pulsa-logo

Perang Megapiksel Dulu dan Sekarang, Apa Bedanya!


dian iskandar

Jum'at, 25 Oktober 2019 • 12:20

realme, samsung, redmi, xiaomi, kamera smartphone, iphone,


Kompetisi antar merek smartphtone tampaknya akan mengulang masa lalu dimana ukuran megapiksel menjadi ujung tombak marketing yang cukup jitu untuk bisa lebih bersaing meraup pasar. Jika Anda masih ingat, sekitar tahun 2009-an, dimana merek-merek lokal masih berjaya, ukuran megapiksel menjadi salah-satu pertimbangan penting dalam memilih ponsel.

Padahal, waktu itu banyak juga yang akhirnya tertipu dengan besarnya ukuran megapiksel lantaran besarnya megapiksel yang ditawarkan merupakan hasil interpolasi melalui software atau dikenal dengan istilah zoom digital.

Tapi, perang fitur kamera dengan megapiksel besar bukan hanya dilakukan oleh merek-merek lokal saja. Sekaliber Nokia juga pernah mengeluarkan ponsel dengan kamera 41 megapiksel. Ya, Nokia 808 PureView pada tahun 2012 silam. Waktu itu, Nokia bisa dikatakan sebagai pemenang dan merek PureView pun hingga saat ini masih menjadi salah-satu paling diperhitungkan untuk kamera smartphone.

Singkat cerita, perang megapiksel ini akhirnya melemah dengan sendirinya. Trend ini dimulai oleh Apple lewat iPhone yang tak terjebak dengan besaran megapiksel. Pendekatan kamera iPhone lebih kepada kualitas hasil foto dimana kemampuan sensor kamera menjadi sangat penting.

iPhone 4S yang dirilis pada 2011 hanya dibekali kamera 8 megapiksel, namun ditopang oleh optik solid dan antarmuka yang mudah digunakan. Lalu dilanjutkan dengan iPhone 5 yang menghadirkan area sensor yang lebih besar untuk pemotretan rendah cahaya berkat lensa f/2.2, True Tone flash untuk white balance yang lebih baik, pengukuran matriks autofocus, stabilisasi gambar digital, dan slow motion 120 fps serta banyak lagi.

Barulah dengan iPhone 6 Plus ada stabilisasi gambar optikal, dan disusul oleh iPhone 6S pada 2015 dengan lompatan resolusi besar pertama sejak iPhone 4S, dengan 12 megapiksel. iPhone 6S juga menjadi iPhone pertama yang bisa merekam video 4K. Nah, hingga sekarang standar kamera iPhone adalah 12 megapiksel. Begitu juga dengan Samsung kelas flagship seperti pada seri S.

Megapiksel Besar


Buat sebagian merek, besarnya ukuran megapiksel pada hasil kamera masih ampuh untuk dijual. Tapi semua itu cukup beralasan. Menurut wakil presiden bidang hardware Google, Rick Osterloh, seperti dikutip PULSA dari The Wired mengatakan, “Saya tidak iri dengan Anda yang harus menulis ulasan untuk sekelompok smartphone dengan spesifikasi yang sangat mirip. Megapiksel di kamera, kecepatan prosesor, throughput modem, masa pakai baterai, kualitas tampilan... Fitur-fitur inti ini adalah menjadi taruhan sekarang ... Sejujurnya, akan lebih sulit dan lebih keras bagi orang dalam mengembangkan produk baru yang menarik setiap tahun , karena itu bukan lagi jadwal lompatan besar dalam perangkat keras saja," kata Osterloh.

Apa yang mungkin ingin disampaikan oleh Osterloh adalah bahwa ketika kita membeli smartphone setiap tahunnya, para pabrikan sendiri menghadapi kejenuhan. Pembuat chipset telah mengembangkan prosesor smartphone yang lebih efisien, tetapi "penggandaan kinerja" sepertinya tidak terjadi lagi. Teknologi baterai juga demikian, belum ada yang lebih baik dari Lithium, sementara kualitas layar meskipun canggih, juga telah mencapai titik jenuh, yang dulunya dianggap terlalu mahal, sekarang bahkan sudah digunakan untuk segmen yang lebih terjangkau.

Dan dengan kejenuhan ini, menurut Prasid Banerjee, blogger yang tulisannya dimuat di livemint.com memaksa para pabrikan smartphone kembali ke dasar yakni perang megapiksel. Dimulai dengan sensor 48MP yang diumumkan oleh Sony dan Samsung, akhirnya membuat Xiaomi, Realme, OnePlus dan banyak merek lainnya telah menggunakan sensor ini.

Kamera 64 MP Redmi Note 8 ProKamera 64 MP Redmi Note 8 Pro

Xiaomi bahkan mengumumkan smartphone dengan sensor kamera 64MP baru-baru ini. Di Indonesia Xiaomi mengumumkan kehadiran Redmi Note 8 Pro pada 17 Oktober lalu sebagai smartphone pertama yang memiliki kamera 64 megapiksel di Tanah Air. Sementara pesaingnya Realme juga telah menyiapkan perangkat dengan kamera yang sama satu minggu berikutnya. Karena keduanya menggunakan sensor Samsung ISOCELL, kemungkinan Samsung juga bakal memiliki model dengan sensor serupa.

realme XT dengan 64MP camera (realme)realme XT dengan 64MP camera (realme)

Nah selain sensor kamera 64 megapiksel, Samsung juga telah mengungkapkan sensor kamera 108 MP miliknya. Dengan nama Samsung ISOCELL Bright HMX, ini merupakan sensor kamera 108 MP pertama untuk smartphone dan terbesar. Xiaomi juga disebut-sebut bakal menjadi merek pertama yang menggunakan sensor ini.

Sensor Samsung ISOCELL Bright HMX sendiri hadir bukan sekadar memiliki resolusi besar. Namun juga memiliki ukuran fisik luas, 1/1,33 inci. Ukuran sensor ini 125 persen lebih besar dibandingkan Samsung 48 MP ISOCELL Bright GM1. Namun untuk 108 MP ini juga memiliki ukuran piksel 0.8 μm.

Bagaimana Sensor Kamera Ini Bekerja?

Menurut Prasid, perangkat lunak menjadi penentu pada kemampuan sensor kamera pada smartphone. Seperti halnya soal sensor 48 megapiksel yang menurutnya bukan soal resolusi. Mereka menggunakan ekstra piksel untuk proses yang disebut pixel binning, yang menggabungkan empat piksel untuk membuat satu piksel besar, guna meningkatkan pencitraan pada cahaya rendah. Jadi, hasil foto terbaik  pada kamera ini adalah pada 12 megapiksel, meskipun ini masih bisa didebat.

Pengertian pixel binning ini, seperti yang kamu rangkum dari AndroidAuthority adalah proses yang melihat data dari empat piksel digabungkan menjadi satu. Jadi sensor kamera dengan piksel 0,9 mikron akan menghasilkan piksel yang setara dengan 1,8 mikron piksel saat mengambil bidikan binned piksel.

Jika diibaratkan, pixel binning ini sama dengan menggabungkan isi di beberapa ember kecil menjadi satu di ember yang lebih besar saat dibutuhkan. Kelemahan terbesar dari teknik ini adalah bahwa resolusi Anda secara efektif dibagi empat ketika mengambil bidikan piksel-binned. Jadi itu berarti bidikan yang diposisikan pada kamera 48MP sebenarnya adalah 12MP.

Dengan pixel binning, sensor dapat mengambil lebih banyak cahaya, tetapi ada faktor-faktor lain yang terlibat - seperti bukaan lensa dan bagaimana cahaya difokuskan pada sensor. Sensor kamera pada smartphone biasanya tergantung pada aperture lensa tidak seperti DSLR, dan inilah mengapa meski memiliki sensor dengan resolusi tinggi tetapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan kamera profesional.

Karena keterbatasan inilah kemampuan kamera smartphone sangat tergantung pada perangkat lunak. Bukti yang paling menarik adalah adalah perangkat Google Pixel, yang telah teruji memiliki kamera terbaik dalam tiga tahun terakhir tanpa menggunakan sensor beresolusi tinggi. Google melakukan ini dengan menggunakan sejumlah besar data yang dimilikinya di hampir semua hal, seakan menunjukkan kepada kita awal dari fotografi komputer yang kian merayap ke kamera smartphone.

Jadi, menurut Prasid, sensor "resolusi super tinggi" ini mungkin bukan jawaban untuk masalah yang dihadapi kamera smartphone saat ini, membuat perang megapiksel menjadi sia-sia. Walaupun sensor-sensor ini, tentu saja, terdengar hebat pada lembar spesifikasi, mereka tidak serta merta membuat kamera smartphone lebih baik.

Memang, kondisi ini sudah berbeda ketika perang megapiksel pertama kali dimulai, waktu itu resolusi yang lebih tinggi dihasilkan lewat proses yang sederhada dan tidak ditopang dengan perangkat lunak yang memadai. Tetapi sekarang, kemampuan mengolah data sudah sangat baik, dan kecerdasan buatan (AI) serta perangkat lunak lainnya semakin berperan. (*)