pulsa-logo

The Power of Ponsel Bekas


dian iskandar

Selasa, 10 April 2018 • 19:12

ponsel bekas, iphone, samsung, apple, lg, google,


Suasana di ITC Roxy MasSuasana di ITC Roxy Mas

Jika mengacu pada beberapa hasil riset pasar mengenai penjualan smartphone di 2017, semua menunjukkan angka penurunan yang tajam. Rata-rata menyebutkan bahwa penurunan itu mencapai lima sampai sembilan persen yang terjadi pada periode triwulan terakhir 2017.

Salah-satu penyebab penurunan itu bisa dihubungkan dengan fakta bahwa pengguna smartphone yang sekarang ini lebih menahan diri untuk mengganti perangkatnya. Edisi kemarin kami menyampaikan survey dari pengguna iPhone yang dilakukan oleh Piper Jafray dimana sebagian besar pengguna iPhone enggan beralih ke perangkat yang lebih baru.

Sebanyak 31% peserta survei mengatakan bahwa iPhone X terlalu mahal, dengan banderol 999 dolar AS untuk versi 64GB. Sedangkan 44% peserta survey mengatakan bahwa iPhone mereka masih bekerja dengan baik. Survei tersebut juga menemukan bahwa 8% peserta survey merasa bahwa layar 5,8 inci iPhone X tidak cukup besar.

Satu lagi survey yang berkaitan dengan iPhone dilakukan oleh analis Asymco Horace Dediu. Berdasarkan survey tersebut, pengguna iPhone akan mengganti perangkatnya ke model yang lebih baru setidaknya 4 tahun kemudian. Jika disimpulkan, tampaknya di pasar mapan, penjualan smartphone mulai mengalami kejenuhan.

Siklus upgrade yang lebih lama dan peningkatan jumlah konsumen yang memilih untuk membeli ponsel bekas menimbulkan ancaman terhadap penjualan smartphone unggulan di masa mendatang, kata para para komentator industri seperti dikutip PULSA dari 9to5google (1/3).

Tahun 2014 lalu, siklus penggantian perangkat rata-rata adalah 23 bulan, tapi sekarang angka itu sudah mencapai 31 bulan, kata BayStreet Research dan memungkinkan untuk naik lebih lama lagi. Dikutip dari WSJ, perusahaan itu memprediksi siklus 33-bulan pada tahun depan.

Terpengaruh Penjualan Ponsel Bekas


Fakta penuruan penjualan smarphone baru ternyata terpengaruh oleh naiknya penjualan smartphone bekas. Berdasarkan catatan Counterpoint Research, pasar ponsel bekas naik signifikan. Smartphone bekas ini termasuk ponsel yang direkondisi atau refurbish dan ponsel yang dijual apa adanya.

Tak tanggung-tanggung, berdasarkan catatan Counterpoint Research, penjualan ponsel refurbish naik 13 persen (tahun ke tahun). Itu berarti ada sekitar 140 juta smartphone yang terjual. Angka ini juga berarti mewakili 10 persen dari keseluruhan pasar.

“Pelambatan dalam inovasi telah membuat smartphone flagship yang sudah berumur dua tahun (masih) punya daya saing dari sisi desain dan fitur dengan ponsel kelas menengah terbaru. Oleh karena itu, pasar smartphone menengah ke bawah terkanibalisasi oleh ponsel high-end refurbish, seperti iPhone dan Samsung Galaxy,” kata Tom Kang Direktur Counterpoint Research seperti dikutip PULSA dari Androidauthority.com (17/3).

Perangkat Apple dan Samsung di pasar refurbish, kata Counterpoint, memegang hampir 75 persen pasar ponsel bekas, dan iPhone merupakan ponsel refurbish yang paling laris.

Untuk diketahui, ponsel refurbish ini juga dijual secara resmi oleh para vendor seperti Samsung dan Apple. Tentunya, untuk kualitasnya tetap terjaga. Akan tetapi, di pasaran juga beredar ponsel refurbish yang dijual oleh para pedagang tradisional yang berasal dari ponsel bekas yang direkondisi sehingga tampak seperti barang baru.

Namun, menurut salah-satu pemain ponsel bekas impor yang pernah di wawancarai PULSA, ponsel refurbish yang direkondisi oleh toko lebih beresiko untuk pembeli dan pedagang. Sebab, rata-rata mereka akan menanggung biaya perbaikan jika ponsel tersebut bermasalah karena sang pembeli menuntut garansi. “Jadi, lebih untung menjual ponsel bekas apa adanya,” kata sumber PULSA yang tak mau disebut namanya.

Terkait dengan ponsel refurbish, seperti dikutip dari Android Authority, Apple mengatakan hal itu sama sekali tidak mengkhawatirkannya, sebab filosofi Tim Cook, "lebih banyak orang di iPhone lebih baik" sangat tepat untuk pendekatan ekosistem Apple. Bahkan, Apple pernah mencoba meyakinkan Pemerintah India bahwa mereka bisa menjual iPhone bekas ke konsumen India. Dan Pemerintah India ternyata tidak setuju.

Meningkatnya pasar ponsel refurbish juga didorong oleh faktor lain. Seperti halnya di Amerika Serikat dimana ponsel refurbish dikelola oleh para bengkel reparasi profesional seperti iFixit yang menawarkan jasanya lebih murah dan mudah untuk mengganti layar yang rusak atau mengganti baterai baru.

Menurut Direktur Mobile B-Stock Solution Inc. Sean Cleland, mentalitas konsumen ponsel sangat mirip dengan industri mobil. "Saya masih ingin mengendarai Mercedes, tapi saya akan menunggu beberapa tahun untuk membeli model lama. Mentalitas yang sama," kata dia seperti dikutip dari 9to5Google.

Ponsel bekas cukup laris di Afrika, India dan pasar berkembang lainnya seperti di Asia Tenggara dan termasuk Indonesia tentunya. Namun sekarang, kondumen di AS juga cukup menggemari ponsel bekas. Setidaknya 93% pembeli yang mengikuti lelang ponsel bekas online yang diselenggarakan oleh B-Stock adalah konsumen dari AS.

Di Indonesia, penjualan ponsel bekas memang tampak sudah tak terlalu ramai di toko-toko fisik. Namun, penjualannya kini sudah merambah ke model online. Apalagi, toko online terkemuka juga sudah menyediakan fasilitas untuk mnjual produk bekas.

Sayangnya, banyak ponsel bekas import yang juga marak diperjualbelikan. Ini tentu akan merugikan para pemain di industri ponsel di Indonesia yang ingin memperluas pemasaran mereka. Dari sisi harga, tentu ponsel bekas dirasa lebih terjangkau. Meski sebagian juga berpikir soal kualitas.

Ubah Strategi

Perubahan harga smartphone (Android Authority)Perubahan harga smartphone (Android Authority)

Jika prediksi yang dilontarkan oleh pengamat industri mengenai siklus penggantian perangkat akan menjadi lebih lama, maka para vendor harus menyusun strategi baru. Ditambah, keberadaan ponsel bekas yang ternyata kini sudah bisa ‘mengancam’ perangkat baru.

Dalam wawancara baru-baru ini, D.J. Koh, petingi Samsung Mobile, mengatakan semakin populernya ponsel bekas telah memikirkan kembali apakah akan menyesuaikan strategi perluasan portofolio-nya. Meskipun belum ada keputusan apapun terkait hal itu, Samsung di pasar tertentu sedang mempertimbangkan apakah akan mendorong produk flagship refurbish dengan lebih agresif ketimbang merilis ponsel baru ponsel berharga murah, kata Koh, kepada 9to5google.

Mungkin ini juga yang menjadi pertimbangan LG Mobile dimana mereka juga berencana untuk mempertahankan model yang durasi lebih lebih lama, misalnya, meluncurkan lebih banyak varian model seri G atau seri V.

Nah terkait dengan peningkatan penjualan ponsel bekas ini, sangat penting untuk mencermati penuruhan harga ponsel dalam beberapa waktu. Menurut riset yang disuguhkan oleh Android Authority, merek-merek terkenal seperti Apple, Samsung, dan Google memiliki harga jual bekas yang baik.

Harga jual kembali smartphone keluaran 2016 sekitar 25 hingga 30 persen, sementara 2017 menunjukkan penurunan lebih dekat ke 20 hingga 25 persen, menyiratkan bahwa ketika pasar smartphone bekas tumbuh, nilai jual kembali juga meningkat. (*) isk/berbagai sumber