pulsa-logo

Studi: Kecanduan Smartphone Bikin Generasi Milenial Jadi Mudah Cemas


Fauzi

Selasa, 29 Agustus 2017 • 14:56

Smartphone Generasi Milenial


Sebuah lembaga peneliti independen LendedU baru-baru ini telah merilis jajak pendapat mereka untuk mendukung teori yang menunjukkan bahwa banyak generasi milenial yang  menderita sakit psikologis berupa Anxiety (kecemasan, kegelisahan tak menentu) di saat mereka berjauhan atau tidak menggunakan smartphone mereka.

Data tersebut juga mendukung penelitian yang baru-baru ini dibuat oleh analis industri ComScore, yang menemukan fakta bahwa generasi muda sekarang ini menjadi semakin kecanduan dan amat tergantung pada smartphone mereka dan memiliki minat yang sangat besar pada aplikasi-aplikasi yang ada di dalamnya. 

Adapun jajak pendapat yang dilakukan oleh LendedU tersebut dilakukan antara 5 Juni dan 26 Agustus dan melibatkan sekitar 7.076 orang yang masuk ke dalam kategori usia produktif. Di jajak pendapat tersebut mereka ditanya apakah mereka khawatir dan cemas jika tidak menggunakan atau berjauhan dengan smartphone mereka.

Ditemukan fakta bahwa, secara keseluruhan, 69% orang mengatakan bahwa mereka memang merasa tidak nyaman, cemas dan tidak tenang. Sementara hanya 31% yang mengatakan bahwa mereka dengan jujur tidak mengalami kecemasan apapun saat berpisah dari smartphone mereka. Apalagi di jajak pendapat tersebut menunjukkan pemisahan antara pria dan wanita. Di antara pria yang disurvei, hanya 63%  yang menjawab "Iya, saya cemas", sementara 37% menjawab yang negatif dengan mengatakan biasa-biasa saja. Itu kontras dengan jawaban wanita, di mana hanya 24% menjawab biasa-biasa saja, sedangkan 74% menguatkan kecemasan saat berjauhan dengan smartphone.

Smartphone, yang digunakan untuk ujicoba tersebut telah direkayasa untuk bekerja sama dengan "mesin slot", yang menerapkan penggunaan jangka panjang melalui semacam  notifikasi. Hal ini  menyebabkan otak melepaskan hormon kortisol  yang memulai respons yang mirip dengan fight-or-flight dan membuat pengguna merasa lebih memiliki kebutuhan untuk memeriksa perangkat mereka tiap saat.

LendedU menghubungkan tren dan informasi tersebut dengan kegunaan perangkat mobile - dengan alasan penggunaannya sebagai alat  bantu kehidupan dan aktivitas manusia. Namun LendedU mengatakan bahwa dengan lebih banyak waktu  bagi pengguna untuk melihat perangkat mobile, maka akan memperkuat efek mesin slot yang disebutkan di atas. Bahkan jika perangkat tersebut sekedar digunakan oleh pengguna untuk menelepon, menghibur diri mereka sendiri, mencari informasi, melakukan perhitungan dengan menggunakan fitur kalkulator, dan sejumlah besar fitur lainnya.

Lebih lanjut LendedU mengemukakan bahwa isu ini paling menonjol di kalangan milenium karena mereka mewakili "generasi pertama” yang benar-benar tenggelam dalam budaya smartphone sejak usia dini. Itulah fatalnya.


Hal tersebut mengarah pada kecenderungan kondisi psikologis yang cenderung akan menemukan titik yang lebih nyaman, dan terbiasa, menghidupkan smartphone untuk setiap kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh perangkat. Semacam ketergantungan atau kecanduan pada suatu hal.

Perlu disebutkan di sini bahwa LendedU sepenuhnya bergantung pada responden untuk mengidentifikasi apakah mereka mengalami kecemasan psikologis (Anxiety)  dalam kondisi tertentu atau tidak. Namun, tetap jelas bahwa tingkat ketidaknyamanan tertentu, paling tidak, dirasakan oleh responden yang diidentifikasi demikian.

Tidak ada cara untuk mengatakan apakah kemunculan teknologi-teknologi paling mutakhir mulai dari Artificial Intellegence (A.I) hingga ke Virtual Reality (V.R) akan menambah masalah baru, dan memperburuk keadaan psikologis penggunanya yang semakin tergantung pasa smartphone milik mereka. Karena smartphone generasi  masa depan  tentunya akan dilengkapi oleh fitur yang makin canggih, makin lengkap dan makin cerdas, sehingga dapat mengakomodir semua kebutuhan penggunanya.

Sumber: AndroidHeadlines