pulsa-logo

Iklan Video di Indonesia Siap Alami Ledakan Pertumbuhan


Fauzi

Senin, 08 Mei 2017 • 11:10

Iklan Video


Image credit: Shutterstock.com Image credit: Shutterstock.com

Indonesia kembali kedatangan pemain baru di ranah penyedia platform iklan video, SpotX, yang siap menawarkan ke  para pemilik media alat monetisasi untuk desktop, mobile, dan connected devices.

Selama lebih dari 10 tahun, SpotX mengklaim bahwa pihaknya telah menawarkan teknologi yang memberikan kontrol penuh bagi para pemilik media dalam memonetisasikan konten mereka melalui iklan video di seluruh dunia. Menawarkan one-stop solution, SpotX memastikan layanan terbaiknya pada penayangan iklan modern dan kapabilitas programatik yang canggih kepada pasar untuk pertama kalinya.

SpotX hadir di pasar untuk menyediakan berbagai alat yang dibutuhkan oleh para pemilik media untuk memaksimalkan pendapatan video mereka lewat desktop, mobile, dan connected TV, juga memberikan mereka kontrol penuh, transparansi, dan insight yang dibutuhkan untuk mengatasi kecurangan dalam beriklan serta permasalahan mengenai kualitas di pasar.

Alex Merwin, Vice President International and Current Interim MD, SpotX JAPAC mengatakan industri iklan video di Indonesia sangat siap untuk mengalami ledakan pertumbuhan, namun hal tersebut ditahan oleh isu quality control dan kurangnya transparansi.

“Layanan iklan modern dan infrastruktur programatik dipercaya dapat mengatasi isu yang dialami oleh para pemilik media, sambil memberikan para pengiklan sarana untuk menargetkan berbagai macam iklan di layar-layar berbeda. Kami mengharapkan adanya peningkatan signifikan dalam anggaran belanja iklan TV di Indonesia untuk bertransisi ke online video setelah faktor-faktor ini diatasi,” lanjut Merwin. 

Walaupun fakta menunjukkan bahwa Indonesia merupakan “rumah” dari pasar mobile terbesar ke-4 di dunia dan telah lama dianggap sebagai negara mobile-first, para pemilik media di Indonesia dan penerbit online waspada dan ragu untuk memasuki pasar programatik di tahun 2016 lalu. Satu dari banyaknya alasan pada permasalahan ini adalah kurangnya transparansi dalam hal kualitas inventori yang dibeli. Serta, adanya kecurangan yang terjadi, dimana iklan ditayangkan di website yang tidak seharusnya. Sekitar 40% sampai 50% impresi dihasilkan dari website yang kurang berkualitas.

“Sebagian besar pemilik media tidak mendapat akses untuk memonitor iklan yang disediakan atau dalam situasi berbeda, sebagian platform tidak dapat mengukur keterlihatannya. Maka dari itu, dirata-rata setidaknya 65% impresi dihasilkan tanpa adanya pengukuran pada keterlihatannya atau pada kecurangan dalam mendapatkan total views sebelum hal tersebut diberikan kepada para pengiklan,” tambah Merwin.


Tantangan lain yang lebih mendasar, yang dimiliki para pemilik media di Indonesia adalah Indonesia memiliki kecepatan konektivitas paling rendah dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Namun, halangan ini juga akan segera teratasi dengan adanya pengumuman dari pemerintah yang akan melakukan investasi sebesar $1.5 miliar pada koneksi internet cepat, serta pengaruh para pemain telko yang saat ini tengah masuk ke era jaringan LTE untuk mendapatkan mobile data speed yang lebih cepat. Hasilnya, kecepatan dari online video streaming akan meningkat, diikuti dengan pengeluaran dalam belanja iklan.

Indonesia merupakan pasar yang berkembang pesat dalam industri iklan video dan mobile di kelas regional, menurut laporan dari TubeMogul. Bahkan faktanya, pengeluaran terhadap mobile ad akan mengalami peningkatan tiga kali lipat sebesar 15.5% dalam belanja iklan digital di negara. Namun, programatik di Indonesia masih merupakan suatu hal yang baru, dengan pasar yang masih 'tradisional' yaitu ketergantungan semata pada percobaan pemasangan iklan terdahulu dan rasa percaya dalam proses media buying. Sejurus dengan itu, SpotX pun berharap masuknya layanan ad serving dan programatik dapat meningkatkan belanja iklan video di dalam negeri, sesaat setelah proses adopsinya semakin meluas