pulsa-logo

Tingkatkan Manajemen Cloud dengan Service Lifecycle Management


Fauzi

Senin, 23 Maret 2015 • 10:33

Citrix, Cloud, Cloud Computing, harga ponsel,ponsel, tabloid tabloid pulsa


Mark Micallef, Area Vice President Citrix ASEANMark Micallef, Area Vice President Citrix ASEAN

Saat ini banyak perusahaan mengadopsi teknologi cloud untuk mengotomatisasi berbagai fungsi TI, baik itu publik, swasta atau hybrid. Menurut Gartner, pengeluaran perusahaan untuk jasa cloud publik di Asia Pasifik akan mencapai USD 7,4 miliar pada tahun 2015 - meningkat  sebesar 14,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Greythorn, Cloud market in Asia-Pacific set for growth, January 20, 2015). Tahun ini, para CIO juga diprediksi pindah ke cloud hybrid dan, dalam perjalanannya, akan menemui berbagai kekurangan dalam manajemen pelayanan (International Data  Corporation (IDC), Asia/Pacific Cloud Services).

Tetapi apakah perpindahan ke cloud ini menyederhanakan cara organisasi menggelar aplikasi bagi para penggunanya? Anda mungkin berpikir jawabannya adalah ya, kalau tidak, kenapa menggunakan cloud? Namun banyak yang akan setuju bahwa jawabannya tidak sesederhana itu. Cloud mampu meningkatkan efisiensi dalam beberapa hal (terutama dalam pengelolaan infrastruktur), tetapi memiliki potensi untuk menambah kerumitan di sisi lain, seperti pengelolaan data, sumber daya dan aplikasi yang tersebar di beberapa cloud.

Banyak organisasi tidak bergantung hanya pada satu penyedia atau metode penggelaran cloud. Kurangnya standarisasi dengan berbagai platform dan metode penggelaran cloud membuatnya lebih kompleks untuk mengelola aplikasi bisnis yang dirilis untuk mengubah perpaduan dari pusat data internal, cloud publik, cloud swasta dan cloud hybrid.

Karena cloud memainkan peran sentral dalam infrastruktur TI organisasi, Mark Micallef, Area Vice President Citrix ASEAN, berbagi tentang konsep Service Lifecycle Management dapat membantu mengatasi tantangan kerumitan ini.

Munculnya Service Lifecycle Management

Banyak organisasi mulai menyadari dan menghargai pentingnya bisnis yang berpusat pada konsumen (customer-centric business). Service Lifecycle Management (SLM) adalah strategi bisnis yang mendorong organisasi layanan untuk secara proaktif mencermati peluang layanan sebagai sebuah siklus hidup (bukan sebagai rangkaian tersendiri dari kemampuan-kemampuan diskrit) seperti penyediaan desktop virtual dan jaringan cloud. Singkatnya, SLM menggabungkan setiap tindakan berbasis layanan ke dalam alur kerja dan proses bisnis.

SLM juga memungkinkan perusahaan untuk melakukan pendekatan yang fokus pada pelanggan dalam memberikan teknologi informasi, saat organisasi terus mencari cara untuk beradaptasi dengan kebutuhan dinamis pelanggan mereka.


Bagaimana Service Lifecycle Management melaksanakannya?

Berbagai teknologi dan solusi yang datang bersamaan, antara lain cloud, virtualisasi dan manajemen mobilitas, dan memberdayakan karyawan untuk memilih kapan, bagaimana dan dengan perangkat apa mereka akan bekerja, telah menjadi lebih kompleks. Namun fleksibilitas ini mendorong produktivitas bisnis, sehingga harus dirangkul.

Perusahaan saat ini membutuhkan alat yang dapat menyederhanakan kompleksitas yang ada di berbagai penggelaran cloud, dengan tetap memberikan pengalaman pengguna akhir tanpa hambatan. SLM adalah pilihan yang memungkinkan organisasi untuk menyederhanakan penggelaran dan pengelolaan berbagai solusi TI, termasuk aplikasi desktop dan virtualisasi. Tujuannya adalah agar TI mempunyai kendali dan manajemen yang lebih besar, namun lebih mudah dengan mengintegrasikan solusi titik (point solutions) untuk menyatukan semua aplikasi, data dan layanan, terlepas dari jumlah solusi vendor.

Dengan memperlakukan infrastruktur sebagai komoditas, organisasi dapat menempatkan nilai bisnis lebih dalam aplikasi. Mengotomatisasi tugas-tugas rutin manajemen aplikasi, memungkinkan pemilik aplikasi untuk berfokus pada nilai sebenarnya dari aplikasi itu sendiri.

Membangun kemampuan SLM di atas solusi mobilitas perusahaan yang digunakan saat ini memungkinkan desain dan penyediaan ruang kerja mobile dengan lebih cepat dan sederhana. Citrix baru saja mengakuisisi ScaleXtreme, sebuah perusahaan dengan keahlian mengelola aplikasi yang berjalan di beberapa lingkungan cloud. Dengan teknologi ScaleXtreme itu, Citrix berusaha untuk memanfaatkan arsitektur Software-as-a-Service (SaaS) yang dapat menjalankan tugas-tugas otomatisasi dan pencatatan (script) secara efisien. Organisasi dapat membuat dan menggunakan cetak biru yang menentukan bagaimana tugas-tugas yang terkait dengan penggelaran dan pengelolaan infrastruktur aplikasi dan sumber daya virtual dapat berjalan secara otomatis. Cetak biru ini dapat dilaksanakan setiap saat dengan memanfaatkan agent yang dipasang di datacenter atau di sumber daya yang dikelola, sehingga memungkinkan terjadinya orkestrasi kompleks.

Standardisasi adalah kunci

Dengan standarisasi dan otomatisasi desain, penggelaran, manajemen dan pemantauan dari berbagai solusi TI secara berkelanjutan, akan tercipta potensi untuk meluas ke berbagai jenis cloud, serta infrastruktur virtualnya. Dengan mengoptimalkan semua teknologi dan solusi ke dalam satu sistem lintas-fungsi, organisasi dapat fokus pada pertumbuhan strategis dan profitabilitas, serta nilai bagi pelanggan. Model SLM yang didesain sekali dan bisa digelar dimana saja dapat secara dramatis menyederhanakan dan mengotomatisasi pengelolaan beberapa cloud dan memudahkan tugas TI. Munculnya SLM dalam pengelolaan cloud, meski masih pada tahap awal, namun merupakan wilayah yang menarik untuk diperhatikan.