pulsa-logo

Menyusur Jalan Berliku Migrasi 2G ke 4G


Arief Burhanuddin

Jum'at, 15 September 2017 • 20:26


 

Upaya pemerintah untuk mempercepat proses migrasi pengguna selular ke jaringan 4G tampaknya masih harus melalui proses yang panjang. Meski di kota-kota besar terutama di pulau Jawa terjadi kenaikan jumlah pelanggan 4G secara signifikan, namun faktanya di daerah masih banyak masyarakat yang masih menggunakan jaringan ‘jadul’ 2G.

 

Data terakhir menunjukkan bahwa 40% hingga 50% pengguna telepon genggam saat ini masih menggunakan layanan basis 2G seperti voice dan SMS dan belum beralih ke layanan data.  Inilah salah satu kendala yang dihadapi pemerintah. Di satu sisi akselerasi ke jaringan 4G harus dilakukan, namun di sisi lain masih ada pengguna dan revenue cukup signifikan yang didapat oleh operator dari jaringan 2Gnya.

 

Dorongan pemerintah untuk secepatnya melakukan migrasi ke 4G bukan tanpa alasan. Jaringan 2G dinilai tidak efisien dengan beban biaya yang tinggi. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara beberapa waktu lalu mengakui bahwa ongkos produksi sebuah jaringan 2G sangat mahal. Dia menilai beban biaya telekomunikasi itu bisa lebih ringan jika terjadi peralihan teknologi ke 3G maupun 4G. 

 


Jatmiko Wardoyo, Direktur Marketing dan Komunikasi PT Erajaya Swasembada selaku distributor handset memaparkan 4 hal yang menyebabkan tersendatnya proses migrasi 2G ke 5G.

 

Problem Migrasi

Dalam bincang-bincang mengenai migrasi pengguna 2G ke 4G yang berlangsung di Bloeming Bar & Restaurant FX Senayan kemarin (14/) Jatmiko mengatakan bahwa masalah pertama adalah posisi jaringan 2G yang diibaratkan seperti uangkapan ‘dibenci tapi disayang’.  

“Kontribusi 2G masih besar sekali, jumlah penggunanya masih di atas 40% atau sekitar 100 jutaan. Operator sebenarnya ingin memindahkan bertahap dari 2G ke 3G, kemudian ke 4G. Tapi ternyata faktanya adalah, ada brand yang menjual basic phone 2G di harga 400 ribu, angka penjualannya masih bagus, di angka 250 ribu hingga 300 ribu per bulan,” Ungkap Jatmiko.

 

Problem kedua adalah hubungan antara operator dengan handset. Jatmiko mengibaratkan relasi keduanya seperti kereta dan rel. Handset sebagai keretanya, dan rel sebagai operatornya. Penetrasi handset 4G tergantung dari ‘rel’ yang disediakan oleh operator.  Jika ‘rel’ atau jaringan 4G yang disediakan oleh operator hanya di kota-kota besar saja, maka handset yang kompatibel juga hanya akan ada di kota-kota besar. 

 

Yang ketiga,  sifat masyarakat Indonesia yang early adopter selalu ingin mencoba sesuatu hal yang baru, seperti handset 4G. tetapi masalahnya mereka tidak benar-benar fitur-fitur yang ada untuk mengoptimalkan jaringan 4G milik operator?. Saat orang membeli handset 4G, belum tentu ia menggunakan fitur-fitur 4Gnya.

 

Hal keempat yang ia soroti adalah dari sisi regulator. Adanya regulasi yang mengharuskan handset 4G yang masuk ke Indonesia harus memenuhi syarat TKDN menjadikan vendor mengantisipasinya dengan berbagai cara yang berbeda. Ada yang sudah siap sejak awal, ada yang sebagian sudah siap sambil terus memenuhi syarat TKDN, dan ada yang akhirnya masuk ke Indonesia setelah memenuhi syarat TKDN.

 

Supply and Demand

Menurut Nonot Harsono, Dosen PENS dan Pengamat Telekomunikasi, Mastel Institute, bahwa untuk menyikapi kemajuan teknologi seluler dari 2G, 4G, sungguh bijak jika dimulai dengan melihat permasalahan yang dihadapi di lapangan pada saat mau mengambil langkah ke depan.

 

la mengatakan, apakah masyarakat memang harus didorong agar menggunakan teknologi terbaru 4G? Jika memang perlu maka pemerintah dan pelaku usaha harus berupaya  menciptakan kebutuhan sehingga masyarakat perlu menggunakan 4G.

 

Nonot menambahkan, bila angka 40% hingga 50% pengguna ternyata belum beralih ke 4G itu benar adanya, maka itupun masih mungkin karena ada dua penyebab. Pertama, karena supply layanan 4G penetrasinya masih kecil, baik coverage maupun kepemilikan handset 4G pada pengguna yang mungkin karena willingness to buy atau daya beli dari mayoritas lapisan masyarakat masih kurang. Kedua, kebutuhan masyarakat akan layanan 4G memang belum tumbuh.

 

Menurutnya, penyebab yang kedua masih lebih besar dari yang pertama, yakni kebutuhan masyarakat akan layanan 4G memang belum tumbuh. Kalau disimak lebih cermat, sebenarnya bagi pengguna, nilai tambah yang didapat dari 4G dibanding 3G adalah peningkatan kenyamanan dan kepuasan dari user experience (UX), atau biasa diistilahkan dengan 'convenience and satisfaction.

 

Langkah Operator

 

Mass Product Department Head Smartfren Hartadi Novianto yang juga hadir dalam acara bincang-bincang tersebut memaparkan beberapa hasil survei yang pernah Smartfren  lakukan. Smartfren melihat ada dua poin penting yang menghambat migrasi ke 4G. 

Yang pertama tentu saja keengganan masyarakat untuk berganti ponsel baru yang 4G capable. Untuk membeli perangkat baru, mereka harus mengeluarkan biaya.

 

Sedangkan yang kedua adalah keengganan orang untuk berganti starter pack. Tidak mudah untuk membujuk orang untuk  berganti starterpack atau.

 

Melihat hal tersebut, Smartfre mencoba memberikan solusi dengan menghadirkan lini Andromax dengan harag terjangkau. Mereka bahkan saat ini tengah menyiapkan feature phone yang murah namun sudah bisa menjalankan fitur-fitur data.

 

Langkah lainnya, Smartfren menyediakan pricing yang menarik untuk mendorong orang memakai layanan. Nah, bagi yang amsih memilik ponsel 2G atau 3G, namun ingin mencicipi kecepatan akses setara 4G, Smartfren memberikan solusi dengan menghadirkan Mifi yang portable dan mudah dibawa. 

 

Terakhir, Smartfren juga menyediakan layanan upgrade 4G LTE dengan harga menarik untuk pelanggan yang ingin pindah dari 2G ke 4G. @ariefburhan