pulsa-logo

Kunggulan Google Glass Tampil di Film Horor 'Jeruzalem'


Nariswari

Senin, 15 Februari 2016 • 14:50


Anda pecinta film horor? Siap-siap karena akhir Februari ini, Epic Picture yang merupakan rumah produksi film di Israel, bakal merilis film terbaru bergenre horor yakni "Jeruzalem". Film ini dikemas dengan konsep jauh berbeda dari film horor pada umumnya. Film yang disutradarai oleh kakak-beradik Doron dan Yoav Paz ini uniknya mengangkat keunggulan Google Glass, hampir di sepanjang alur dan plot cerita.

Film ini disebutkan tidak terlalu menakutkan dan tidak terlalu eksplisit mengumbar darah dan kekerasan. Namun salah satu kemajuan teknologi terbaru yang mungkin asing bagi orang awam menjadi titik utama. Adalah kacamata pintar yang dipakai oleh tokoh utama bernama Sarah Pullman, disebutkan sebagai perangkat "found footage", dimana dipercaya dapat menambahkan dimensi kreatif ke cerita yang melampaui film lain dalam pada genre yang sama.

Cerita di film horor ini sejatinya cukup sederhana. Rachel dan temannya Sarah melakukan perjalanan ke Israel pada musim liburan. Saat mereka berada di pesawat, mereka bertemu seorang pria yang kemudian menyertai mereka dalam perjalanan ke Yerusalem. Di kota inilah nantinya tiap masalah muncul, kota ini kemudian dikarantina dan Rachel dan teman-temannya berjuang untuk menemukan jalan keluar untuk menghindari zombie atau mahluk neraka yang bangkit dari Kota Suci Yerusalem.

Sepanjang film, Sarah selalu menggunakan Google Glass. Mulai dari awal dia dibelikan oleh ayahnya, dipakai dan dicoba untuk disesuaikan dengan pengelihatannya. Tiap Sarah melihat objek baru, orang-orang yang baru ditemuinya, hingga tempat baru, Google Glass langsung mengenali (recognizing) dan mengolah data dari segenap informasi dan menyajikannya ke layar Google Glass.

Misalnya saat Sarah mengunjungi sebuah bar kecil di Yerusalem, ada beberapa pemuda yang tersenyum dan mengajaknya dansa. Google Glass yang dipakai Sarah langsung memindai wajah pemuda-pemuda tersebut, dan mencari informasi mereka melalui jejaring sosial seperti Facebook. Dan jika yang bersangkutan memiliki akun Facebook, maka nama, foto profil yang bersangkutan akan langsung tertampil di layar Google Glass.

Hampir di semua adegan Sarah banyak dibantu oleh Google Glass. Tidak hanya sebagai perangkat identifikasi karakter, namun Google Glass beberapa kali digunakan Sarah untuk memainkan musik, akses GPS untuk navigasi rute, browsing internet (termasuk situs populer seperti Facebook dan Wikipedia), melakukan panggilan internasional melalui Skype, dan merekam segala sesuatu baik dalam bentu foto dan video. Sarah hanya perlu bicara, "Ok, Glass. Play music!" atau "Ok, Glass. Take Photo!".

Meskipun ada beberapa bagian cerita yang tampaknya dipaksa untuk gimmick, terutama saat Rachel membutuhkan kacamata dan kacamata minus yang diresepkan oleh dokter matanya dicuri tidak lama setelah ia tiba di Yerusalem, seakan memaksanya untuk terus menggunakan kacamata pintar.


Akan tetapi hal itu dapat dikesampingkan jika kita melihat bentuk kreatifitas dari penggunaan Google Glass sebagai bentuk yang mengesankan dari teknologi yang benar-benar membantu dalam pembuatan sebuah film. Tidak heran jika penggunaan Google Glass di sepanjang film ini juga ramai diperbincangkan di forum film di Reddit.

Sebenarnya sebelum Jeruzalem, ada satu film lainnya yang pernah menggunakan gimmick serupa, tapi bukan menggunakan Google Glass, melainkan kamera tersembunyi yakni film horror "V/H/S". (Nariswari)

sumber