pulsa-logo

Smartphone Layar Lipat, Cuma Kejar Gengsi?


dian iskandar

Rabu, 06 Maret 2019 • 14:58

samsung, huawei, samsung galaxy fold, huawei mate x, mobile world congress, mobile world congress 2019, mwc 2019


Samsung Galaxy Fold (Samsung)Samsung Galaxy Fold (Samsung)

Sesuai prediksi, ajang Mobile world Congress (MWC) 2019 diramaikan dengan berbagai bentuk inovasi baru dalam dunia teknologi mobile. Kami mencatat setidaknya ada beberapa poin penting yang menjadi pijakan baru di industri perangkat telekomunikasi di dunia.

Tahun ini, misalnya, kita akan menatap era 5G, dimana kecepatan internet mobile akan semakin tinggi yang juga akan mendorong konten-konten serta aplikasi yang lebih beragam dengan bobot yang lebih berat. Misalnya saja konten video 4K streaming, dan aplikasi multimedia lainnya yang lebih kompleks.

Teknologi 5G ini menjadi topik penting selama acara MWC. Pihak pabrikan chip juga vendor smartphone dengan bangga telah mengenalkan produk terbaru mereka di gelaran tahunan teknologi terbesar yang diselenggarakan di Barcelona itu.

Tapi, dari sekian banyak inovasi, satu hal yang paling menonjol adalah perangkat smartphone dengan layar lipat. Bertahun-tahun model smartphone yang mainstream kini punya sesuatu yang baru. Model lipat ini juga akan banyak varian, tergantung dari pabrikan memilih pendekatan desainnya. Apakah yang ditekuk keluar atau ke dalam.

Selain itu, smartphone berlayar lipat seharusnya bisa memiliki fungsi ganda, sebagai smartphone biasa dengan setengah layarnya, atau bisa dijadikan tablet ketika dibentangkan. Bahkan, mungkin juga bakal ada aplikasi khas smartphone berlayar lipat yang bisa menambah nilai jual.

Nah, dua pabrikan yang sudah merilis smartphone layar lipat di MWC 2019 kemarin adalah Samsung dan Huawei. Kedua raksasa teknologi ini seakan tak mau kalah langkah untuk urusan inovasi. Meskipun, pasar untuk smartphone lipat masih harus di uji.

Samsung Galaxy Fold (Samsung)Samsung Galaxy Fold (Samsung)


Samsung, sejak tahun lalu diketahui bakal merilis produk fenomenal smartphone berlayar lipat yang dinamakan Galaxy Fold. Sementara Huawei menyebut produk smartphone lipatnya dengan Mate X. Dua produk ini pun punya ciri yang berbeda. Misalnya, Samsung lebih memilih desain Galaxy Fold dengan lipatan layar ke bagian dalam, dan menambahkan layar kedua di sisi depan perangkat ketika dilipat. Sementara Huawei Mate X mengambil desain melipat keluar sehingga tak perlu lagi menambahkan layar kedua.

Huawei Mate X (Huawei)Huawei Mate X (Huawei)

Selain desain yang fenomenal, kedua perangkat dijejali dengan fitur terkini semisal jaringan 5G, SoC paling gahar yakni Snapdragon 855 dan Kirin 980 yang digunakan pada Mate X, kamera canggih dan kapasitas RAM dan penyimpanan internal yang besar.

Apple tak bergeming

Kemunculan smartphone lipat berhasil menyedot banyak perhatian. Samsung dan Huawei bisa dikatakan menguasai panggung MWC berkat produk fenomenal ini. Sayangnya, Apple yang terkenal sebagai salah satu pemimpin inovasi belum terlihat bakal ikut meramaikan smartphone lipat. Apple pun akhirnya dikomentari oleh sang co-founder Steve Wozniak.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Bloomberg (via Phonearena), Wozniak mencatat bahwa Apple "telah menjadi pemimpin untuk waktu yang cukup lama" di sejumlah bidang seperti "ID Sentuh, Face ID, dan pembayaran mudah dengan ponsel." Orang lain mungkin juga mengatakan bahwa Apple memimpin tren layar smartphone dengan meluncurkan iPhone X pada 2017. Namun, sang pendiri mengakui bahwa merek tersebut tertinggal di segmen tertentu.

Salah satu yang paling menonjol baginya akhir-akhir ini adalah smartphone berlayar lipat karena dia sangat tertarik dan itu adalah teknologi yang “menonjol” pada saat ini. Pesaing seperti Samsung dan Huawei sudah bersiap-siap untuk merilis produk pertama mereka sedangkan Apple tidak. Dan jika rumor itu benar, Apple baru akan mengenalkan smartphone lipatnya lebih dari satu tahun ke depan.

Secara alami, waktu yang tertunda ini akan dilihat oleh banyak orang sebagai hal yang negatif. Meskipun Apple akan memiliki lebih banyak waktu untuk menyempurnakan produk smartphone lipat pertamanya. Kendati demikian, Apple bisa saja dibilang tertinggal, tapi ketika raksasa teknologi asal AS itu membuat produk serupa, bisa jadi pertanda smartphone lipat bakal booming.

Tantangan smartphone lipat

Meski sudah dipamerkan, smartphone berlayar lipat belum bisa dipasarkan segera. Perangkat ini pun tentu akan menghadapi hambatan-hambatan sebelum akhirnya bisa diterima oleh orang banyak. Misalnya soal harga. Oleh karena produk tersebut masih dalam proses pengembangan yang membutuhkan waktu yang lama dan masih sulit untuk diproduksi, dengan teknologi (layar, engsel, dan arsitektur internal) yang juga masih sangat baru, tentu saja membuat harganya menjadi sangat tinggi. Harga jual saat ini jika dirupiahkan, sekitar Rp35 jutaan.

Jadi, meskipun smartphone lipat ini bakal menjadi tren ke depan, paling tidak, baru akan booming jika harganya lebih masuk akal. Beberapa survey yang dilakukan beberapa media teknologi juga menunjukan ketidaktertarikan perangkat ini lantaran harganya yang masih mahal.

Salah-satunya survei yang dilakukan oleh Nikkei Asia, dimana 76 persen peserta polling belum berminat meminang smartphone layar lipat ini. Begitu juga hasil survey yang dilakukan oleh Phonearena, dimana 83 persen peserta survey masih enggan mengeluarkan yang banyak untuk smartphone lipat.

Analis industri seperti dikutip PULSA dari Nikkei Asian Review (27/2) menyatakan tidak terkejut dengan temuan jajak pendapat tersebut. "Saya percaya untuk dua hingga tiga tahun ke depan, ponsel lipat hanya akan menjadi produk khusus daripada perangkat mobile utama," kata seorang eksekutif di perusahaan yang memasok Samsung, Huawei dan Apple kepada Nikkei Asian Review.

Sementara Jeff Pu, dari sumber yang sama, seorang analis teknologi di GF Securities yang berbasis di Hong Kong, setuju, mengatakan hasil jajak pendapat sesuai dengan perkiraannya.

"Kuncinya adalah mereka terlalu mahal. Saya pikir hasil survei untuk ponsel yang dapat dilipat akan terbalik jika harga antara $800 dan $900, tingkat harga yang sama dengan seri Note Samsung," Pu mengatakan kepada Nikkei.

Namun, mendorong penjualan smartphone layar lipat, bukan prioritas utama baik Samsung maupun Huawei, menurut Pu. "Perusahaan perlu memperkenalkan mereka ke pasar sehingga mereka dapat mengumpulkan umpan balik dari konsumen dan menyempurnakan produk sambil melatih rantai pasokan mereka untuk teknologi," kata Pu. "Selain itu, ini adalah kesempatan bagi mereka berdua untuk membangun citra merek mereka sebagai perusahaan terkemuka untuk smartphone lipat."

Pernyataan Pu ada benarnya, meski smartphone lipat tak bisa mengambil ceruk besar dalam penjualan di tahun-tahun awal, paling tidak Samsung dan Huawei sudah dikenal sebagai perusahaan yang lebih terdepan dalam inovasi lewat smartphone lipat. (*)