pulsa-logo

Ponsel Fitur yang Tak Lekang oleh Waktu


dian iskandar

Rabu, 26 Desember 2018 • 17:36

pangsa pasar, smartphone, ponsel fitur


Nokia 8110 4G (Nokia)Nokia 8110 4G (Nokia)

Meski smartphone sudah semakin dominan, tak berarti keberadaan ponsel fitur tersingkir begitu saja. Bahkan, pemain sekelas Nokia masih punya jajaran produk ponsel fitur terbaru. Begitu juga dengan Samsung dan beberapa merek lainnya. Di Indonesia, sebagian merek lokal masih nyaman memasarkan ponsel fitur seperti iCherry, Mito dll.

Peluncuran ponsel fitur di Indonesia biasanya tak dibesar-besarkan. Lain halnya dengan peluncuran smartphone yang lebih semarak. Penyebarannya pun lebih banyak di pinggiran kota. Meski demikian, ponsel fitur juga bisa didapatkan di toko-toko online. Harganya bervariasi, mulai dari Rp150 ribuan hingga Rp500 ribuan.

Model ponsel-ponsel fitur yang tersedia di pasar Indonesia juga kian bervariasi. Ada yang tampil macho ala dengan perangkat outdoor sampai model yang mirip walkie talkie, dan ada juga yang menggunakan layar sentuh mirip smartphone.

Sayangnya, kami tak punya data mengenai berapa banyak jumlah ponsel fitur yang terjual di Indonesia, tapi di pasar global, pengiriman ponsel fitur ternyata masih kinclong. Malah, Counterpoint Research mencatat, pengiriman ponsel fitur terus tumbuh. Ini kebalikan dari smartphone yang terus mengalami  penurunan. Bahkan, sudah empat kuartal berturut-turut ponsel fitur terus tumbuh. Kok bisa?

CounterpointCounterpoint

Jadi, meski pengiriman ponsel fitur di India, salah-satu pasar terbesar di dunia, mulai melambat, di Timur Tengah dan Afrika justru tumbuh hingga 32%. Ini merupakan sumbangan terbesar terhadap ponsel fitur yang menurut Counterpoint Research pada kuartal ketiga 2018 berkontribusi sebesar 23% dari total pengiriman ponsel.

CounterpointCounterpoint


Counterpoint Research juga mencatat beberapa alasan mengapa ponsel fitur masih eksis. Setidaknya ada dua poin yang cukup beralasan.

Poin pertama adalah soal daya tahan baterai. Di beberapa negara berkembang seperti Afrika dan India, fasilitas infrastruktur seperti listrik masih belum bisa dinikmati oleh penduduk dengan jumlah cukup besar. Menurut data bank dunia tahun 2014, di Afrika, sekitar 600 juta orang belum bisa menikmati listrik.

Di daerah-daerah terpencil di Afrika yang tak memiliki aliran tanpa listrik, penduduk di sana bergantung pada stasiun pengisian daya (toko-toko memberikan fasilitas untuk mengisi daya telepon dengan berbayar). Sehingga daya tahan baterai menjadi faktor yang semakin penting untuk memilih ponsel, dan ponsel fitur memiliki masa pakai baterai yang jauh lebih baik daripada smartphone.

Ponsel fitur juga masih banyak digunakan sebagai perangkat kedua untuk melakukan panggilan karena masa pakai baterai yang lebih baik.

Poin kedua, terkait dengan basis pengguna yang cukup besar. Jadi, meskipun ada kecenderungan untuk bermigrasi ke smartphone, masih banyak pengguna terutama yang sudah lanjut usia tidak begitu paham menggunakan smartphone. Belum lagi kualitas smartphone entri level yang tak bisa diandalkan dan juga daya beli untuk mendapatkan smartphone yang masih rendah di beberapa negara berkembang.

Selain itu, ponsel fitur berteknologi 4G kini sudah tersedia di pasar, dan sebagian besar aplikasi populer seperti WhatsApp, Facebook, dan YouTube sudah bisa dinikmati di perangkat dasar ini. Cukup alasan untuk tidak melakukan upgrade ke smartphone.

Perkembangan ponsel fitur

Ponsel fitur kini juga mengalami banyak perubahan. Jika dulu kita kenal ponsel fitur yang hanya bisa disisipi aplikasi berbasis Java, kini sudah semakin canggih. Seperti smartphone, ponsel fitur juga mengalami fase perubahan. Dari 2G menjadi 3G dan sekarang 4G.

Aplikasi dan fasilitas yang hanya ada di smartphone juga menurun ke ponsel fitur. Ini akan terus dilakukan karena lebih banyak operator dan OEM mencoba untuk memonetisasi dari basis ponsel fitur yang cukup besar.

Bahkan, Google juga telah melirik OS untuk ponsel fitur. Jika Anda mengenal Nokia 8110, ponsel pisang versi baru dari HMD global, ponsel fitur ini menggunakan KaiOS. Nah, Google juga ikut berinvestasi pada OS ini. Google dikabarkan tengah mengguyur sejumlah Rp316 milyar untuk pengembangan KaiOS.

KaiOS merupakan OS berbasis web yang didesain untuk para pengembang agar menggunakan bahasa pemrograman HTML5, Javascript, dan CSS untuk aplikasi-aplikasinya. KaiOS pertama kali muncul pada 2017 lalu sebagai versi OS mobile dari Firefox OS. Tidak hanya Nokia, beberapa ponsel fitur buatan TCL dan Micromax juga didukung oleh KaiOS.

Di India, pabrikan ponsel Lava ikut mengembangkan OS untuk ponsel fitur yang disebut MocorDroid. OS ini digunakan pada Andromax Prime, ponsel fitur yang dipasarkan oleh Smartfren. OS ini sebetulnya merupakan versi modifikasi dari Android. Bisa dikatakan bahwa MocorDroid adalah Android yang di-downgrade.

Dengan kemampuan yang kini bisa lebih bervariasi, seperti menambahkan aplikasi, game dan layanan berbasis lokasi, ponsel fitur berhasil menyesuaikan kemauan pasar. Sehingga menurut Counter Point Research, di pasar negara berkembang yang belum terjamah, ponsel fitur akan tetap relevan setidaknya selama lima tahun ke depan. (*)