pulsa-logo

Bisakah Nokia dan Blackberry Menaklukan Pasar Indonesia?


dian iskandar

Rabu, 31 Mei 2017 • 15:39

Nokia vs Blackberry, Pasar Indonesia?, Blackberry android, nokia 3310, BlackBerry merah putih


Ada yang menarik mengenai kiprah dua mantan raksasa smartphone di Indonesia yakni Blackberry dan Nokia. Keduanya adalah pabrikan smartphone yang telah meninggalkan tradisi lama mereka dengan harapan bisa mengobati pengalaman pahit karena harus rela menianggakan status ‘raja smartphone’ di tanah air.

Jika diperhatikan, antara Blackberry dan Nokia punya banyak kesamaan sebelum memutuskan untuk menjajal peruntungan dengan menawarkan perangkat ber-s istem operasi terbesar di dunia yakni Android. Blackberry pernah ‘berjudi’ lewat platform Blackberry 10 dimana pengguna bisa memasang apliasi Android tanpa harus melewati Google Play Store. 

Nokia pun demikian. Pabrikan asal Finlandia itu pernah menawarkan platform Nokia X yang sejatinya adalah berbasis Android Open Source Project dan kernel Linux.  Sederhananya, pengguna bisa memasang aplikasi Android yang juga tidak melalui Play Store.  

Masalahnya adalah, antara Blackberry 10 dan Nokia X tidak mampu menyediakan aplikasi yang beragam.  Ini yang membuat kedua platform tersebut menjadi kaku dan akhirnya tidak begitu diiterima di pasar. Pengguna lebih memilih platform dimana mereka bisa mendapatkan aplikasi dengan mudah dan layanan yang terintegrasi.

Pengalaman tersebut tampaknya dijadikan pelajaran sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan Android. Ibarat pepatah ‘bule’ mengatakan “if you can’t beat them, joint them” (jika tidak bisa mengalahkan mereka, (maka) jadilah kawanannya). 

Uniknya, ketika Blackberry dan Nokia benar-benar serius untuk menggarap smartphone Android ‘sesungguhnya’, mereka pun datang dengan strategi yang sama. Apa itu? Dua-duanya hanya menawarkan lisensi kepada pihak ketiga untuk memproduksi dan memasarkan perangkat tersebut. Meskipun Blackberry juga pernah mengenalkan smartphone Android besutannya yakni seri  Priv.

Nokia berhasil menggandeng HMD sebagai mitra yang membuat dan memasarkan smartphone hasil disainnya sementara Blackberry punya dua mitra untuk saat ini yakni TCL dan perusahaan asal Indonesia BB Merah Putih.


First Impression

Menandai comeback-nya Nokia di industri smartphone, setelah sebelumnya sempat ‘digarap’ oleh Microsoft, Januari lalu mengenalkan Nokia 6.  Berselang 1 bulan kemudian tepatnya di ajang MWC 2017, Nokia juga mengenalkan seri 3 dan 5.

Produk pertama yang dipasarkan adalah Nokia 6 di Cina. Produk ini mendapat sambutan yang cukup baik oleh publik di negeri tirai bambu yang dipasarkan secara online.  HMD bahkan mengaku sempat melakukan tiga kali stok karena begitu cepatnya produk tersebut ludes di toko online JD.com. Produk tersebut dibanderol 1700 Yuan atau sekitar Rp3,4 juta.

Nokia baru memasarkan ketiga produk tersebut secara global pada triwulan kedua tahun ini. Nokia India dan Malaysia diketahui sudah mengadakan program pre-order untuk ketiga produk tersebut. Di Indonesia ketersediaannya seharusnya tak lama lagi.

Berbeda dengan Nokia, Blackberry Android justru sudah lebih dulu muncul. Produk Blackberry besutan BB Merah Putih yang pertama adalah

Blackberry Aurora. Awal kehadirannya di pasar Indonesia, Aurora dibanderol Rp3,4 juta yang berarti ini akan sekelas dengan Nokia 6.

Sayangnya, tidak ada klaim terkait dengan penjualannya. Apakah cukup berhasil atau biasa-biasa saja. Tapi jika Anda berharap produk Blackberry Aurora diantri ribuan orang seperti yang pernah terjadi pada masa jayanya, itu tidak terjadi.

Bakal mengalami persaingan ketat

Meski pernah merajai pasar ponsel di Indonesia, Blackberry dan Nokia tak mudah untuk menakluhkan pasar smartphone lokal. Kondisinya sudah sangat berbeda. Hal ini diyakni oleh International Data Corporation (IDC) dalam sebuah analisa yang menyebutkan bahwa pasar Indonesia akan menjadi sebuah tantangan bagi kedua merek tersebut untuk masuk kembali. Persaingan dalam berbagai bentuk akan sangat menghambat pertumbuhannya di pasar lokal, terutama di ruang smartphone.

Menurut IDC, usaha mereka saat ini dengan beralih ke Android dikombinasikan dengan branding akan membuatnya lebih dapat diterima. Indonesia adalah salah satu pasar BlackBerry dan Nokia terbesar di dunia beberapa tahun yang lalu. BlackBerry berada di posisi # 1 di smartphone Indonesia pada tahun 2012, sementara Nokia / Microsoft berjumlah # 1 dalam jumlah total ponsel (termasuk ponsel berfitur) di tahun yang sama.

Seiring dengan kecanduan keypad QWERTY, messenger BBM memainkan peran besar dalam mendapatkan BlackBerry di tangan pengguna smartphone pada masa itu. Tapi BBM sudah tersedia  di perangkat lain, dan persaingan perangkat juga berubah, terutama dengan hadirnya vendor berbasis China yang agresif seperti OPPO.

"Smartphone Nokia dan BlackBerry memiliki spesifikasi yang layak, namun harganya harus bersaing di mana vendor yang berbasis di Cina telah membuat domain mereka. Vendor Cina ini telah berhasil membangun diri mereka sendiri tidak hanya pada titik harga yang tepat tetapi juga dengan fitur populer seperti kamera selfie. Di sinilah Nokia dan BlackBerry ditantang karena hanya (dengan) memiliki spesifikasi yang layak tidak akan cukup mendapatkan minat beli, "kata Risky Febrian, Analis Pasar Associate untuk Mobile Phone IDC Indonesia seperti dikutiip dari laman resminya (9/5).

Selain itu, peraturan TKDN akan menjadi hambatan lain dimana Pemerintah Indonesia telah memutuskan bahwa semua ponsel 4G harus mematuhi peraturan konten lokal 30% pada tahun 2017. Meskipun hal ini mungkin tidak mempengaruhi masuknya BlackBerry Aurora yang telah mematuhi peraturan tersebut, ini akan berdampak pada daya saing untuk Nokia ketika harus patuh terhadap prosedur, sebab akan memakan cukup banyak waktu untuk mendapat restu dari pemerintah.

Risky menambahkan, "Terlepas dari tantangan tersebut, Nokia dan BlackBerry harus lebih fokus pada strategi pemasaran mereka di Indonesia, karena kombinasi agresif below the line and above the line marketing terbukti berhasil dalam mendorong pertumbuhan penjualan smartphone. di pasar."

Masih menurut IDC, ponsel  fitur Nokia 3310 versi remake bisa menjadi daya tarik karena telah berhasil menarik perhatian orang Indonesia pada merek Nokia. Pada 2016, Nokia memimpin pasar ponsel berfitur dengan pangsa pasar 24,9% di bawah kepemilikan Microsoft. IDC Indonesia memperkirakan bahwa total 49 juta ponsel yang akan dikirim ke Indonesia pada akhir 2017, didominasi oleh smartphone dengan 32 juta unit, dan diikuti oleh ponsel fitur dengan sekitar 17 juta unit. Sementara sistem operasi didominasi oleh Android dengan pangsa hampir 99% di pasaran.