pulsa-logo

Harga iPhone Makin Mahal, Berkah atau Musibah untuk Pabrikan Android?


dian iskandar

Selasa, 02 Oktober 2018 • 17:59

iphone, harga iphone xs, harga iphone xs max, harga iphone xr, apple iphone, apple, android


Berkah atau musibah untuk pabrikan smartphone Android?

Apple sepertinya punya patokan harga tersendiri pada produk iPhone-nya. Meski banyak yang menyebut iPhone makin mahal, toh Apple tak pernah gentar menghadapi para pesaingnya.

Apple sendiri pernah berusaha mengeluarkan produk iPhone yang lebih terjangkau. Mungkin Anda ingat dengan iPhone SE. Sekarang, kabar berhembus bahwa Apple menghentikan lini produk iPhone SE. Buktinya sudah lebih dari dua tahun tak ada generasi penerus iPhone SE.

Dalam sesi wawancara di Cina seperti dikutip PULSA dari Gizchna (15/9) ketika meluncurkan iPhone terbaru, Tim Cook menjelaskan bahwa Apple selalu menemukan segmen pasar yang “bersedia” untuk membeli produk paling inovatif Apple. Dan Apple selama ini konsisten untuk meluncurkan produk inovatif dan cukup wajar jika memiliki nilai banderol yang cukup tinggi.

Ketika dinilai “agak condong ke segmen high-end”, Tim Cook menjelaskan bahwa sebenarnya Apple juga memperluas segmen pengguna dengan meluncurkan iPhone 7, iPhone 8 dan iPhone XR. Ketiga seri iPhone baru tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif, yang memungkinkan Apple untuk menjangkau lebih banyak lapisan konsumen di seluruh dunia.

Lalu bagaimana nasib para kompetitornya yang banyak bermain di Android? Sebuah artikel menarik pernah dirilis oleh Android Authority (14/9) terkait dengan penetapan harga iPhone yang kelewat mahal. Menurut C. Scott Brown, si penulis, harga mahal iPhone bisa menjadi berita baik buat pabrikan smartphone berbasis Android.

Menurut dia, harga iPhone yang makin mahal akan membuka kesempatan yang lebar bagi pabrikan smartphone Android untuk lebih leluasa bermain di segmen menengah. Alasannya, di Negara berkembang seperti India (juga Indonesia), jutaan ponsel yang terjual ialah yang harganya di bawah 500 dolar AS (Rp6jutaan).  Begitu juga yang terjadi di Cina dan semuanya adalah pasar terbesar untuk memasarkan smartphone.

Menurut data yang pernah dirilis Counterpoint Research, kejayaan iPhone hanya terjadi di Negara-negara mapan seperti Amerika Serikat dan Jepang. Kedua pasar itu mayoritas warganya mampu menghabiskan rata-rata 750 dolar AS untuk smartphone setiap tahunnya. Tapi tidak di Cina, India dan juga Indonesia.


Jadi, langkah Apple ini dinilai bisa membuat kesempatan besar bagi smartphone Android untuk mengisi segmen menengah. Itu sebabnya perusahaan seperti Huawei, Xiaomi, OnePlus, Oppo, Vivo, dll, semua melepaskan produk inovatif dan menarik dengan harga di rata-rata di bawah 500 dolar AS.

Tapi sebaliknya, harga iPhone yang mahal juga bisa menjadi hambatan bagi pesaingnya. Meskipun bisa lebih leluasa bermain di segmen menengah, namun menurut Scott bisa mengakibatkan flagships Android premium seperti Samsung Galaxy Note bergerak naik ke tingkat harga yang sama.

Tahun ini saja, harga Samsung Galaxy Note 9 varian terendah ada di 999 dolar AS dan yang tertinggi di 1249 dolar AS. Masih selisih 200 dolar AS dari iPhone XS Max yang ada di level harga 1.449 dolar AS. Jadi tampaknya Apple akan membuat pabrikan smartphone Android berpikir bahwa mereka bisa melakukan hal yang sama pada produk flagship mereka.

Meski masuk akal jika Samsung Galaxy Note akan terus menempel harga iPhone, tetapi yang terjadi adalah pabrikan lain seperti Huawei, Sony dan LG juga akan lebih berani mengeluarkan produk dengan harga mahal. Buktinya Huawei P20 Pro saja dipasarkan dengan harga 1.100 dolar AS, Sony Xperia XZ3 ($ 899), dan LG V35 Thinq ($ 899).

Jadi menurut Scott, pesaing Apple akan terus merilis akan terus merilis perangkat flagship sebagai pesaing iPhone dengan harga mahal, sementara juga merilis perangkat perangkat kelas menengah  untuk bersaing dengan iPhone XR di rentang harga 749 dolar AS. Beberapa fitur akan bergeser dari level menengah menuju pasar premium. Seperti bodi metal dan berlapis kaca, kamera premium, dan perangkat spesifik seperti Samsung S Pen dan teknologi FaceID. Sementara di segmen menengah akan tetap mempertahankan chipset berkecepatan tinggi, layar beresolusi tinggi dan baterai besar, dll.

Masalahnya adalah, harga mahal mungkin tak akan menjadi hambatan buat Apple karena pelanggannya selalu akan membeli produk premium. Tapi untuk Android OEM, itu bisa menjadi bencana. Jika hanya menggandakan perangkat mid-range dimana tak ada yang bisa dibanggakan oleh pemiliknya, bisa terhempas dari pasar dan hanya menyisakan segelintir pabrikan yang menonjol.

Tapi pendapat Scott bisa saja salah. Bisa saja pabrikan Android tak peduli dengan harga iPhone yang makin mahal dan mereka fokus membuat smartphone berfitur hebat di bawah 1000 dolar AS. Pada akhirnya Apple akan menguasai segmen super flagship yang ceruk pasarnya lebih sedikit, sementara pabrikan smartphone Android bisa menguasai segmen pasar yang lain. Toh fokus Apple memang lebih mengejar value dari pada kuantiti. (*)