pulsa-logo

Indonesia Akan Jadi Ladang Perang Industri Game Selanjutnya


Kurdi

Jum'at, 04 Agustus 2017 • 13:25

game Indonesia, Industri Game,


Industi game dan kreatif Indonesia berkembang sedemikian pesat. Namun demikian, tak banyak yang mengetahui hal tersebut kecuali orang-orang yang memang berkecimpung di dalamnya.

Berdasarkan data riset Newzoo, pasar game Indonesia terhitung menjanjikan, pada tahun 2015 industri ini telah mencetak pendapatan US$321 juta dan naik secara cepat menjadi US$704 juta pada akhir 2016.

Tahun ini sendiri, sepanjang semester awal 2017 pasar game Indonesia sudah hampir menyentuh angka $900 juta dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) naik 200% setiap tahunnya dari tahun 2015 dan menjadikannya tertinggi di dunia! CAGR sendiri dianggap menjadi pengukuran yang lebih relevan dalam dunia ekonomi kreatif di negara-negara maju.

Namun angka-angka tersebut menjadi ironi jika melirik berapa persen porsi kue yang bisa dinikmati oleh talenta dalam negeri. Ternyata  hanya 1% saja dari nilai diatas yang bisa dinikmati oleh pengembang lokal. Faktor-faktor seperti kualitas kemampuan sumber daya manusia, daya saing industri hingga skema program dan target Pemerintah yang masih berada di wilayah abu-abu terutama untuk industri game Indonesia berpengaruh besar atas terciptanya kondisi ini.

Ivan Chen, Founder dan Kepala Bidang Games CAKRA mengungkapkan “Secara kapabilitas kita tertinggal cukup jauh dari negara lain, kami mengamati perkembangan beberapa tahun terakhir ini dan menyadari Indonesia memiliki potensi luar biasa besar di industri game, diharapkan dengan berjalannya program 1000 IP pengembang lokal mampu menguasai tidak hanya pasar Indonesia namun juga mendapat akses ke pasar global”


Soal potensi industri game ini sebenarnya juga sejalan dengan pernyataan Jessie

Boonyawattanapisut, Chairwoman and CEO True Axion Interactive. “Asia Tenggara akan menjadi battleground berikutnya di peta industri video game”

CAKRA (Cipta Kreasi Indonesia)  sendiri merupakan Asosiasi Industri Kreatif di Indonesia sedangkan  True Axion Interactive (Akademi & Studio) merupakan Joint Venture antara True Corporation dan Axion Games yang akan melakukan transfer pengetahuan dan keahlian Axion Games ke Asia Tenggara.  Baru-baru ini CAKRA menginisiasi kerjasama dengan True Axion Interactive (Akademi & Studio) untuk meningkatkan daya saing dan kompetensi pengembang-pengembang lokal hingga mampu berbicara di kancah nasional maupun global.

Axion Games sendiri telah menjadi pilihan outsourcing untuk nama-nama besar Pengembang Game global seperti EA, Blizzard hingga Activision dan sukses menghasilkan berbagai IP (intellectual properties) yang mendunia seperti Fat Princess yang menjadi “No.1 Seller on PS3” beberapa tahun lalu hingga yang terbaru “Rising Fire” dibawah lisensi Tencent dan ditargetkan mampu menghasilkan pendapatan USS400 Juta per tahun hanya dari pasar China.

Pasar Industri game pada tahun 2017 diperkirakan akan mencapai pendapatan global sebesar US$106.700 (seratus enam ribu tujuh ratus) juta, jauh lebih besar dibandingkan gabungan pendapatan gabungan musik dan film yang lebih dekat dengan masyarakat umum.

Data Industri Game Global

  • Pendapatan industri game global sepanjang 2016 tercatat sebesar US$99,600,000 Juta (US$ 99.6 Milyar) dengan didominasi Asia Pasifik yang mencakup 47% market share diikuti Amerika Utara dengan 25% market share serta Eropa, Timur Tengah dan Afrika sebesar 24% market share
  • China menjadi negara dengan pendapatan game tertinggi dan mencatat angka US$ 24,368.8 juta yang berasal dari 788.8 juta populasi online mereka.
  • Posisi China di puncak dibayangi oleh USA dan Jepang yang masing-masing  mencetak US$ 23,598.4 juta dan US$ 12,447.6 juta dengan populasi online masing-masing sebanyak 293.6 juta dan 117.6 juta.
  • Pasar Asia Tenggara sendiri memiliki 189.3 juta pengguna potensial untuk pasar mobile game. Dengan pendapatan game sebesar US$1,570,000 Juta (US$1.57 Milyar) dan pertumbuhan CAGR +28.8% di tahun 2015.

Data Industri Game Indonesia.

  • Dari 255.7 Juta populasi di Indonesia,66 juta diantaranya merupakan populasi online (hanya 21% dari total populasi yang menandakan besarnya potensi yang belum dimanfaatkan) 42.8 juta merupakan gamers dan 56% mengeluarkan dana untuk melakukan pembelian games online.
  • Dari semua subsektor kreatif Indonesia, Industri game mencetak Compound Annual Growth Rate (CAGR) tertinggi hingga 200%setiap tahunnya.
  • Pendapatan industri game di Indonesia pada tahun 2015  sebesar US$321 juta, 2016 sebesar US$704 juta dan telah membukukanUS$ 879.7 juta sepanjang semester pertama 2017 – apabila dilakukan perbandingan data Pendapatan Game : Populasi Online antara Indonesia dan USA maka diperoleh angka 1:10 vs 1:80 ini menandakan ruang untuk tumbuh bagi Industri Game Indonesia masih luar biasa besar.
  • Pada Tahun 2016 Indonesia berada pada urutan ke 17 dari 20 top Negara dengan pendapatan game tertinggi di dunia dan no 1 di Asia Tenggara.
  • Namun dari besarnya pasar game di Indonesia, market share yang dikuasai oleh pengembang lokal hanya kurang dari 1% dan 99% lebih lainnya dikuasai oleh asing.

@ariefburhan/ berbagai sumber