pulsa-logo

Penjualan iPhone Melorot, Salah Siapa?


dian iskandar

Kamis, 24 Januari 2019 • 13:01

iphone


Harga iPhone XR di Indonesia (erafone)Harga iPhone XR di Indonesia (erafone)

Kamis (3/1) menjadi hari yang suram bagi Apple. Harga sahamnya melorot hingga 10 persen dalam sehari. Aksi jual besar-besaran saham Apple tersebut menyusul pernyataan CEO Apple Tim Cook melalui surat resmi kepada investor yang mengungkapkan bahwa pendapatan perusahaan untuk Q1 2019 berpotensi turun di bawah ekspektasi.

Dalam surat tersebut Tim Cook juga menyebutkan bahwa kondisi perekonomian dunia menjadi salah-satu penyebabnya. Terutama itu terjadi di pasar terbesar Apple yakni Cina karena imbas dari melemahnya Yuan terhadap dolar AS lantaran perang dagang AS-Cina. Melemahnya Yuan akhirnya berimbas pada penjualan iPhone.

Menariknya, selain melemahnya Yuan, Apple juga mengakui bahwa turunnya penjualan iPhone akibat dari program penggantian baterai yang murah. Desember 2017 lalu, Apple memulai program penggantian baterai dengan harga yang lebih terjangkau.

Program tersebut dilatarbelakangi atas kritik terhadap pembaruan iOS 11 yang kala itu diketahui berpengaruh pada turunnya kinerja iPhone lawas. Apple berdalih, hal itu demi menjaga agar perangkat iPhone lawas tetap aman digunakan karena kondisi baterai yang sudah uzur.

Bukan cuma kritik, beberapa pelanggan juga dikabarkan menuntut Apple atas kebijakan itu. Apple kemudian menjawabnya dengan dua langkah strategis. Pertama, dibukanya program penggantian baterai dengan harga murah, juga meluncurkan pembaruan baru dengan tidak mencekik kinerja perangkat.

Tapi apa nyana, justru program tersebut menjadi batu sandungan bagi Apple sendiri. Menurut Apple, seperti yang tadi dijelaskan, program penggantian baterai yang dimulai sejak Desember 2017 lalu hingga Desember 2018, menjadi pemicu para pelanggannya enggan membeli iPhone baru.

Potensi Kerugian


Jika Apple memang benar penggantian baterai menjadi penyebab melorotnya penjualan iPhone baru, seberapa besar pengaruhnya? Nah, menurut pengamat John Gruber lewat tulisannya di Daring Fireball seperti dikutip PULSA dari The Verge (16/1), setidaknya ada 11 juta unit iPhone yang mengganti baterai pada program diskon yang dicanangkan Apple.

Menurut Gruber, penggantian baterai original lewat Apple biasanya hanya mencapai satu atau dua juta penggantian selama periode yang sama. Tapi dia berpendapat bahwa ada 11 juta pelanggan diprediksi ikut program penggantian baterai atau meningkat hingga 10 kali lipat.

Jika 11 juta orang mengganti baterai iPhone dan memilih menghabiskan 29 dolar AS ketimbang membeli iPhone baru seharga 1.000 dolar AS, kira-kira setara dengan 11 miliar dolar AS pendapatan yang hilang.

Pun bila angka 11 juta ini akurat, maka Apple akan menghasilkan sekitar 319 juta dolar AS pendapatan dari penggantian baterai saja. Ini juga berarti 11 juta tetap bertahan untuk menikmati layanan Apple alih-alih beralih ke perangkat Android.

Sebagai referensi, Apple menurunkan proyeksi pendapatan untuk Q1 2019 antara 5 dan 9 miliar dolar AS. Tentu saja, tidak setiap pelanggan yang mengganti baterai juga berarti mereka yang tadinya berpikir untuk membeli iPhone baru, dan perkiraan pendapatan asli Apple seharusnya juga termasuk hitung-hitungan dari ongkos penggantian baterai. Jadi angka-angka ini hanya memberikan gambaran pada skala respon konsumen.

Kemahalan dan Kurang Inovasi

Dua alasan yang dilontarkan Apple terkait proyeksi penurunan penjualan memang masuk akal. Tapi yang tak mungkin diakui adalah penetapan harga iPhone baru yang dinilai terlalu mahal oleh beberapa pengamat.

Bayangkan, harga produk unggulan iPhone terbaru mencapai 1000 dolar AS, dan bahkan iPhone XR yang dibilang paling terjangkau harganya 750 dolar AS. Di Indonesia, iPhone XR dijual seharga Rp15 jutaan yang jelas jauh dari kata ‘terjangkau’.

Atas dasar itu, seorang analis Wedbush Daniel Ives menilai bahwa Apple perlu melakukan "pemotongan harga yang signifikan" pada iPhone XR untuk mengendalikan harga “hubris"- nya (keangkuhan).

Ives, seperti dikutip dari Investors via Ubergizmo mengatakan, "Seperti yang telah kita diskusikan dengan investor, telah menjadi masalah harga Apple pada iPhone XR yang merupakan faktor utama dalam bencana pada pendapatan kuartal Desember Apple. Sementara iPhone XS terus berfokus pada harga premium, (sehingga) yang menjadi penopang adalah iPhone XR di wilayah Cina yang mewakili sekitar 20% dari semua (model) iPhone pada siklus pergantiannya.”

Meski demikian, dia juga mengatakan bahwa beberapa investor akan khawatir tentang pemotongan harga tersebut dan dampaknya bagi pertumbuhan top-line dalam beberapa kuartal mendatang. Alasan lainnya akan kehilangan persepsi sebagai smartphone mewah, dan menjadi sebuah langkah mundur bagi Apple.

Gerai penjualan iphone di Cibinong City MallGerai penjualan iphone di Cibinong City Mall

Lain halnya dengan pendapat dari jurnalis Recode Kara Swisher. Seperti dikutip PULSA dari CNBC (2/1), dia berpendapat bahwa pasar Cina memang penting, tapi Apple juga berhadapan dengan minimnya inovasi.

"Siklus inovasi telah melambat di Apple," kata Swisher kepada CNBC. Swisher juga mengatakan bahwa Cook telah melakukan pekerjaan yang "mencengangkan" untuk menjadikan Apple sebagai "kekuatan ekonomi", perusahaan itu tidak dapat melindungi dirinya dari tekanan ekonomi jika timnya tidak menghasilkan produk yang "berhasil".

Tak dipungkiri, sekarang ini inovasi dari Cina lebih banyak bermunculan. Untuk smartphone, merek-merek asal Cina berhasil menciptakan disain yang lebih segar dengan fitur-fitur baru. Bahkan, rival terdekar Apple yakni Samsung juga tengah membuat jalan untuk mengenalkan smartphone berlayar lipat. Sementara inovasi terbaru Apple masih belum terdengar. Beberapa bocoran iPhone terbaru hanya menyiratkan penggunaan kamera baru.

Jadi, mana yang lebih masuk akal terkait penyebab melorotnya penjualan Apple? Kemahalan, perang dagang, penggantian baterai murah atau Apple sendiri yang kurang inovasi?  (*) isk/berbagai sumber