pulsa-logo

Android Bersiap Hadapi Spyware Paling Tangguh di Muka Bumi


Arief Burhanuddin

Kamis, 06 April 2017 • 11:19

pegasus, pegasus android, pegasus iphone, lookout, virus


Google telah menemukan versi Android dari Pegasus, spyware smartphone yang dibuat oleh NSO Group, sebuah perusahaan pengintai dari Israel yang dianggap sebagai produsen spyware paling maju di planet ini.

 

Pegasus untuk iPhone lebih dulu ditemukan pada bulan Agustus tahun lalu  dan mentarget seorang jurnalis Meksiko dan aktivis UEA Ahmed Mansoor, yang saat ini telah dipenjara di Abu Dhabi. NSO Group adalah perusahaan portofolio dari perusahaan ekuitas swasta Amerika Francisco Partners yang disebut juga memiliki koneksi ke berbagai macam perusahaan pengawasan, dan dalam satu kasus dituduh membantu Turki memata-matai warganya melalui penyedia layanan internet.

 

Pegasus versi Android pertama kali ditemukan pada akhir 2016. Meskipun yang terinfeksi hanya beberapa lusin  saja (dari 1,4 miliar perangkat Android) dan dua sampel kemudian diketahui telah ada sejak tahun 2014, Pegasus masih dianggap mewakili berbagai penemuan penting dalam dunia pengintaian, demikian menurut para peneliti di Lookout. Wakil presiden perusahaan intelijen keamanan Lookout, Mike Murray menulis bahwa penampakan Pegasus di Android adalah "salah satu serangan ponsel paling canggih dan tertarget yang pernah kita lihat di alam liar." Lookout sendiri pernah bersama Google menyelidiki malware bernama Chrysaor dan juga berkolaborasi dengan Laboratorium Publik Universitas Toronto guna mengungkap kehadiran Pegasus di iPhone.

 

Dalam catatan Lookout, Pegasus Android memiliki beberapa fitur canggih: bisa dikontrol melalui SMS dan merusak diri sendiri jika diperlukan. Fungsi Pegasus yang sangta canggih adalah kemampuannya mengambil data dalam jumlah besar, pencurian pesan dan catatan panggilan dari WhatsApp, Facebook, Twitter, Skype dan Gmail, antara lain. Pegasus juga bisa mengontrol kamera dan mikrofon, serta melakukan keylogging dan mengambil screenshot.


 

Sumber foto: Dailymail

Sumber artikerl: Forbes