pulsa-logo

Raport Vendor Smartphone Triwulan Pertama 2018


dian iskandar

Selasa, 22 Mei 2018 • 15:44

counterpoint, samsung, oppo, vivo, xiaomi, huawei, lenovo, motorola, lg, pangsa pasar, smartphone, 2018


Suasana di ITC Roxy MasSuasana di ITC Roxy Mas

Tahun ini, kondisi pasar smartphone global sepertinya bakal tertekan. Dari beberapa data yang disajikan periset pasar, periode Januari – Maret (triwulan 1) hampir semua perusahaan riset mencatat penurunan dalam hal distribusi. Seperti halnya yang dilaporkan oleh Counterpoint Research yang mencatat adanya penurunan sebesar 3%. Angka penurunan tersebut juga sama dengan jumlah penurunan yang terjadi pada kuartal akhir 2017.

Selain melemahnya pengiriman smartphone pada periode triwulan pertama 2018 Counterpoint juga mencatat adanya perubahan pemegang panga pasar global. Menurut catatan counterpoint, Xiaomi berhasil menyalip Oppo di tempat keempat dan kini pabrikan yang baru saja meluncurkan seri F7 di Indonesia itu harus rela berada di posisi kelima.

Catatan tersebut juga menyoroti merek baru iTel yang berhasil muncul sebagai 10 besar pabrikan smartphone meski berada diurutan paling buncit. Pengiriman smartphone iTel tumbuh sangat fantastis dengan 213 persen peningkatan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun lalu.

Sementara itu, pertumbuhan terbesar kedua dipegang oleh Xiaomi dengan 27 juta unit atau meningkat 101 persen (dibandingkan periode yang sama tahun lalu). Xiaomi belakangan ini memang terlihat bergitu antusias menggarap pasar Negara berkembang seperi India dan Indonesia. Bahkan, Counterpoint juga pernah mengeluarkan data yang menyebut Xiaomi menduduki tempat pertama jumlah pengiriman smartphone di India pada triwulan akhir 2017 lalu.

Pengiriman Smartphone Global Q2-2018 (Counterpoint)Pengiriman Smartphone Global Q2-2018 (Counterpoint)

Posisi teratas masih dipegang oleh Samsung dengan total 78 juta unit. Sayangnya, raksasa teknologi asal Korea Selatan itu malah mencatat penurunan meski hanya sedikit. Samsung mengalami penurunan pengiriman smartphone sebesar 3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tapi, pada triwulan pertama, Samsung berhasil mencatat sedikit peningkatan pangsa pasar berdasarkan pengiriman. Catatan Counterpoint menyebut posisi pangsa pasar teratas dengan 21,7 persen atau meningkat 0.1 persen dibanding tahun lalu.

Samsung memang berhasil menaikkan laba perusahaan pada periode tersebut. Seperti dikutip dari Phonearena, selama kuartal pertama 2018, raksasa teknologi asal Korea Selatan itu melaporkan laba bersih 11,69 triliun won atau setara dengan Rp147 triliun. Dibanding dengan kuartal yang sama tahun lalu, itu berarti ada peningkatan sebesar 52%. Laba operasi, mencatat rekor 15,64 triliun won, juga naik 58% dari kuartal pertama tahun lalu. Samsung juga mencatat kenaikan pendapatan sebesar 20% selama periode Januari hingga Maret mencapai 60,56 dibandingkan dengan 50,55 triliun won pencapaian pada kuartal pertama 2017.


Namun, kenaikan laba tersebut lebih banyak disokong oleh penjualan chip memori. Beberapa analis memperkirakan bahwa pertumbuhan ini akan segera berakhir. Sebab harga chip diperkirakan tidak lagi terjadi lonjakan seperti yang terjadi pada dua tahun belakangan ini, dan penjualan smartphone high-end sedang terhambat oleh peningkatan siklus upgrade. Mereka yang memiliki perangkat flagship tidak begitu bersemangat untuk mengganti ponsel mereka.

Laporan laba Samsung pada triwulan pertama 2018 ini sedikit melampaui ekspektasi dari analis perusahaan pialang. Rata-rata, para analis memperkirakan bahwa Samsung akan melaporkan penjualan 60 triliun won dan laba 11 triliun won. Perusahaan ini mendapat sokongan dari peluncuran Samsung Galaxy S9 dan Samsung Galaxy S9+. Kedua perangkat ini masuk pada penjualan periode kuartal awal.

Meski demikian, beberapa analis memperkirakan penjualan ponsel ini segera ‘mendingin’. Sebagai contoh, analis Susquehanna Mehdi Hosseini baru-baru ini mengatakan bahwa Samsung telah memangkas rencana produksi Galaxy S9 dari 40 juta unit menjadi kisaran 32-34 juta.

Merek lain yang mengalami penurunan adalah Oppo dan Vivo. Oppo dan Vivo tercatat menduduki posisis kelima dan keenam dengan masing-masing memegang pangsa pasar 6% dan 5%. Kedua merek mencatat penurunan tahunan di Q1 2018 untuk pertama kalinya. Jika kita perhatikan, triwulan pertama 2018 memang belum diisi oleh produk baru mereka.

Oppo dan Vivo merilis dua produk terbaru mereka pada akhir Maret. Ini berarti, produk tersebut belum masuk hitungan pada periode tersebut. Oppo baru saja meluncurkan seri F7 sedangkan Vivo punya seri V9.

Pertumbuhan Brand Smartphone Cina (Counterpoint)Pertumbuhan Brand Smartphone Cina (Counterpoint)

Ekspansi agresif merek-merek ini di pasar di luar Cina daratan akan menjadi kunci pertumbuhan karena pasar rumah mencapai tingkat kejenuhan pada 2018. Di Indonesia, posisi Oppo dan Vivo masih sangat kuat dan bukan tidak mungkin bisa mendongkrak posisi mereka di pasar global.

Diantara beberapa merek asal Cina, Huawei masih menjadi merek yang terkuat. Meski hanya mengalami pertumbuhan sebesar 14 persen, posisi sebagai tiga besar di ancah global masih tak tergoyahkan. Saat ini pangsa pasar yang diraih perusahaan berlogo bunga lili merah itu mencapai 10,9 persen.

Upaya Huawei dalam memperluas pasar di luar Cina telah menghasilkan pertumbuhan yang kuat di Eropa (+ 46%), MEA (+ 38%) dan di India (+ 146%) di merek tersebut masuk ke daftar merek 5 smartphone teratas untuk pertama kalinya dalam Q1 2018.

Di posisi ketujuh diwakili oleh LG. LG mencatatkan 11,4 juta smarthone pada Q1 2018. Pengiriman smartphone LG menurun tahun ke tahun (-23%) dan secara berurutan (-18%). Nah, karena LG sendiri merubah strategi strategi peluncuran smartphone mereka, pada periode tersebut tidak diisi oleh flagship terbaru mereka.

Lenovo (termasuk Motorola) merebut posisi ke-8 dengan pangsa pasar 2%. Sementara merek Motorola punya catatan cukup baik, tidak seperti Lenovo yang mencatat penurunan selama kuartal tersebut. Merek Lenovo tercatat mengalami penurunan di India dan di seluruh Asia Pasifik sementara Motorola terus melakukannya dengan baik di pasar smartphone Amerika Latin dan AS.

Seperti yang sudah kami singgung sebelumnya bahwa sebagain besar penurunan terjadi di pasar mapan dimana siklus penggantian perangkat kini bakal lebih lama. Hal itu juga disampaikan oleh Tarun Pathak, Associate Director di Counterpoint Research, seperti dikutip PULSA dari laman resmi Counterpoint (1/5), “Permintaan smartphone yang melemah disebabkan oleh melambatnya (permintaan) di pasar negara maju di mana siklus penggantian lebih lama dengan fitur dan desain smartphone secara keseluruhan mencapai puncaknya. Namun, pasar negara berkembang masih menawarkan peluang yang cukup besar bagi OEM untuk berkembang dan tumbuh ketika penetrasi smartphone oleh pengguna masih sekitar 45%. Harga jual rata-rata smartphone juga meningkat, di pasar negara berkembang dengan peningkatan pengguna dari tingkat entri ke segmen ponsel cerdas menengah. Oleh karena itu, kami mengharapkan OEM untuk mempercepat strategi pemasaran dan ekspansi mereka di beberapa bagian Afrika dan sisanya di kawasan Asia Pacific untuk menangkap permintaan yang meningkat di 2018.”

Mengomentari kinerja regional merek China selama kuartal periset Shobhit Srivastava, mencatat, “Pasar smartphone China yang jenuh memaksa para pemain smartphone Cina untuk berinvestasi dan memperluas pasar luar negeri mereka. Upaya telah direalisasikan sebagai kinerja merek-merek Cina di TimurTengah, Eropa dan pasar Asia lainnya telah kuat. Pasar smartphone yang ideal untuk merek-merek Cina adalah pasar smartphone yang sedang berkembang seperti Bangladesh, Myanmar dan Timur Tengah & Afrika di mana LTE diluncurkan untuk pertama kalinya atau jaringan tersebut berkembang ke geografi yang lebih tertutup. Pasar Amerika Utara telah bermasalah untuk merek Cina dan larangan ZTE akan semakin menurunkan pangsa mereka di wilayah ini.”(*)