pulsa-logo

Instagram Mampu Deteksi Gejala Depresi Lebih Akurat Ketimbang Dokter, Masa Sih?


dian iskandar

Rabu, 09 Agustus 2017 • 14:32

Instagram,facebook,sosial media,dampak sosial media


ilustrasiilustrasi

Pernahkah Anda sadari bawa tiap  postingan Anda di media sosial bisa mencerminkan dan mengungkapkan lebih banyak informasi daripada penjabaran lisan. Di media sosial, secara terbuka Anda akan memposting apapun,  misalnya di mana Anda berada di musim panas ini dan dengan siapa Anda bergaul, aktivitas keseharian Anda, hingga suasana hati Anda.

Penelitian terbaru dari University of Vermont dan Harvard, menggunakan Amazon's Mechanical Turk yang  mengumpulkan data begitu banyak sumber di media sosial, dan menunjukkan secara akurat kapan pengguna media sosial mengalami depresi. Dan  hal itu terungkap dalam postingan foto-foto yang mereka posting di Instagram.

Menurut temuan yang dipublikasikan di jurnal EPJ Data Science pada hari Selasa (8/8), para periset dari Harvard tersebut menggunakan Amazon's Mechanical Turk untuk merekrut sukarelawan untuk menyediakan feed di Instagram serta menuliskan  catatan kesehatan mental mereka. Dari 166 sukarelawan yang dipilih, ada lebih dari 43.000 foto-foto yang diposting di Instagram, sekitar setengah dari mereka mengalami depresi secara klinis dalam tiga tahun sebelumnya, menurut UVM.

Foto-foto tersebut kemudian dianalisis oleh para pekerja yang berbeda yang direkrut melalui Mechanical Turk. Mereka menilai 20 foto acak yang dipilih dari hampir 44.000 yang termasuk dalam penelitian ini. Mereka yang menganalisis foto memberi nilai pada skala nol sampai lima untuk seberapa menarik, bahagia, terpukul secara mental, sedih dan perasaan bahagia dari  setiap foto inpidu yang mereka posting. Para peneliti tidak diberi informasi tentang dari mana foto tersebut diambil, siapa yang mengambil foto atau mengapa mereka diminta untuk menilainya.

Yang mengejutkan adalah, para poeneliti  tersebut menyebutkan bahwa  metode peringkat di foto ini jauh lebih dapat diandalkan daripada tingkat keberhasilan diagnosis dari dokter umum. Dan tingkat diagnosis dokter umum masih kurang dapat diandalkan daripada analisis warna dan filter komputer dan frekuensi mimic wajah untuk identifikasi depresi yang selama ini dijadikan acuan oleh dokter umum.

Rata-rata peserta  yang depresi yang dilibatkan dalam riset penelitian ini mengunggah foto-foto yang lebih sering berwarna gelap, biru tua dan abu-abu,  daripada peserta pendamping yang menggunggah foto dengan warna yang cerah berwarna putih, kuning, dan merah muda. Dari hasil  penelitian tersebut menemukan fakta bahwa  peserta riset  yang mengalami depresi agak jarang menggunakan foto filter  dibandingkan peserta dengan kondisi mental sehat yang selalu menggunakan foto filter.

Dan fakta yang cukup menarik adalah  jika peserta yang depresi menggunakan  foto filter, yang paling umum mereka lakukan adalah "Inkwell," atau  foto filter yang membuat foto menjadi berwarna hitam dan putih (B/W). Dan untuk responden yang memiliki kondisi jiwa stabil dan tidak memiliki catatan depresi, lebih sering menggunakan filter foto yang  lebih terang seperti  "Valencia".


Selain sangat berbeda dari  jenis warna dan tingkat warna pada foto, hasilnya menunjukkan peserta yang depresi  lebih cenderung sedikit  memposting foto dengan wajah mereka di dalamnya.

Penelitian ini berimplikasi pada bagaimana depresi dapat didiagnosis di masa depan. Namun  temuan ini tidak akan bisa menggantikan metode diagnosis yang saat ini namun akan membantu mempercepat proses penyembuhan klinis yang dilakukan oleh dokter umum. (*)

Sumber: ibtimes