pulsa-logo

Raport Vendor Smartphone Global Triwulan I 2017


dian iskandar

Senin, 08 Mei 2017 • 10:09

Raport Vendor Smartphone, pasar semartphone, pasar intelijen


Menarik memang jika kita mencermati pergerakan para vendor smartphone di triwuan pertama (Januari-Maret) 2017 ini. Masing-masing vendor telah mengeluarkan berbagai strategi demi memenangkan persaingan yang semakin ketat. Dimulai dari ajang CES 2017 yang diselenggarkan pada Januari lalu hingga Mobile World Congress 2017 yang diselenggarkan akhir Februari.

Seperti kita ketahui, pemangku pangsa pasar 2016 secara keseluruhan masih dipegang oleh Samsung. Tapi persoalan terkait ditariknya Galaxy Note 7 cukup memukul pabrikan asal Korea Selatan itu. Sehingga tak heran jika pada triwulan akhir 2016 (Oktober – Desember), posisi Samsung dikalahkan oleh Apple.

Menurut catatan Trendforce, market share Apple pada periode triwulan yang sama berada diposisi pertama dengan 20,3%. Apple kala itu cukup diuntungkan oleh kondisi Samsung, ditambah  kemunculan iPhone 7 dan iPhone 7 Plus sangat diterima oleh pasar.

Nah, untuk mengejar ketertinggalan itu, Samsung akhirnya merilis flagship terbaru mereka yakni Galaxy S8 dan Galaxy S8 Plus. Yang menarik dari kedua flagship ini adalah, ukuran layar yang lebih besar dari seri Galaxy Flagship sebelumnya. Menurut beberapa analis, strategi ini diambi Samsung untuk menutupi kekecewaan para penggemarnya terhadap Galaxy Note 7 yang memiliki cirri berlayar besar.

Setelah melakukan beberapa edukasi bahwa produk Galaxy S8 dan S8 Plus ini lebih aman, tampaknya Samsung telah berhasil meyakinkan kembali kepercayaan para penggemarnya. Bahkan boleh dibilang melebihi ekpektasi Samsung sendiri.

Buktinya, masih menurut TrenForce, posisi Samsung di triwuan pertama 2017 berhasil kembali ke posisi pertama. Samsung berhasil menyabet pangsa pasar sebesar 26,1 persen. Disusul oleh Apple diposisi kedua dengan market share 16,9 persen. 

Bahkan, seperti dilansir Phonearena, baru-baru ini analis dari Yuanta Securities mengatakan bahwa dia memperkirakan 50,4 juta unit seri Galaxy S8 terjual secara global tahun ini. Lee Jae-yoon, analis yang dimaksud, mengatakan mencatat Samsung Galaxy S8 Plus menjadi model yang paling laris pada 2017. Model dengan layar yang lebih besar ini semakin disukai pengguna lantaran makin sering menonton konten video dan bermain game di handset mereka.


Menurut Lee, Samsung Galaxy S8 + akan mencetak penjualan 27,1 juta unit di tahun ini, menyumbang 53,9% dari total penjualan Samsung 2017. Sedangkan Galaxy S8 akan terjual 23,3 juta unit (46,1%). Karena Galaxy S8 + lebih mahal dari Galaxy S8, permintaan tinggi untuk perangkat ini akan membantu Samsung meraih tangga teratas.

Sementara itu, tiga vendor asal Cina berhasil masuk lima besar dimana Huawei menempati posisi ketga, disusul Oppo dan Vivo yang berhasil menduduki tangga keempat dan kelima.

Volume Produksi Smartphone Turun

Triwulan pertama 2017 diwarnai dengan penurunan volume produksi smartphone global. Menurut perusahaan intelijen pasar TrendForce produksi smartphone global untuk kuartal pertama 2017 hanya mencapai 307 juta unit, atau turun 23% dari kuartal sebelumnya. Menurut TrendForce, merek smartphone, terutama yang berbasis di Cina, menurunkan perkiraan volume produksi mereka sampai kuartal pertama karena permintaan melambat secara signifikan karena efek musiman biasa.

Meski pabrikan besar seperti Samsung, LG dan Huawei telah mulai mengirimkan perangkat andalan mereka untuk tahun ini, namun permintaan pasar yang akan memasuki kuartal kedua diperkirakan akan tetap relatif lemah karena konsumen menunda pembelian mereka untuk mengantisipasi perangkat iPhone 10th anniversary.

Penjualan smartphone pun diprediksi akan cukup lesu hingga paruh kedua tahun ini. TrendForce memperkirakan bahwa volume produksi smartphone global untuk kuartal kedua ini hanya akan mencatat pertumbuhan satu digit dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya.

Hal ini juga disebabkan oleh melemahnya permintaan di pasar Cina akibat ketidakpastian seputar rencana subsidi yang ditawarkan oleh perusahaan telekomunikasi domestik. Merek utama China menurunkan target volume produksinya dan mengurangi pembelian komponen selama periode tersebut karena ada tambahan satu sampai dua minggu persediaan untuk produk smartphone mereka.

Huawei Salip Oppo di Cina

Triwulan ketiga 2017 ini juga diwarnai persaingan sengit antar vendor Cina di negeri asalnya. Setelah beberapa triwulan terdegradasi ke posisi kedua, raksasa smartphone Cina Huawei berhasil ke posisi puncak. Menurut perusahaan riset Canalys, keberhasilan Huawei merebut posisi puncak di triwulan 1 2017 didorong oleh peluncuran P10 dan P10 Plus yang sukses selama Mobile World Congress. Huawei mengirim hampir 21 juta unit untuk mengamankan pangsa pasar 18 persen, kata Canalys.

Menariknya, Huawei, Oppo dan Vivo bersama sekarang menguasai lebih dari 50 pangsa pasar smartphone di negara ini. Oppo berhasil mencatat penjualan 20 juta unit selama periode tersebut yang menempati posisi kedua, sementara Vivo ditempatkan di posisi ketiga dengan 17 juta unit.

"Pasar smartphone Cina terus bertambah, dengan pengiriman meningkat lebih dari 9 persen pada triwulan pertama ini," jelas Analis Canalys Lucio Chen, seperti dikutip dari laman resmi Canalys.  Menariknya, Xiaomi yang menempati posisi ketiga tahun lalu sekarang merosot ke posisi kelima di belakang Apple, dengan pengirimn lebih dari 9 juta unit di triwulan 1 2017. Namun, perusahaan tersebut berada di posisi tiga besar di India, pasar smartphone terbesar kedua setelah China.

"Untuk tumbuh tahun ini, Xiaomi harus segera beralih dari menjadi vendor bernilai uang untuk menjadi merek aspirasional," kata Analis Riset Canalys Mo Jia. Dia menambahkan bahwa langkah Xiaomi untuk bersaing di Cina akan menjadi perjuangan berat karena Oppo dan Vivo berada di depan dan rencana Huawei untuk mendorong investasi di jalur offline pada 2017.(*)

Isk/berbagai sumber