pulsa-logo

Operator Bersiap Menyongsong 5G


Arief Burhanuddin

Senin, 17 April 2017 • 11:06

Jaringan 5G,


Teknologi 4G belum lagi sempurna, kini operator di Indonesia sudah mulai berlomba memperkenalkan teknologi yang lebih cepat yaitu 5G.

International Telecommunication Union (ITU) dalam definisinya mengatakan bahwa jaringan 5G akan memiliki kecepatan puncak hingga 20Gbps, atau 20 kali lebih cepat dibanding jaringan 4G LTE yang memiliki kecepatan maksimal 1Gbps.

Hal itu diungkapkan sebagai teori, jadi kemungkinan kecepatan teknologi jaringan 5G generasi awal bisa lebih rendah. Saat ini, standar LTE tercepat adalah LTE Cat 9, yang menyediakan kecepatan puncak hingga 300Mbps, jauh di bawah spesifikasi secara teori yakni 1Gbps. Tapi jika ini benar-benar bisa tercapai, Anda hanya butuh waktu 1 detik saja untuk mendownload film HD.

Keputusan operator untuk lebih dini memperkenalkan teknologi 5G bukan tanpa alasan. Yessie D. Yosetya, Direktur/Chief Service Management XL Axiata  mengatakan bahwa awalnya operator meragukan kecepatan adopsi pengguna dari 3G ke 4G mengingat adopsi dari 2G ke 3G sebelumnya sangat lambat. Namun asumsi tersebut ternyata salah karena konsumen begitu cepat menyerap teknologi 4G. Hal itulah yang menjadi dasar bagi XL untuk bersegera mempersiapkan jaringannya guna menyongsong era 5G.

Alasan lain, meskipun jaringan 5G pertama untuk komersial baru akan dimulai pada tahun2020, namun percobaan lebih awal akan dilakukan saat berlangsungnya Olimpiade PyeongChang 2018 di Korea.

Telkomsel telah lebih dulu melakukan uji coba pada bulan Oktober tahun lalu. Bersama dengan Huawei, mereka melakukan uji coba teknologi seluler yang dapat menembus kecepatan akses data lebih dari 1 Gbps dengan menerapkan penggabungan teknologi antena 4x4 Multiple-Input Multiple-Output (MIMO), teknologi modulasi 256-Quadrature Amplitude Modulation (QAM), dan LTE Licensed-Assisted Access (LAA). Dengan teknologi ini maka akan dimungkinkan terjadinya peningkatan kapasitas dan efesiensi secara signifikan dari jaringan 4G yang ada saat ini.

Direktur Network Telkomsel, Sukardi Silalahi, mengatakan, "Uji coba teknologi seluler 1 Gbps ini merupakan salah satu tahapan


menuju diimplementasikannya teknologi 5G di Indonesia. Kami telah mempersiapkan jaringan yang handal untuk memastikan uji coba ini berjalan dengan lancar. Kesiapan dalam uji coba 1 Gbps ini mempertegas komitmen Telkomsel untuk selalu menjadi yang terdepan dalam penerapan roadmap teknologi broadband terkini."

Tak mau kalah, Xl pun mulai bergerak.

12 April lalu, XL Axiata bekerjasama dengan Ericsson Indonesia menyelenggarakan ujicoba teknologi 5G outdoor atau dilakukan di luar ruangan. Penyelenggaraan ujicoba ini merupakan upaya XL Axiata untuk mempelajari lebih dalam mengenai seluk-beluk teknologi 5G dalam rangka persiapan untuk menyongsong implementasi teknologi jaringan tercanggih ini secara global di tahun 2020 mendatang.

Mekanisme ujicoba yang dilakukan adalah dengan menempatkan perangkat radio 5G. Uji coba dilakukan untuk mendemonstrasikan keandalan teknologi ini dalam tingkat kecepatan yang jauh melebihi 4G dengan tingkat latency yang sangat rendah. Perangkat yang digunakan adalah base station 5G, sistem pemancar radio berbasis teknologi 5G dengan teknologi Antenna Integrated Radio, user equipment 5G, dan sarana pendukung lainnya. Dalam demonya, kecepatan sanggup mencapai 5,67Gbps.

Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata, mengatakan, “Ujicoba di luar ruang (outdoor) yang kami lakukan ini, selain untuk secara langsung mengetahui apa saja keunggulan teknologi 5G, sekaligus juga untuk menegaskan konsistensi XL Axiata untuk selalu berinovasi menjadi operator terdepan dalam menjajagi dan mempersiapkan adopsi terhadap tren teknologi terbaru di masa depan. Sebagaimana diperkirakan, teknologi 5G akan mulai bisa diimplementasikan secara global pada 2020, berarti tinggal sekitar 3 tahun lagi, bahkan bisa lebih cepat lagi, karena saat ini pertumbuhan pelanggan/penggunaan layanan 4G sangat cepat sekali diluar prediksi kita semua.”

Thomas Jul, Presiden Direktur, Ericsson Indonesia dan Timor Leste, mengatakan, “Menampilkan 5G demo bersama dengan XL Axiata tidak hanya membuktikan kepemimpinan Ericsson dalam teknologi bergerakgenerasi berikutnya tetapi juga menunjukkan kesiapan jaringan yang ada untuk mendukung 5G dan ekosistem untuk membangun Internet of Things (IoT). Demonstrasi hari ini dengan XL Axiata juga menandai sebuah tonggak penting dalam mewujudkan visi pemerintah Indonesia untuk Digital Indonesia di tahun-tahun mendatang”.

Keunggulan Teknologi 5G

Jika berbicara soal keunggulan teknologi 5G dibanding teknologi sebelumnya yaitu 4G, tentu saja yang paling berbeda adalah soal kecepatan. Seperti disebutkan di atas, kecepatan jaringan 4G hanya mentok sampai 1Gbps, sedangkan jaringan 5G mampu menanggung beban kecepatan hingga 20Gbps atau 20 kali lipat.

Secara teori, jika kita hendak mengunduh file video 4K sebesar 10Gb, maka hanya dibutuhkan waktu 5 detik untuk mengunduhnya dalam jaringan 5G. Banidngan jika menggunakan jaringan 4G, kita membutuhkan waktu 13 menit, dan di jairngan 3G kita malah membutuhkan waktu hingga 22 jam!

Selain soal kecepatan, teknologi 5G juga memiliki latency yang sangat rendah (<=1ms end to end latency). Selain itu, 5G juga mampu menyediakan koneksi simultan hingga kurang lebih 2000 pengguna aktif. Selanjutnya, teknologi jaringan tercanggih ini juga unggul pada sisi penghematan tenaga, bahkan hingga 1000x lebih efisien dibandingkan dengan teknologi perangkat yang ada saat ini.

Penerapan Teknologi 5G dalam kehidupan sehari-hari

Dengan semua keunggulan 5G tersebut, maka banyak hal yang tadinya tidak memungkinkan untuk dilakukan dalam jaringan yang lebih lambat, menjadi sangat mungkin untuk dilakukan. Layanan-layanan digital inovatif yang tadinya hanya berupa konsep bisa menjadi hal yang nyata. Misalnya saja mobil otonom yang sudah mulai diimplementasi di beberapa negara maju. Keunggulan 5G juga akan mampu menopang inovasi digital di berbagai bidang, termasuk kedokteran, selain juga akan mendukung industri robotik dan otomasi.

Implementasi 5G di Indonesia sendiri saat ini masih harus menunggu kesiapan regulasi dari pemerintah dan penyetaraan teknologi serta ekosistem secara teknis. Diperkirakan, semua aspek itu akan rampung di kisaran tahun 2018 - 2020.