pulsa-logo

Smart Feature Phone, Penyegaran di Pasar Ponsel yang Kian Jenuh


dian iskandar

Jum'at, 16 Maret 2018 • 13:03

feature phone, samsung, nokia, mwc 2018, iphone x, samsung galaxy s9, samsung galaxy s9+, nokia 1


Nokia 8110 (Nokia.com), Samsung GT-E1272 (Samsung.com) & Motorola RAZR (popsugar.com)Nokia 8110 (Nokia.com), Samsung GT-E1272 (Samsung.com) & Motorola RAZR (popsugar.com)

Bisnis ponsel sepertinya tengah jenuh. Jika kita perhatikan apa yang tersaji pada ajang Mobile World Congress (MWC) 2018 yang berlangsung beberapa hari lalu, hampir tak ada produk yang bisa memalingkan perhatian kita dan terkesan biasa-biasa saja.

Seperti halnya Samsung, sebagai pemimpin pasar, memanfaatkan pameran tahunan terbesar teknologi mobile itu untuk mengenalkan flagship terbaru mereka Galaxy S9 dan Galaxy S9+. Jika disimpulkan, flagship terbaru Samsung lagi-lagi hanya mengalami perubahan pada sektor kamera.

Sementara Sony, hanya sedikit merubah penampilan pada produknya dan penambahan fitur wireless charging, tapi setidaknya Sony berani menongolkan muka. Sementara itu, merek lainnya malah mencontek desain iPhone X, seperti Asus, LG, dan beberapa merek dari Tiongkok. Padahal, iPhone X sendiri dikabarkan kurang sukses di pasaran.

Kejenuhan itu bisa dilihat dari beberapa indikasi terutama yang terjadi di pasar yang mapan. Mereka yang sudah memiliki perangkat flagship tahun lalu, tak banyak yang melakukan upgrade produknya ke model yang lebih baru.

Sebagai contoh, kabar yang beredar mengenai sepak terjang iPhone X yang tak terlalu hot dalam penjualan dan beberapa pemasok Apple juga dilaporkan mengurangi produksi komponen. Nah, menurut survey yang dilakukan oleh Piper Jafray, ada beberapa alasan mengapa iPhone X ini tak begitu booming di pasaran.

Perusahaan tersebut merilis sebuah survei dengan menanyakan kepada para pengguna iPhone mengapa mereka tidak melakukan upgrade ke iPhone X. Survei tersebut berbunyi, "Saat ini Anda memiliki iPhone namun Anda tidak melakukan upgrade ke (yang diyakini Apple) adalah ponsel Apple terbaik, iPhone X. Kenapa?” Berdasarkan temuan mereka, sebagian besar tanggapan berkaitan dengan harga iPhone X.

31% peserta survei mengatakan bahwa iPhone X terlalu mahal, dengan banderol 999 dolar AS untuk versi 64GB. Sedangkan 44% peserta survey mengatakan bahwa iPhone mereka masih bekerja dengan baik. Survei tersebut juga menemukan bahwa 8% peserta survey merasa bahwa layar 5,8 inci iPhone X tidak cukup besar.


Satu lagi survey yang berkaitan dengan iPhone dilakukan oleh analis Asymco Horace Dediu. Berdasarkan survey tersebut, pengguna iPhone akan mengganti perangkatnya ke model yang lebih baru setidaknya 4 tahun kemudian.

Perhitungan Dediu ini berdasarkan angka penjualan yang dikeluarkan oleh Apple setiap kuartalnya. Juga dengan memperhitungkan pada angka perangkat iPhone lawas yang masih aktif, yang baru-baru ini diterbitkan Apple yakni 1,3 miliar perangkat. Menurut Dediu, dengan mengetahui jumlah perangkat aktif dan dibandingkan dengan jumlah perangkat yang terjual, dapat digunakan untuk memperkirakan umur pemakaian rata-rata perangkat.

Yang cukup menarik, sepertinya durasi penggunaan produk Apple meningkat pada setiap kuartal. Ini sekaligus menunjukkan bahwa banyak konsumen akan mempertahankan produk Apple mereka lebih lama dari sebelumnya, dan akan terus berlanjut.

Nah, Samsung pun dikabarkan punya sedkit kendala dengan flagship terbarunya. Beberapa hari lalu Sammobile (07/03), mengabarkan bahwa pre-order Galaxy S9 dan S9+ di negeri asalnya Korea Selatan tak sesuai ekspektasi. Meskipun perkiraan ini memang hanya didasarkan pada jumlah hari pertama di mana berbagai faktor akan mempengaruhinya.

Samsung memang belum menginformasikan berapa jumlah pre-order yang didapatnya di sana. Namun, seorang pejabat dari Samsung Electronics baru-baru ini mengatakan kepada media Korea Selatan, Yonhap News seperti dikutip dari Phonearena (08/03) bahwa preorder Galaxy S9 setara atau sedikit lebih rendah dari pendahulunya.

Pengamat pasar berpendapat bahwa semakin banyak orang yang mempertahankan smartphone mereka untuk waktu yang lebih lama, yang secara signifikan akan berimbas pada penjualan smartphone.

Butuh Penyegaran

Jika disimpulkan, kejenuhan di pasar mapan terjadi karena industri ponsel telah memenuhi semua yang pernah dijanjikannya. Fitur ponsel yang berkembang pesat nyaris tak terjadi lagi. Sehingga, butuh alasan kuat bagi pembeli sebelum memutuskan membeli perangkat baru.

Untungnya, kejenuhan belum sampai terjadi di pasar berkembang seperti Indonesia, India dan beberapa Negara bekembang lainnya. Ini karena pergantian ponsel masih dimungkinkan dengan berbagai alasan. Misalnya, pergantian dari perangkat 3G ke model yang mendukung jaringan 4G. Atau, dari ponsel fitur ke smartphone.

Nokia 8110 (HMD Global)Nokia 8110 (HMD Global)

Nah, yang menarik adalah yang dilakukan oleh HMD Global yang memegang lisensi Nokia, ZTE dan Alcatel. Ketiga merek itu berkembang dengan meluncurkan perangkat berbasis Android Go. Perangkat tersebut bisa menjadi solusi bagi mereka yang baru mau beranjak ke smartphone di pasar berkembang. Meskipun, kemungkinan besar hambatan dai perangkat Android Go adalah soal harga, apakah benar-benar bisa bersaing.

Terkait dengan penyegaran, langkah Nokia boleh diacungkan jempol. Pasalnya, perangkat Android Go yang diusungnya yakni Nokia 1, menghidupkan kembali desain ‘Xpress on Cover’, yang artinya pengguna bisa menggonta-ganti cover sesuai selera. Kustomisasi cover ini memang sudah lama hilang terutama pada smartphone.

Satu hal lagi adalah, pada ajang MWC 2018, Nokia membangkitkan kembali seri legendaris 8110 yang dijuluki sebagai ‘Nokia Pisang’. Ini bukan kalo pertama merek asal Finlandia itu membawa nostalgia lewat model-model lama yang diperbarui. Tahun lalu ada Nokia 3110 yang juga produk legendaris. Bedanya, kali ini Nokia sudah siap dengan teknologi yang lebih baru, dengan mengadopsi jaringan 4G dan sistem operasi KaiOS.

Meski menyandang status sebagai feature phone, ponsel ini tidak bisa dibilang sederhana. Sebab, fitur-fitur seperti messaging dan layanan Google tetap bisa diakses. Jadi diberi julukan “Smart Featur Phone”, tampaknya tak terlalu berlebihan.

Motorola RAZR (popsugar.com)Motorola RAZR (popsugar.com)

KaiOS ini merupakan solusi cerdas bagi para pengguna ponsel yang belum mau beralih ke smartphone. Juga karena Nokia membawa model yang terbilang unik, ini bisa dijadikan ponsel kedua bagi pengguna smartphone.

Kabarnya lagi, Motorola juga digosipkan akan ikut meramaikan segmen ini dengan meramu ulang seri Razr yang juga pernah mencapai sukses dijamannya. Dengan daya baterai yang relatif lebih tahan lama, model yang out of the box untuk saat ini dan tetap mengedepankan fitur kekinian, smart feature phone sepertinya akan jadi alternative untuk mengisi kejenuhan. (*)