pulsa-logo

Buntut Serangan WannaCry, Rusia dan AS Saling Tuding Siapa Dalangnya


Nariswari

Selasa, 16 Mei 2017 • 13:12

Ransomeware Wannacry


Heboh serangan ransomware WannaCry ternyata berbuntut panjang, hingga merembet ke masalah tuding-menuding di antara dua negara, Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Tidak terima lantaran dituduh sebagai dalang di balik serangan WannaCry, Rusia melalui presidennya, Vladimir Putin secara tegas menolak tuduhan tersebut.

Dengan tegas, Vladimir Putin, mengatakan Rusia tidak ada hubungannya dengan serangan cyber global besar-besaran WannaCry Ransomware. Hal itu yang dikonfimasikan  oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin  yang  mengatakan pada hari Senin (15/5) melalui konfrensi pers di Beijing, Cina. Sebaliknya, Putin justru mengkritik komunitas intelijen AS karena telah menciptakan perangkat lunak asli.

Seperti dikabarkan sebelumnya,  sebanyak  ratusan ribu komputer di lebih dari 150 negara telah dilanda serangan  cyber mengerikan WannaCry Ransomware,  yang telah digambarkan sebagai  serangan cyber yang terbesar dari jenisnya.

Serangan ini dengan massif-nya dimulai pada hari Jumat (12/5) dan menyerang sistem komputerisasi  bank, rumah sakit dan instansi pemerintah dan  berbagai target lainnya,  yang  memanfaatkan kerentanan yang diketahui menyasar pada sistem operasi besutan Microsoft lawas.

"Sedangkan terkait dengan  sumber ancaman serangan WannaCry Ransomware, pimpinan Microsoft menyatakan hal ini secara langsung, mereka mengatakan bahwa  sumber virus tersebut adalah layanan khusus dari Amerika Serikat. Lalu bagaimana hal ini bisa dituduhkan ke Rusia. Hal ini sama sekali tidak menyangkut dengan Rusia!” ujar Putin.

Ucapan Putin mengacu pada posting blog akhir pekan  lalu yang diposting oleh  Presiden Microsoft , Brad Smith yang menyatakan bahwa Badan Keamanan Nasional AS  (National Security Agency – NSA) telah mengembangkan kode yang digunakan dalam serangan tersebut. Ini mengidikasikan NSA terlibat kuat dalam serangan cyber  WannaCry Ransomware tersebut.

Bocoran informasi tersebut  sebagian mengacu  dari dokumen  rahasia di AS. Menurut Putin, AS menciptakan  kode rahasia yang diformulasikan oleh  dinas rahasia, kemudian dapat menyebabkan kerusakan pada penciptanya sendiri. Seperti efek boomerang.


Beberapa  saat setelah  dunia dibuat panik  dengan serangan cyber WannaCry, AS telah menuduh Rusia  yang  melakukan  serangan cyber tersebut. AS berdalih, bahwa Rusia memiliki rekam jejak  sebagai  dalang  dari beberapa serangan cyber beberapa tahun yang lalu. Jadi, bukan tidak mungkin jika Rusia adalah dalang dari serangan WannaCry Ransomware tersebut. 

Salah satu serangan cyber Rusia yang paling menakutkan adalah pada bulan Maret lalu. Departemen Kehakiman mendakwa dua pejabat Dinas Keamanan Federal Rusia dan dua hacker kriminal dari Rusia  yang mereka duga telah dipekerjakan oleh Pemerintah Rusia  untuk mencuri data dari sekitar 500 juta akun pengguna Yahoo.

Meskipun  kabarnya  tidak ada kerusakan yang signifikan dari serangan cyber ransomware WannaCry terhadap institusi Rusia seperti bank dan rumah sakit,  Vladimir Putin mengatakan bahwa insiden tersebut sudah masuk dalam kategori mengkhawatirkan dan memerlukan pembicaraan politik  sesegera mungkin dengan beberapa negara, termasuk AS. (Naris/Ozi)

Sumber: Gadget NDTV