pulsa-logo

Gara-Gara Hybrid, Pasar Tablet Menyusut


Arief Burhanuddin

Selasa, 29 November 2016 • 16:49

Gara-Gara Hybrid, Pasar Tablet Menyusut Pasar tablet kembali mengalami kuartal yang berat.


Menurut data lembaga riset IDC (International Data Corporation), pengapalan tablet secara global pada kuartal ketiga sebanyak 43 juta unit atau turun 14,7 dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Sebagai perbandingan, pada kuartal yang sama tahun sebelumnya, angka pengapalan tablet ke seluruh dunia mencapai 50,5 juta perangkat.

Apple masih menduduki tahta sebagai penguasa tablet, namun penjualannya menurun sebesar 6,2 atau hanya mengapalkan 9,3 juta perangkat hingga kuartal ketiga tahun ini. IDC sendiri memperkirakan bahwa Apple saat ini menguasai 22 pasar tablet dunia.

Samsung mengikuti Apple sebagai penguasa nomor 2 pasar tablet dunia demgan 15 market share. "Insiden" penarikan Galaxy Note 7 akibat malfungsi baterai ternyata tidak mempengaruhi bisnis tabletnya.

Meski demikian, Samsung tampaknya memang harus mengakui bahwa jumlah pengiriman tabletnya turun 19,3 menjadi hanya 6,3 juta unit saja pada kuartal ketiga tahun ini.

Laporan dari IDC juga menyebutkan bahwa penurunan pengiriman tablet Samsung dipicu oleh "terlalu percaya dirinya" Samsung terhadap pasar perangkat jenis "slate". Tablet yang masuk kategori slate misalnya iPad yang umumnya tidak memiliki keyboard fisik dan biasanya dioperasikan denga menggunakan layar sentuh atau pen stylus.

IDC mengatakan bahwa selama kuartal ketiga, pengiriman laptop murah dan model yang dapat dilepas pasang (detachable) mencapai angka tertinggi dan produk-produk tipe ini telah membanjiri pasar pada periode ini.Perangkat "detachable" merupakan tablet hybrid yang ketika dipasang utuh bersama keyboard fisik berfungsi layaknya laptop dan jika monitornya dilepas bisa berfungsi sendiri layaknya tablet.


Desember tahun lalu, IDC sudah memperingatkan bahwa penjualan perangkat hybrid mengalami peningkatan sementara pasar tablet mengalami penurunan.

Meski diakui bahwa perangkat 'bongkar pasang' tampaknya masih akan terus meraih popularitas, namun IDC memperingatkan soal kualitas gadget jenis baru tersebut.  Produk hybrid dengan biaya produksi kurang dari 200 dolar Amerika per unit cenderung memiliki kualitas yang rendah. Hal ini bisa jadi malah akan mengecilka  peran tablet hybrid sebagai pengganti PC.

"Perlombaan untuk meraih harga serendah-rendahnya merupakan hal yang sudah pernah Kami alami sebelumnya bersama jenis tablet slate, dan hal ini nantinya akan dibuktikan di pasar bahwa dalam jangka panjang, perangkat detachable bukanlah perangkat yang akan berperan sebagai pengganti potensial PC," Pungkas Jitesh Ubrani, analis senior IDC.

Penjualan Smartwatch juga Terjun Bebas

Tak beda dengan tablet, penjualan jam pintar alias smartwatch juga mengalami penurunan. Angkanya malah lebih parah kare na menurut data lembaga riset IDC (International Data Corporation), pada kuartal ketiga 2016, pasar smartwatch dunia turun hingga 51,6 jika dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Total volume jam pintar yang dikirim selama triwulan ketiga 2016 sebanyak 2,7 juta unit. Hal ini sangat bertolak belakang dengan periode yang sama pada tahun 2015 dimana pada kuartal ketiga, jumlah smartwatch yang dikirim mencapai 5,6 juta unit.

 

Meski secara global pasar smartwatch mengalami penurunan signifikan, namun perlu juga diingat juga soal pengaruh jadwal peluncuran Apple Watch. Di kuartal ketiga 2015, Apple Watch untuk pertama kalinya tersedia secara luas di toko-toko retail setelah sebelumnya hanya ditawarkan secara online. Hal onk turut menyumbang angka penjualan di kuartal tersebut. Sementara Apple Watch generasi kedua muncul kira-kira dua minggu sebelum kuartal ketiga 2016 berakhir, sehingga angkanya tidak terlalu mendongkrak penjualan di periode tersebut.Sementara itu, pendapat menarik dikemukakan oleh Ramon Llamas, Manajer riset untuk tim piranti sandang (wearable) IDC.

"Penurunan tajam dalam volume penjualan smartwatch mencerminkan  bahwa saat ini para pemilik platform dan vendor sedang menata ulang produk mereka," Jelas Llamas.

"Apple sedang mengerjakan tampilan baru watchOS yang belum juga diumumkan hingga peluncuran generasi kedua Apple Watch bulan September lalu. Sedangkan keputusan Google untuk menunda peluncuran Android Wear 2.0 juga membuat vendor-vendor rekanannya  menahan diri untuk mengeluarkan jam pintar terbaru. Hal ini membuat pasar hanya menyediakan jam pintar keluaran lama," Lanjut Llamas.

Jitesh Urbani, analis riset senior IDC menambahkan bahwa fenomena penurunan penjualan smartwatch ini juga membuktikan bahwa jenis perangkat smartwatch bukanlah diperuntukan bagi orang kebanyakan.

"Memiliki fungsi dan kegunaan yang jelas merupakan inti (produk smartwatch). Beberapa vendor berfokus pada fungsi kebugaran agar lebih simpel. Namun supaya memegang peranan di masa depan, vendor harus fokus untuk menyediakan pengalaman yang berbeda antara smartwatch dengan smartphone. Kami juga melihat tanda-tanda bahwa integrasi layanan selular ke dalam smartwatch akan semakin meningkat sementara sebagian konsumen juga sudah mulai mendorong hal tersebut," Tutup Ubrani.

Penulis: Arief Burhanuddin/ berbagai sumber