pulsa-logo

Huawei Indonesia Siap Tancap Gas


dian iskandar

Rabu, 06 Februari 2019 • 16:49

huawei indonesia, huawei


HuaweiHuawei

Tahun 2018 boleh dibilang tahun prestasi buat Huawei. Pabrikan asal Tiongkok itu berhasil menempati posisi kedua pabrikan smartphone global. Ini merupakan pijakan baru bagi Huawei yang berhasil melampaui Apple untuk pertama kali. Menutup tahun 2018, target 200 juta pengiriman pun bisa dilewati dengan sempurna.

Keberhasilan Huawei ditopang oleh kinerja di dalam negerinya. Di Cina, Huawei menjadi raja smartphone dan berhasil mengalahkan lawan-lawannya dari brand besar lainnya seperti Oppo, Vivo dan juga Xiaomi. Samsung bahkan sudah tak lagi bisa berbuat banyak di negeri Tirai Bambu. Begitu juga dengan Apple yang harus puas di posisi kelima berdasarkan pengiriman.

Selain di Cina, Huawei berhasil menjadi merek smartphone terkemuka di Eropa. Sebut saja Finlandia, Polandia dan beberapa negara lainnya. Sayangnya, itu tidak terjadi di Indonesia. Padahal di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Singapura, Huawei bisa meraup hampir 30 persen pangsa pasar.

Lalu berapa pangsa pasar Huawei di Indonesia? Menurut catatan dari IDC pada triwulan kedua 2018 lalu, Huawei bahkan tidak masuk 5 besar top smartphone Indonesia berdasarkan pengiriman. Bahkan, tidak lebih baik dari posisi merek lokal Advan yang bertengger di posisi kelima.

Nah, wawancara kami dengan Vice President of Huawei Consumer Business Group Jim Xu mengungkapkan strategi baru Huawei di Indonesia. Xu mengakui bahwa bahwa pangsa pasar Huawei di Indonesia masih kecil.

Padahal dia juga mengatakan bahwa eksistensi Huawei di Indonesia sudah berumur 18 tahun. Dia mengibaratkan Huawei di Indonesia seperti penguin yang berjalan lambat. "Huawei saya katakan seperti penguin yang berjalan lambat di pasar ini," kata dia di Jakarta, Selasa (29/1).


Tambah Investasi

Minimnya promosi Huawei di Indonesia diakui Xu sebagai satu kesalahan. Untuk itu dia menegaskan bahwa tahun ini Huawei akan menambah investasinya di Indonesia.

Selain promosi, Xu juga berjanji akan membuka gerai experience store di beberapa kota. Tujuannya adalah demi meningkatkan image serta memberi solusi agar kosumen bisa langsung merasakan langsung produk-produk inovasi Huawei.

Vice President of Huawei Consumer Business Group, Jim Xu (tengah).Vice President of Huawei Consumer Business Group, Jim Xu (tengah).

Setidaknya Semester I tahun ini paling tidak bakal ada dua experience store Huawei di Indonesia. Sayangnya, untuk lokasi belum disebutkan. “Untuk lokasi belum bisa kami pastikan karena agak susah mencari lokasi yang tepat,” kata dia. "Kami mengharapkan akan ada lebih banyak experience store di Indonesia. Tapi kami harus mencari lokasi yang terbaik dan itu tidak mudah. Banyak mall-mall yang bagus di sini," lanjut dia.

Huawei sendiri sudah membuka delapan brand shop yang berada di Indonesia. Lokasinya pun beragam, mulai dari Jakarta hingga Makassar. Untuk layanan purnajual, Huawei saat ini memiliki 31 service center di Indonesia. Jumlah tersebut meliputi tiga service center eksklusif dan 28 dengan menggandeng partner.

Yang menarik adalah, Xu menegaskan bahwa tahun ini pisi Consumer Product Huawei  tidak hanya memasarkan smartphone di Indonesia, tapi juga akan membawa perangkat lain seperti smartwatch, tablet, PC atau laptop juga smart home.

Huawei Watch GT (huawei)Huawei Watch GT (huawei)

Sambil menunjukan jam pintar Huawei Watch GT, Xu mengatakan bahwa produk jam pintarnya termasuk yang akan diboyong ke Indonesia segera. Huawei Watch GT disebutkan sebagai jam pintar yang paling kuat daya tahan baterainya. “Satu kali cas bisa bertahan dua minggu,” yakin Xu. Tak ada smartwatch lain yang punya daya tahan seperti Watch GT,” kata dia.

Membuat Pembeda Lewat Produk Flagship

Strategi untuk mendongkrak brand image Huawei di Indonesia adalah lewat produk flagship. “Jika brand image Huawei lemah, maka orang-orang berpikir seharusnya produknya akan murah,” kata dia. Solusinya menurut Xu adalah harus membawa model flagship ke Indonesia dan memberitahu khalayak tentang pembedanya.

"Perbedaan terbesar yang tampak dari Huawei dibandingkan dengan brand lain adalah kualitas ponsel flagship. Jadi, jika melihat dari perspektif teknologi, kami ingin memberikan sesuatu yang baru kepada konsumen," lanjut Xu.

”Tentu saja kami harus menjelaskan kepada konsumen apa itu itu Huawei dan apa bedanya (dengan yang lain),” jelas dia. “Meskipun ini tentu akan membutuhkan waktu, tapi kami percaya diri seperti halnya yang kami lakukan di negara tetangga, kami bisa melakukannya dengan lebih baik.”

Lantas bagaimana dengan segmen kelas menengah ke bawah? Huawei mengatakan sudah terlalu banyak pemain di sektor tersebut. Ini yang membuat mereka tidak menjadikan pasar tersebut sebagai prioritas utama mereka.

Meski begitu, Huawei tidak sepenuhnya mengabaikan segmen tersebut. Buktinya, belum lama ini Huawei menghadirkan smartphone entry-level yaitu Huawei Y7 Pro 2019 ke pasar Indonesia.

Pertanyaannya adalah, ditengah kondisi pasar ponsel global yang menurun, fokus ke segmen premium malah akan menjadi langkah yang kontradiktif? Xu menjawab bahwa beberapa negara pasar smartphone masih booming, seperti Indonesia. Indonesia juga dipercaya sebagai pasar yang dinamis dan konsumen di segmen menengah dan atas semakin bertambah.

Xu menjelaskan bahwa di negara-negara berkembang seperti Indonesia masih banyak alasan untuk memiliki smartphone baru seperti beralih dari 3G ke 4G atau dari feature phone ke smartphone atau dari smartphone kelas menengah ke smartphone high end.

Huawei optimis tahun ini posisinya di Indonesia akan lebih baik. Apakah strategi Huawei ini akan berhasil? Kita lihat saja!