pulsa-logo

Ekosistem Internet of Things Membutuhkan Penataan Regulasi dan Standarisasi yang Tepat


Aldrin Symu

Senin, 16 Oktober 2017 • 17:37


Era komunikasi data berbasis seluler membawa konsekuensi baru bertumbuhnya inovasi ikutan. Salah satu yang akan menonjol ke depan adalah penerapan IoT (internet of things) yang memungkinkan beragam benda dapat ‘berkomunikasi’ antar mereka termasuk diakses melalui perangkat smartphone. Mulai pengontrolan berbagai peranti seperti penanda ketinggian air sungai, lalu lintas, hingga kendaraan dapat dilakukan melalui IoT. Juga peranti sandangan (wearable devices) yang berbasis IoT seperti baju, jam tangan, alat kesehatan hingga telemetri dapat menggunakan keberadaan IoT.

Tetapi masalahnya, ekosistem IoT harus disikapi dengan cermat. Saat ini ada perangkat IoT yang mengarah menggunakan frekuensi unlicenced 919–923 Mhz, berdekatan dengan frekuensi operator. Dampaknya tentu dapat diperkirakan seperti interferensi dengan jaringan yang sudah ada. Belum lagi soal jaminan layanan atau SLA (service level agreement) dan perlindungan data keamanan konsumen. Ini tentu memberi dampak yang tidak diinginkan ke depan. “Kita harus adaptif terhadap perkembangan teknologi termasuk IoT dari sisi regulasi sehingga masyarakat nantinya tidak dirugikan,” kata Rudiantara, Menkominfo saat menjadi keynote speaker seminar yang diadakan oleh ITF (Indonesia Technology Forum) 16 Oktober 2017 di Jakarta.

Lebih lanjut Rudiantara mengatakan bahwa pada dasarnya pihak pemerintah tidak akan memberlakukan terlalu ketat terhadap hal-hal yang sangat dinamis. “Namun, saya berharap semua ekosistem perlu berkumpul dan bicara bersama untuk merumuskan aturan dan regulasi yang kiranya perlu diterapkan dan hal mana pula yang tidak perlu diterapkan,” ungkap Chief RA.

Bagaimanapun, lanjut Chief RA, IoT akan berdampak terhadap proses pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Berbagai lembaga riset memaparkan data bahwa IoT tumbuh sejak 2014-2020 dan angkanya luar biasa besar, menurut Gartner sekitar 300 milyar dollar, sedangkan menurut data IDC mencapai1.7 triliun.

Berdasarkan lembaga riset juga, bisnis IoT yang terbesar didapat dari bisnis device dan aplikasi. Kedua, didapat dari konektiviti dan platform dan terakhir dari system integrasi. “Player inilah perlu duduk bersama merumuskan arah atau master plan IoT di Indonesia. Karena pasar IoT di Indonesia diproyeksikan tertinggi di Asia tenggara sekitar 4000 dollar di tahun 2020,” ungkap Rudiantara.  

Selain menghadirkan Rudiantara, seminar ini juga mendatangkan pembicara dari pihak Dirjen SDPPI, Bapak Ismail  dan pihak operator selular, Indosat Ooredoo yang diwakili oleh Budiharto, Group Head Business Product Indosat Ooredoo. Budiharto memberikan pandangannya mengenai IoT yang akan terus tumbuh membesar di masa depan. “Sejumlah riset menunjukkan memang IoT akan menjadi salah satu layanan yang akan tumbuh secara eksponensial seiring semakin merebaknya ‘machine to machine communication’ dan ‘artificial intelligence’ atau kecerdasan buatan serta aplikasi.  Peran perusahaan telekomunikasi sangat penting sebagai enabler Utama dalam ekosistem IoT,” kata Budiharto.

Sementara dari sisi regulasi, menurut Agung Harsoyo, komisioner BRTI sekaligus staf pengajar STEI ITB Bandung menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan IoT saat ini dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi termasuk dampaknya bagi masyarakat luas. “Kami melakukan antisipasi ke depan sebagai jawaban atas berkembangnya ekosistem IoT di masa depan,” kata Agung. Terlebih, perkembangan IoT sulit dibendung sehingga memang diperlukan perangkat regulasi yang mampu menjawab berbagai tantangan yang ditimbulkan oleh IoT.


Selain menghadirkan pembicara dari kalangan industri, ITF juga menghadirkan Desmond Previn, dari perusahaan IoT Smart Home Indonesia yang sukses memasarkan produknya ke pasar Eropa dan Tiongkok. “IoT punya prospek cerah bagi Indonesia karena banyak hal bisa dikreasikan dengan IoT. Kreativitas dan keunggulan sumber daya manusia Indonesia di bidang pemrograman menyakinkan saya untuk menggeluti bisnis ini,” tambahnya.

Dari sisi industri, ruang lingkup yang luas serta pasarnya yang luar biasa membuat perusahaan sebesar GE (General Electric) pun melirik IoT sebagai salah satu solusi. “Ekosistem IoT harus dibangun secara sinergi di antara pemangku kepentingan termasuk kalangan industri,” kata Muliandy Nasution, Market Development GE Indonesia. Perusahaan besar bidang telekomunikasi dan elektronika memang banyak melirik IoT sebagai peluang besar bisnis di masa mendatang.

Dari sisi teknis, sebagai sebuah perangkat dengan standar tersendiri memang harus diperhatikan bahwa IoT juga menyimpan bom waktu yang harus diantisipasi sejak awal. “Kemungkinan-kemungkinan tersedotnya data pribadi dan sebagainya tetap dimungkinkan dari penerapan IoT,” kata Gunawan Wibisono, pengajar Fakultas Teknik Jurusan Elektro Universitas Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia Technology Forum (ITF)  mendorong adanya regulasi dan penataan ekosistem IoT yang sehat dan mampu membawa manfaat tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi pemangku kepentingan di sektor telekomunikasi dan informatika serta memajukan keunggulan ekonomi Indonesia.

ITF juga berharap, hadirnya IoT bisa mendorong keunggulan kompetitif nasional melalui transformasi dalam era digital dengan memanfaatkan teknologi IoT. Sehingga keberadaan ekosistem IoT bisa mendorong Indonesia menjadi pemain global dan tidak hanya menjadi pangsa pasar melainkan menjadi pemain utama.