pulsa-logo

Menebak Masa Depan Platform Android


dian iskandar

Senin, 29 Januari 2018 • 16:19

android os, android, android oreo


Android Version (Sumber:digitspeak)Android Version (Sumber:digitspeak)

Sejak diakuisisi Google, Android menjelma menjadi sistem operasi nomor satu di dunia. Bahkan sejak 2017 lalu, popularitas Android berhasil mengalahkan sistem operasi Windows  OS untuk gabungan dari semua perangkat komputasi berdasarkan pengguna yang mengakses internet.

Keterbukaan sistem operasi Android terbukti ampuh membawa Android dengan mudah diterima oleh para pengguna maupun mitra pabrikan yang menggunakan OS besutan Google ini. Android juga menjadi pilihan bagi perusahaan teknologi yang menginginkan sistem operasi berbiaya rendah, bisa dikustomisasi, dan ringan untuk perangkat berteknologi tinggi tanpa harus mengembangkannya dari awal.

Sayangnya, justru karena ‘terlalu’ terbuka, distribusi versi terbaru OS Android menjadi lebih lambat sampai ke tangan pengguna. Sebab, untuk bisa disebar ke pengguna akan bergantung pada pihak pabrikan yang saat ini banyak menggunakan kustom OS dengan antarmuka dan beragam fitur khas buatan sendiri. Sehingga, proses update harus melalui penyesuaian masing-masing pabrikan.

Jika kita bandingkan antara penyerapan OS terbaru antara Android dan iOS, Android tertinggal jauh dari OS besutan Apple. Misalnya saja, versi Android Oreo (8.0). Berdasarkan Android Developer Dashboard per Januari, penyerapan Android Oreo baru mencapai angkat 0,7 persen dari keseluruhan perangkat Andoid yang beredar.

Sumber: Android Developers DashboardSumber: Android Developers Dashboard

Sementara iOS 11, versi terbaru dari OS milik Apple, menurut data dari Apteligent, saat ini udah tersebar hingga 78% dari total perangkat. Sangat jauh tertinggal.

Sumber: ApteligentSumber: Apteligent


Sebetulnya, platform Android murni atau disebut Android Stock, bisa membantu update OS terbaru menjadi lebih cepat. Tapi sayangnya, tidak banyak pabrikan yang tertarik menggunakannya. Nokia, termasuk yang memilih menggunakan Android Stock dan terbukti update patch keamanan maupun versi terbaru Android-nya lebih cepat.

Google juga masih punya platform Android One yang juga mengandalkan Android Stock, seperti yang digunakan pada Xiaomi Mi A1. Tapi, entah kenapa tidak banyak pabrikan lain yang menggunakan platform Android One maupun OS murni Android Stock.

Wajar sih, masing-masing pabrikan punya alasan sendiri. Mungkin juga untuk membuat ciri dengan produk dari pabrikan lain. Sehingga kustom OS menjadi pilihan. Maka muncullah kustom-kustom OS seperti MIUI, Oxygen, FireOS, ZenUI dan lain sebagainya.

Android 9 akan Lebih Cepat Terdistribusi

Kabar baiknya, pada Android 9.0 mendatang yang disebut-sebut kemungkinan akan disebut sebagai Android Pie, Google menginginkan update versi terbaru Android lebih cepat sampai ke perangkat pengguna. Untuk itu, Google mengenalkan Google Unified Push yakni sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mempercepat pembaruan Android secara global.

Google Unified Push ini merupakan kelanjutan dari Project Treble, yakni cara interaksi baru antara inti software Android dan antarmuka buatan produsen smartphone. Kehadiran Google Unified Push ini berarti versi terbaru Android akan bergulir lebih cepat pada ponsel yang kompatibel.

Sejak Android 8 Oreo, Google telah mengajak para pabrikan untuk mensukseskan Project Treble ini. Secara sederhana, proses penyesuaian dengan Project Treble digambarkan seperti diagram di bawah ini.

Project Treble (9to5google)Project Treble (9to5google)

Sekarang, keduanya dipisah dan seakan-akan seperti sebuah entitas yang berbeda, yang tujuannya untuk mempercepat update sehingga mereka tidak perlu menulis ulang sebagian besar UI mereka untuk mengakomodasinya.

Nah, penggunaan modul Treble ini belum diwajibkan pada Android Oreo. Sehingga, banyak produsen yang masih enggan memanfaatkannya saat mendorong update Oreo ke perangkat mereka, dengan alasan kendala teknis.

Berbeda dengan Android 9 atau yang nantinya punya inisial ‘P’, mereka tidak akan punya pilihan, sebab Google akan menjadikan Treble sebagai bagian penting. Jadi, jika para produsen ponsel berharap untuk memperbarui flag-flag Android 8 yang akan dibawa pada pengembangan berikutnya, mereka harus melakukannya dengan Treble.

Intinya, semua perangkat Android mendatang akan mengikuti ‘aturan’ Treble guna mengakomodasi inisatif yang disebut "Google Unified Push", yang juga berarti Android versi terbaru akan disebar dengan cepat ke ponsel yang memenuhi syarat.

Dicurigai Bakal Lebih Ketat

Bagi pengguna, mendapatkan update OS terbaru lebih cepat merupakan kabar gembira. Tapi langkah Google ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengembang mungkin juga pabrikan. Dengan begitu banyak tipe ponsel dengan perangkat perangkat keras, antarmuka penggun serta aplikasi yang bermacam-macam jenisnya, agak sulit dipercaya bahwa Google bisa menjalankan "Unified Push" dengan mulus. Sebab, ini berarti juga ada beberapa bagian yang bakal dibatasi untuk dikustomisasi.

Beberapa pengembang sudah berspekulasi bahwa raksasa teknologi itu bermaksud untuk menutup beberapa bagian Android untuk dikustom. Memang, tidak membuatnya seratus persen tertutup seperti iOS, namun jelas membatasi beberapa kebebasan pengembang dan bahkan pengguna.

Seperti dilansir Phonearena (22/1), anggota komunitas XDA Developers telah menggali beberapa commits (baris kode), yang menyiratkan bahwa Android akan membatasi aplikasi menggunakan API tersembunyi atau tidak bersertifikat (Application Programming Interface). Karena beberapa pengembang menggunakannya untuk memoles fitur atau fungsionalitas ekstra ke aplikasi mereka, ini berarti mereka akan mendapatkan tamparan, kecuali jika mereka memperbarui aplikasi mereka agar berfungsi tanpa API tersebut.

Untuk sementara, mengunci beberapa API tersembunyi bukanlah masalah besar, pengembang hanya sedikit khawatir tentang apa arti semua ini bagi masa depan dan berapa banyak mimpi buruk pekerjaan mereka akan terjadi pada tahun-tahun mendatang.

Namun, kekhawatiran Android akan menjadi konservatif dan sangat terbatas selayaknya iOS, sepertinya itu tidak akan terjadi. Keputusan Google saat ini hanya mempengaruhi sejumlah kecil pengembang tidak resmi, atau pihak yang suka bermain-main dengan API yang tidak terdaftar. Jadi, mudah-mudahan OS Android terbaru mendatang betul-betul bisa diadopsi lebih cepat, selayaknya iOS tapi tetap tidak seketat OS buatan Apple. Setuju? isk/berbagai sumber