pulsa-logo

"Instagram Buruk untuk Kesehatan Mental Anak Muda"


Arief Burhanuddin

Senin, 22 Mei 2017 • 16:04

instagram, sosial media


 

Media sosial, selain memberi dampak positf terhadap beberapa bidang seperti bisnis juga malah bisa berpengaruh buruk terhadap hubungan sosial sosial itu sendiri.

 

Berbagai studi ternyata memperkuat argumen tersebut. Terbaru, Royal Society for Public Health Inggris mempublikasikan sebuah hasil penelitian baru pada hari Jum'at (19/5) yang berjudul #StatusofMind. Dalam laporan yang dikutip oleh CN tersebut, kita bisa melihat bagaimana anak-anak muda berinteraksi dengan aplikasi media sosial. Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, mereka mensurvei orang-orang yang berusia  14-23 tahun. Mereka memberikan pertanyaan seputar berbagai masalah seperti kecemasan, depresi, dan citra tubuh dan kemudian menentukan tren berdasarkan jawaban mereka.

 

Royal Society mempelajari lima platform sosial yaitu Instagram, Snapchat, Twitter, Facebook, dan YouTube. Hasilnya, platform Instagram ternyata paling merugikan kesehatan mental orang muda. Satu-satunya platform media sosial yang menerima rating positif secara bersih adalah YouTube, tapi itupun juga tidak terlalu banyak. Platform streaming video tersebut menyumbang hal negatif seperti gangguan tidur, citra tubuh, bullying, dan FOMO (Fear of missing out= ketakutan untuk tidak mendapat update informasi) disamping juga memberikan pengaruh positif seperti kemampuan membangun komunitas dan mengekspresikan diri.

 


"Instagram dengan mudah membuat anak perempuan dan wanita merasa seolah-olah tubuh mereka tidak cukup baik karena orang lain  menggunakan filter dan mengedit gambar mereka agar mereka terlihat lebih sempurna 'sempurna'. Satu responden ketika diminta untuk menjelaskan tentang aplikasi tersebut mengatakan bahwa Instagram memiliki Efek samping berupa kecemasan, depresi, kesepian, gangguan tidur, citra tubuh, bullying, dan FOMO.

 

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa orang-orang yang memakai media sosial seringkali melaporkan tingkat kecemasan dan masalah kesehatan mental yang lebih tinggi. Akibatnya, kelompok tersebut kemudian menginginkan agar platform media sosial - Instagram terutama - untuk dapat mebuat semacam fitur (mislanya berupa pop up) yang bisa memperingatkan pengguna saat mereka sudah melampaui "tingkat penggunaan yang ditetapkan yang berpotensi membahayakan". Dengan demikian, pengguna bisa memutuskan apakah mereka akan meneruskan penggunaan platform media sosial tersebut atau berhenti. Juga, pop up peringatan tersebut bisa menyediakan tautan ke informasi dan saran tentang kecanduan media sosial.

 

Royal Society for Public Health Inggris juga menyarankan agar platform sosial mulai mengeluarkan semacam pemberitahuan jika ada foto tertampil yang telah dimanipulasi atau diedit. Secara detil, belum ada contoh kongkrit mengenai usulan tersebut, namun  hal itu jelas membutuhkan kesabaran karena konten buatan pengguna umumnya sulit dipantau. Meski demikian, Royal Society melalui penelitian tersebut memenyarankan supaya saran-saran mereka segera dapat mulai diaplikasikan.

 

"Brand fashion, selebriti dan organisasi periklanan lainnya mungkin dapat mendaftar ke sebuah lembaga yang kemudian dapat mencantumkan semacam ikon kecil pada foto yang mereka tampilkan. Gunanya untuk menunjukkan bahwa gambar tersebut mungkin telah disempurnakan secara digital atau penampilan orang-orang yang ada di foto tersebut telah diubah secara signifikan."

 

Shirley Cramer, chief executive Royal Society menjelaskan, "platform (media sosial) seharusnya membantu anak-anak muda terhubung satu sama lain dan bukannya memicu krisis kesehatan mental."

 

Presiden Royal College of Psychiatrists mengatakan kepada CNN bahwa dia yakin bahwa media sosial berperan dalam ketidakbahagiaan, meskipun juga memiliki banyak manfaat. "Kita perlu mengajari anak-anak bagaimana mengatasi semua aspek Media sosial - baik dan buruk - untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang semakin terdigitalkan."

 

sumber artikel dan foto: Teen vogue