posisi vendor lokal ada diurutan paling buncit dengan kontribusi 17%.  Sementara,pada 2015 di triwulan yang sama, posisinya masih ada 34 % dan pada saat itu juga, vendor asal Cina baru meraup 12% pangsa pasar berdasarkan pengiriman. Pangsa pasar vendor Cina muai mengalahkan pemain lokal di 2016 (triwulan pertama) dengan 23 % vs 20 persen yang dikantongi oleh pemain lokal.

Peta persaingan akan sangat mungkin berubah, sebab di pasar tanah air, Xiaomi juga punya penggemar yang tak bisa dibilang sedikit. Sayangnya, produk-produk Xiaomi masih di dominasi dengan barang-barang yang masuk lewat jalur tak resmi. Padahal, Xiaomi sendiri telah menggandeng mitra lokal untuk memproduksi perangkatnya di dalam negeri guna memenuhi Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri (TKDN). Tapi, permintaan yang besar tersebut, tidak bisa diantisipasi, sebab, jika dibandingkan dengan tipe yang beredar via jalur ‘haram’, masih lebih banyak ketimbang yang resmi. (*)

Isk/berbagai sumber