pulsa-logo

Periode Juli September, Siapa Penguasa Smartphone di Indonesia?


dian iskandar

Kamis, 07 Desember 2017 • 14:18


Tabloid PULSA edisi lalu mengupas positioning para pabrikan smartphone di kancah global untuk periode triwulan ketiga 2017. Dari data yang diungkap oleh International Data Corporation (IDC), posisi teratas masih di duduki oleh sang raksasa teknologi asal negeri gingseng Samsung.

Selanjutnya diikuti oleh Apple di posisi kedua, Huawei di posisi ketiga, Oppo di posisi keempat dan Xiaomi bertengger di posisi kelima. Sedikit perubahan dari periode yang sama dimana Xiaomi berhasil masuk kembali sebagai Top 5 pabrikan terbesar di dunia menggeser posisi Vivo.

Xiaomi berhasil merangsek ke posisi lima terutama di topang oleh pasar Cina dan India. Produk-produk besutan Xiaomi yang menjadi jagoan di India diantaranya Redmi Note 4, Redmi 4 dan Redmi 4A. Di India, pada periode tersebut, Xiaomi berhasil mencetak angka 9,2 juta pengiriman.

Menurut catatan IDC, total pengiriman smartphone global mencapai 373,1 juta, naik 2,7 persen dari 363,4 juta unit yang di capai pada triwulan yang sama tahun lalu. Lalu bagaimana dengan kondisi pasar smartphone di Indonesia?

Ada sedikit perbedaan mengenai posisi Top 5 pabrikan smartphone antara di Indonesia dengan global. Ini karena Apple pemegang posisi kedua di pasar global, belum pernah merasakan menjadi bagian dari lima besar pabrikan smartphone di Indonesia. Begitu juga dengan Huawei. Meski di dalam negerinya posisi Huawei sangat kuat, bahkan juga di Eropa, tapi di Indonesia pabrikan berlogo bunga lili merah itu belum bisa menyaingi pabrikan lain yang sama-sama berasal dari Tiongkok, seperti Oppo dan Vivo.

Dari data IDC tersebut pada triwulan ketiga (Juli-September) 2017, pasar smartphone Indonesia mencatat 7,2 juta pengiriman smartphone. Angka ini berarti terjadi penurunan 8,6% dibanding triwulan sebelumnya dan 1,1% jika dibanding triwulan yang sama tahun lalu.


Yang menarik adalah, harga jual rata-rata smartphone, naik menjadi 193 dolar AS atau setara Rp2,5 jutaan. Peningkatan yang tajam sekitar 9% dari triwulan sebelumnya dan 31% dibandingkan tahun lalu. Menurut IDC, hal itu dipengaruhi oleh model smartphone populer dari Samsung dan OPPO yang berada pada titik harga lebih tinggi dari sebelumnya.

"Terlepas dari perlambatan aktivitas ritel musiman setelah periode Lebaran yang meriah di triwulan kedua 2017, beberapa perusahaan smartphone mengambil kesempatan untuk menghabiskan stok mereka dari kuartal tersebut untuk menyiapkan serangkaian model baru yang akan diluncurkan pada triwulan keempat 2017, dan ketika aktivitas ritel diperkirakan akan menambil lagi," kata Risky Febrian, Analis Pasar Associate, IDC Indonesia seperti dikutip dari laman resmi IDC.

Brand Lokal Masih Kuat

Ditengah gempuran produk dari pabrikan Tiongkok, nyatanya smartphone merek asli Indonesia masih bisa menoreh hasil baik. Ya, Advan pada triwulan ketiga tahun ini masih bisa masuk lima besar pabrikan smartphone di Indonesia. Advan menduduki posisi ketiga di atas Vivo dan Xiaomi yang masing-masing menempati posisi keempat dan kelima.

Hingga saat ini, Advan tetap bisa menjaga pasar di level harga menengah ke bawah. Menurut Direktur Marketing Advan Tjandra Lianto yang sempat kami wawancarai beberapa waktu lalu, produk Advan yang memiliki penjualan terbanyak adalah yang berada di level harga kurang dari Rp1 juta.

Meski demikian, Advan punya beberapa produk dengan berbagai segmentasi. Produk terbarunya yakni Advan A8, merupakan seri middle end dengan level harga Rp 3 juta pada waktu peluncurannya. Produk tersebut merupakan jawaban Advan untuk bisa mengikuti trend fitur dual kamera yang saat ini sedang booming di Indonesia.

Advan juga berupaya tampil beda dengan meningkatkan ekosistem IdOS-nya serta memperkenalkan fitur keamanan seperti "Xlocker" dan "Privacy Protector" yang unik. Selain smartphone, hingga saat ini Advan dikenal sebagai merek tablet paling populer di Indonesia.

Didominasi merek asal Cina

Tiga dari lima smartphone teratas dipegang oleh pabrikan asal Cina. Kali ini Xiaomi berhasil masuk ke posisi lima besar. Ini merupakan keberhasilan Xiaomi dalam tahun pertamanya setelah memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), aturan wajib bagi mereka yang ingin memasarkan produk smartphone 4G di Indonesia.

Produk pertama Xiaomi yang ‘lahir’ di Indonesia adalah Redmi 4A pada Februari lalu. Perangkat ini diproduksi oleh PT Sat Nusapersada di Batam, Kepulauan Riau. Ponsel 4G pertama Xiaomi di Indonesia ini dijual seharga Rp 1.499.000 dan didistribusikan oleh mitra Xiaomi, PT Erajaya Swasembada Tbk (Erajaya).

Sebelum Xiaomi resmi memenuhi TKDN, produk-produknya memang sudah sangat dikenal di Indonesia. Masalahnya, sebelum Xiaomi merakit produknya di Indonesia, banyak produk Xiaomi yang masuk secara illegal. Dan tentu saja ini tidak isa dijadikan patokan oleh lembaga riset pasar. Nah, begitu produk resmi Xiaomi mudah didapat, prestasinya pun langsung terlihat.

Apalagi, harga jual Xiaomi resmi dengan barang illegal kini tak terpaut jauh. Sehingga konsumen lebih memilih produk bergaransi resmi. Produk terbaru Xiaomi yakni Mi A1 juga disambut baik oleh pasar. Jadi wajar jika Xiaomi mampu merangsek ke posisi kelima merek smartphone di Indonesia.

Pabrikan asal Cina lainnya adalah Oppo dan Vivo. Kedua merek ini masih konsisten memasarkan produk yang mengunggulkan fitur selfie kamera. Keduanya juga dikenal sebagai merek yang sangat aktif menggunakan berbagai strategi pemasaran. Alhasil, posisi Oppo dan Vivo nyaris tak tergoyahkan sebagai 5 besar merek smartphone di Indonesia.

Meski demikian, posisi sang pemimpin pasar tetap tak tergoyahkan. Samsung masih nyaman di posisi teratas dengan mengantungi 30 persen pangsa pasar. Ini berkat antisipasi Samsung yang menggelontorkan begitu banyak smartphone kelas menengah.

IDC menuturkan bahwa kamera ganda dan fitur layar tipis/bezel-less mendorong pertumbuhan segmen midrange. Dan kini hampir semua pabrikan ikut dalam tren tersebut. Fitur-fitur ini, yang biasanya ditemukan secara eksklusif pada perangkat kelas atas seperti Galaxy S8.