pulsa-logo

Beberapa Komponen Teknologi LTE di Indonesia Bisa Adopsi 5G


dian iskandar

Rabu, 26 Juli 2017 • 18:13

Beberapa Komponen Teknologi LTE di Indonesia Bisa Adopsi 5G,Huawei,jaringan,teknologi 5G


Mohamad Rosidi, Direktur Strategi dan Marketing TIK, Huawei IndonesiaMohamad Rosidi, Direktur Strategi dan Marketing TIK, Huawei Indonesia

Meskipun 5G masih dalam tahap standardisasi, beberapa jaringan pre-commercial akan muncul di dunia global paling cepat di tahun 2018. “Sementara untuk Indonesia, perkembangan jaringan ini sudah baik, namun Indonesia sudah dapatmengadopsi teknologi 5G pada beberapa komponen teknologi LTE yang tersedia. Hal ini dapat membuat jaringan lebih siap satu langkah untuk mengadopsi evolusi 5G selanjutnya di masa depan.

Pengimplementasian jaringan ini dapat meningkatkan kualitas jaringan dan menawarkan efisiensi tinggi dengan menggunakan sumber daya yang sudah ada” ujar Mohamad Rosidi, Direktur Strategi dan Marketing TIK, Huawei Indonesia.

Berdasarkan uji coba kolaboratif antara Huawei dan Telkomsel,implementasi Massive MIMO merupakan salah satu teknologi utama untuk5G, keberhasilan uji coba ini dapat mewujudkan pengalaman 5G di jaringan 4.5G dan juga menandai dimulainya perjalanan 5G bagi Telkomsel di tahun 2017. Di bulan Mei, Huawei dan Telkomsel juga menyelesaikanuji coba langsung (live demo) untuk teknologi 5G dan berhasil mencapai kecepatan hingga 70Gbps,yang mana dapat memberikan beragam layanan di skenario berbeda.

Sebagai yang selalu terdepan, masyarakat Indonesia selalu terbuka dalam mengadopsi teknologi baru, yang mana Indonesia baru saja memulai transformasi digital dan fokus dalam memperbaiki infrastruktur TIK dan melakukan inovasi untuk berbagai aplikasi. Teknologi mobile telah mengubah kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk cara berkomunikasi, transportasi, dan e-commerce, sehingga gebrakan di bidang teknologi akan membawa nilai tambah bagi masyarakat di negeri ini.

Huawei merupakan salah satu pemimpin dunia dalam meluncurkan 3G dan 4G. Untuk 5G, Huawei menjadi yang terdepan.Teknologi 5G ini menjadi strategi prioritas dan diinvestasikan secara penuh oleh Huawei dari awal hingga akhir proses pengembangannya sejak tahun 2009, mulai dari rancangan arsitektur hingga formulasi standar dan pengarsipan paten. Tim Huawei yang fokus di bidang 5G juga telah berkontribusi secara terus menerus dalam pengembangan industri 5G, termasuk mengindentifikasi kebutuhan di masa depan, hingga uji lapangan paling awal untuk teknologi antarmuka udara pada frekuensi 6GHz.

Teknologi 5G dapat mempercepat kehidupan digital di masa depan dengan memungkinkan “Everything on Mobileand Connected”,dimana semua hal dapatdioperasikan melalui perangkat mobile. Akses jaringan mobile juga dapat mengubah industri telekomunikasi, dengan memungkinkan semua hal terkoneksi kapan saja dan dimana saja.

Untuk pengimplementasian 5G, Huawei mendirikan laboratorium di Munich, Jerman, dimana Huawei bekerjasama dengan manufaktur mobil Jerman dalam mengadopsi 5G sebagai enabler di sektor mobil tanpa kemudi. Baru-baru ini, Huawei juga menyelenggarakan demonstrasi pengendalian kendaraan dari jarak jauh yang berbasis 5G pertama di dunia bersama dengan China Mobile dan SAIC Motor di ajang Mobile World Congress (MWC)2017 di Shanghai, Tiongkok.


Dalam demonstrasi ini, Huawei menyediakan solusi 5G nirkabel yang menghubungkan iGS, mobil pintar milik SAIC Motor dengan koneksi milik China Mobile. Dalamproses demonstrasi, sinyal kontrol untuk roda kemudi, gas, dan rem dikirimkan melalui jaringan 5G, dengan pengemudi yang berada di jarak lebih dari 30 kilometer dari kendaraan.

Demonstrasi ini membuktikan potensi pita lebar (bandwidth) yang tinggi, dan potensi latensi yang rendah di frekuensi C-band, yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan kendaraan pintar terhubung di masa depan. Remote driving memiliki banyak keunggulan, terutama untuk lingkungan yang berbahaya seperti lokasi penambangan dan tempat pembuangan limbah. Selain itu, remote driving juga dapat dimanfaatkan dalam keadaan darurat, seperti misi penyelamatan manusia pada saat terjadi bencana. (*)