pulsa-logo

Tentang Kamera Depan: Selamat Datang Selfie Super dan Si Kamera Cerdas


Anwar Aburizal

Selasa, 09 Oktober 2018 • 23:16

Selfie, Huawei Nova 3i, Kamera Selfie Cerdas, AI Camera, AR Sticker, Qmoji, Selfie Super


Huawei Nova 3iHuawei Nova 3i

Diciptakan semula untuk mengakomodasi panggilan video atau video call, kamera depan berevolusi begitu pesat selama satu dekade terakhir. PULSA pun merangkum sedikit perjalanan kamera depan hingga menjadi lebih baik dan lebih cerdas.

Evolusi Kamera Depan: Dari Video-Call ke Selfie

Kamera depan (front facing camera) ponsel muncul pertama kali pada produk Sony Ericsson Z1010. Kala itu, di akhir 2003, kamera depan dihadirkan untuk mendukung jaringan 3G yang sanggup mengakomodasi sambungan video call. Namun hal tersebut tampaknya belum mampu melambungkan tren kamera depan.

7 tahun kemudian, kala industri ponsel telah memasuki “era smartphone modern”, Apple datang membawa iPhone 4 yang juga mengantongi kamera depan dengan kapabilitas serupa ditambah dengan dukungan fitur anyarnya kala itu, FaceTime.

Bersama maraknya presensi kamera depan pada ponsel, di lingkup masa itu sejumlah layanan berbasis fotografi mobile (mobile photo services) seperti Instagram dan Snapchat turut berkontribusi memicu munculnya tren selfie.

Tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat utama pendukung video call, kamera depan pun mengusung tugas baru sebagai pengabadi swafoto. Kini, kamera depan bahkan lebih sering disebut dengan julukan “kamera selfie”. Hal ini membuat para pelaku di industri smartphone berlomba menghadirkan inovasi untuk mewujudkan ponsel dengan kamera selfie terbaik.

Huawei Nova 3i Selfie CameraHuawei Nova 3i Selfie Camera


Untuk mendukung fitur video call, sewindu yang lalu kamera depan dengan resolusi VGA atau kurang dari 1 Megapixel, sudah dianggap cukup. Meski begitu, terlihat penambahan resolusi sensor kamera depan seiring meningkatnya kecepatan koneksi data dan standar kepuasan dari para pengguna smartphone, ditambah lagi dengan tren selfie yang mencapai puncak kepopulerannya pada 2012.

Di akhir 2012, majalah Time bahkan memasukkan “selfie” ke dalam daftar "top 10 buzzwords" atau 10 kata paling nge-tren tahun itu. Dan pada 2013, kata tersebut secara resmi masuk ke kamus paling populer di dunia, Oxford English Dictionary.

Inovasi: Hardware vs Software

Namun bagaimanapun, posisinya sebagai kamera sekunder pada sebuah smartphone membuat kamera depan tidak pernah superior jika dibandingkan dengan kamera utama yang ada di sisi belakang. Hal itu berlangsung setidaknya sampai beberapa tahun belakangan saja. Akhirnya sejumlah vendor sadar bahwa kamera depan memiliki penggemarnya sendiri.

Pengguna smartphone di kelas menengah dalam segmen usia muda (sekitar 18-34 tahun), menunjukkan pergeseran gaya komunikasi ke arah yang lebih visual. Video call lebih sering menjadi prefensi dibandingkan sambungan telepon konvensional. Curahan emosi yang dirasakan maupun kenangan kala mengunjungi sebuah tempat pun tidak lagi hanya berbentuk teks “status update” ataupun keterangan “checked-in” melainkan dalam bentuk foto maupun video blog (vlog) singkat yang di upload ke berbagai platform media sosial.

Inovasi kamera selfie resolusi besar (bahkan lebih superior dibandingkan kamera utama) pun boleh dikatakan berhasil. Menyasar segmen kelas menengah-muda, beberapa produk berhasil menggoda pasar sejak tahun lalu. Resolusi yang besar berarti lebih banyak detail yang bisa terlihat, namun hal tersebut sama sekali tidak mewakili kualitas hasil tangkapan kamera secara keseluruhan.

Sesuai asal katanya (Fotos: cahaya, Grafos: menulis, melukis), dalam fotografi, cahaya memegang peranan penting. Sehingga sensitifitas sensor terhadap cahaya yang didukung dengan bukaan (aperture) dan konfigurasi lensa yang baik bahkan lebih dibutuhkan dibandingkan ukuran resolusi untuk menghasilkan foto berkualitas dan memiliki nilai estetika.

Di sisi lain, sektor software turut dikembangkan. Jika berbicara seputar kamera depan, fitur beautification, beautify, beauty atau apapun sebutannya, tentu menjadi salah satu primadona. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk menambahkan sentuhan “operasi plastik dan make-up digital” pada wajah agar terlihat lebih cantik/tampan pada hasil foto.

Belakangan, fitur beauty ini bahkan dikolaborasikan dengan algoritma berbasis kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence) supaya efek yang dihasilkan terlihat natural dan sesuai dengan keadaan asli objek (jenis kelamin dan usia) tanpa terlihat berlebihan.

AR Sticker Nova 3iAR Sticker Nova 3i

Menyinggung fitur berbasis AI, sejumlah ponsel juga menghadirkan fitur AR Emoji, sebuah fitur yang memungkinkan pengguna untuk membuat emoji yang bisa dipersonalisasi menggunakan karakter animasi. Fitur ini bekerja dengan cara mendeteksi mimik atau ekspresi wajah pengguna yang kemudian diaplikasikan pada karakter animasi yang dipilih. Semakin canggih sebuah perangkat, biasanya mimik yang ditampilkan oleh karakter animasi tersebut biasanya akan semakin menyerupai ekspresi pengguna, bukan sekedar kedipan mata atau gerakan bibir, melainkan hingga kernyitan dahi dan gerakan alis.

Huawei Nova 3i menjadi contoh yang baik untuk sebuah ponsel yang ada di pasar saat ini dengan seluruh inovasi yang PULSA sebutkan sebelumnya. Ponsel ini tidak hanya memiliki resolusi kamera selfie yang lebih besar (24MP+2MP) dibanding kamera belakangnya (16MP+2MP), namun aperture-nya pun lebih lebar (f/2.0) yang berarti kamera depan ponsel ini mampu menangkap cahaya lebih banyak saat kondisi ruangan redup. Selain itu, bukaan lensa yang besar memungkinkan ponsel untuk membuat foto dengan efek bokeh yang lebih baik.

Menyinggung soal foto dengan efek bokeh, konfigurasi dual kamera seperti yang dimiliki Nova 3i juga menunjang untuk melakukannya. Sebab, sensor pendamping (2 MP) pada kamera depan yang memiliki fungsi sebagai depth sensor yang akan mendeteksi jarak dari sensor ke objek utama begitupun ke latar belakang (background). Algoritma kamera ini kemudian secara cerdas akan mengaplikasikan ketajaman pada objek utama dan keburaman (blur) pada background, yang menghasilkan efek bokeh yang natural.

Selfie dengan kamera Huawei Nova 31Selfie dengan kamera Huawei Nova 31

Mode portrait pada ponsel ini pun lebih pintar dari kebanyakan. Tidak hanya mampu menghasilkan foto selfie dengan efek beauty dan bokeh yang cerdas, mode portrait ini juga mampu memberi efek pencahayaan buatan (lighting effect) yang tampak asli. Pada mode portrait, tersedia 6 pilihan jenis pencahayaan.

Tak ketinggalan ada mode AR Lens yang didalamnya pengguna bisa membuat AR Emoji atau yang disebut oleh Huawei sebagai Qmoji. Qmoji bisa direkam dalam betuk video yang kemudian dapat dikirimkan menjadi pesan yang lebih ekspresif pada aplikasi chatting yang dimiliki pengguna.

Tak hanya menciptakan efek bokeh yang natural, saat pengguna ingin menunjukkan latar belakang tempat mereka mengambil foto misalkan saat mereka berlibur, kamera pada Nova 3i dapat secara cerdas memisahkan antara objek yang difoto dengan latar belakang pemandangan dari foto tersebut. Sehingga selain wajah objek terlihat secara jelas dengan tekstur kulit yang baik, latar belakang pun tetap dapat ditangkap dengan baik oleh Nova 3i. Hal ini dimungkinkan oleh dual camera yang dimiliki dari Nova 3i, baik kamera depan, maupun kamera belakang.

Foto dengan Kamera Huawei Nova 3iFoto dengan Kamera Huawei Nova 3i

Selain hardware kamera yang mumpuni, hal ini juga dimungkinkan atas dukungan chipset berkemampuan AI, kamera ponsel mampu mengenali jenis objek yang dibidiknya dan secara cepat mengaplikasikan pengaturan warna, saturasi, kontras dan sebagainya yang sesuai dengan jenis objek agar foto yang dihasilkan tampak lebih indah. Makanan akan tampak lebih lezat, pemandangan menjadi lebih mempesona, tumbuhan terlihat lebih hijau dan sebagainya.

(*Anwar Aburizal/Dari Berbagai Sumber)