pulsa-logo

Sanksi AS untuk Huawei, Siapa Diuntungkan?


dian iskandar

Selasa, 18 Juni 2019 • 14:17

huawei, samsung, apple, google, android, canalys


Sesi pengenalan Huawei Mate 20 di Jakarta (PULSA)Sesi pengenalan Huawei Mate 20 di Jakarta (PULSA)

Sudah dua minggu lebih sejak Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan teknologi asal Cina Huawei yang mengakibatkan guncangan di sektor teknologi. Sanksi terhadap Huawei itu dengan membatasi akses atau kerjasama dengan perusahaan-perusahaan asal AS tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Dimasukkan dalam blacklist, Huawei praktis tak dapat membeli teknologi AS. Sebelumnya, Chief Financial Officer Huawei Meng Wanzhou ditangkap di Kanada atas perintah AS karena tudingan melanggar embargo perdagangan dengan Iran. Sementara alasan AS memberikan sanksi terhadap Huawei karena alasan keamanan.

Dengan sanksi tersebut, beberapa perusahaan teknologi asal AS diketahui sudah mulai membatasi kerjasama dengan pihak Huawei.  Bahkan, perusahaan lain yang diluar AS yang termasuk dalam sekutunya ikut melakukan hal yang sama. Beruntungnya pada saat artikel ini ditulis (13/6) tanda-tanda AS bakal mengakhiri atau meringankan sanksi terhadap Huawei sudah mulai terlihat. Tapi jia sanksi ini terus berlanjut siapa yang bakal diuntungkan?

Sebetulnya hingga saat ini sanksi AS belum berpengaruh terhadap pada bisnis smartphone Huawei.  Satu-satunya yang sudah mulai terlihat dampaknya adalah pada bisnis notebook. Seperti dilaporkan CNBC Kamis (13/6) Huawei membatalkan peluncuran produk laptop Matebook karena sanksi AS. Tapi bisnis notebook tidak terlalu besar untuk Huawei.

Meski demikian, jika sanksi AS berlanjut diperkirakan akan memiliki dampak yang lebih besar pada industri ponsel pintar global daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sebagai contoh, analisis terbaru oleh perusahaan intelijen pasar terkenal, Canalys, memperkirakan tahun suram untuk penjualan ponsel pintar global dengan perkiraan penurunan 3,1 persen dibandingkan dengan tahun 2018. Canalys memprediksi tahun ini volume pengiriman akan mencapai 1,35 miliar unit yang sedikit di bawah angka 1,39 miliar tahun lalu.

Larangan penjualan peralatan Huawei ke perusahaan-perusahaan AS dan tindakan serupa yang membuat perusahaan-perusahaan AS dari menjual teknologi ke Huawei tanpa izin akan berdampak langsung pada penjualan, paling tidak untuk perangkat Huawei. Menurut perkiraan terbaru, pembatasan dan faktor-faktor lain akan berdampak negatif pada pengiriman untuk sisa tahun ini.

Siapa diuntungkan?


Bagi Huawei, tahun ini seharusnya menjadi momen untuk menapaki jenjang sebagai produsen smartphone terbesar di dunia. Perusahaan berlogo bunga lili merah itu memasang target pada 2020 bisa menyalip Samsung. Berdasarkan laporan kuartal pertama 2019 yang dirilis IDC menunjukkan kinerja Huawei yang semakin kinclong. Huawei berhasil memepet Samsung yang berada di puncak dan melangkahi Apple di posisi kedua.

Sayangnya, adanya sanksi AS ini membuat ambisi Huawei harus tertunda. Seperti dikutip dari Techrar (11/6) Huawei mengatakan ambisinya untuk menjadi pabrikan smartphone nomor satu dunia, masih harus tertunda. Menyusul serangkaian masalah yang menerpa perusahaan Cina tersebut.

“Kami harusnya bisa jadi yang terbesar pada kuartal keempat (tahun ini),” kata Chief Strategy Officer dari Huawei Consumer Business Group, Shao Yang seperti dikutip TechRadar. “Namun sepertinya, proses itu masih akan membutuhkan waktu (untuk diwujudkan),” tambah Shao Yang.

Huawei P30 ProHuawei P30 Pro

Kondisi ini tentu akan menguntungkan bagi rival Huawei. Untuk Samsung misanya, posisinya mungkin tak akan tergoyahkan hingga tahun depan. Begitu juga dengan Apple yang sangat mungkin bisa memperbaiki posisinya di barisan kedua pabrikan smartphone terbesar.

Huawei adalah pesaing terbesar Samsung di pasar smartphone dunia. Tetapi tanpa dukungan Google Android, bisa jadi sulit bagi Huawei untuk berekspansi ke luar Cina. Ini bisa membuat posisi Samsung di puncak pasar ponsel pintar menjadi lebih pasti, meninggalkan Apple sebagai satu-satunya ancaman.

Meskipun Samsung masih punya pekerjaan rumah untuk menyelesaikan jadwal peluncuran perangkat terbarunya yang fenomenal perangkat layar lipat Galaxy Fold. Tetapi menurut Business Insider, keputusan pemerintah Trump untuk memasukkan Huawei ke daftar hitam perdagangan AS bisa menjadi uluran tangan Samsung untuk mempertahankan statusnya sebagai negara adikuasa smartphone yang tak tertandingi di dunia.

Sanksi AS telah memaksa perusahaan teknologi seperti Google dan Intel untuk menangguhkan bisnis dengan Huawei. Itu berarti ponsel Huawei di masa depan tidak akan dapat berjalan di sistem operasi Google Android, perangkat lunak seluler paling populer.

Sementara Huawei mengatakan telah membangun sistem operasi smartphone buatannya sendiri yang akan siap tahun depan, tidak ada jaminan bahwa konsumen akan membeli smartphone Huawei jika mereka memiliki sistem operasi baru yang belum dikenal, terutama jika itu berarti smartphone tersebut tidak dibekali dengan layanan popular milik Google seperti Gmail dan Google Maps.

Sehingga menurut Business Insider itu berpotensi berita baik bagi Samsung, yang terus kehilangan pangsa pasar. Dalam tiga bulan pertama tahun 2019, Samsung menyumbang 23,1% dari pasar ponsel pintar di seluruh dunia, mewakili penurunan 8,1% dari periode tahun lalu, menurut International Data Corp. Posisi Huawei melonjak 50% dari tahun ke tahun untuk mengklaim pangsa pasar 19% di kuartal pertama.

Gerai SamsungGerai Samsung

Selain Huawei, tidak ada pabrikan smartphone lain yang bisa mendekati Samsung dalam hal pangsa pasar global. Apple berada di posisi ketiga dengan 11,7% pada kuartal pertama 2019, sedangkan produsen smartphone yang berbasis di Cina Xiaomi berada di peringkat keempat dengan 8%.

Jika Huawei sampai mengalami penurunan dalam penjualan smartphone sebagai akibat dari persyaratan baru pemerintah AS ini, bukan tidak mungkin pesaing seperti Apple dan Xiaomi bisa mengejar ketinggalan untuk membahayakan posisi Samsung di puncak.

Pasar smartphone sendiri sering berfluktuasi pada setiap kuartalnya berdasarkan berbagai faktor, seperti posisi Apple dan Huawei yang biasanya berpindah-pindah tempat di urutan kedua di belakang Samsung. Pada kuartal keempat tahun 2018, misalnya, Apple memegang 18,2% pasar smartphone global, mendekati posisi Samsung yang 18,7%. Sementara Huawei berada di posisi ketiga dengan 16,1% meskipun Huawei mengalami pertumbuhan 43,9% tahun-ke-tahun, sementara pertumbuhan Apple dan Samsung menurun.

Tetapi beberapa analis percaya bahwa reaksi terhadap Huawei di AS dapat merusak bisnis Apple di Cina. Sebuah tim analis di UBS baru-baru ini mengeluarkan catatan yang menyebut perlakuan Huawei di AS berpotensi bagi Apple, sentimen nasionalis kadang-kadang mempengaruhi barang asing di Tiongkok. Menurut Buzzfedd seperti dilansir Business Insider orang-orang di Cina juga baru-baru ini menyerukan boikot produk Apple setelah keputusan pemerintah Trump untuk memasukkan Huawei ke daftar hitam perdagangan.

Yang pasti, posisi smartphone Samsung tidak begitu kuat di Cina, menurut data dari Counterpoint Research, raksasa teknologi yang berbasis di Seoul itu bahkan tidak termasuk dalam peringkat vendor smartphone terbaik di wilayah tersebut. (*) Isk/berbagai sumber