pulsa-logo

Riset: Keamanan Siber Jadi Perhatian Utama Penerapan IoT Korporasi


Fauzi

Jum'at, 20 Oktober 2017 • 11:26

BlackBerry,IoT


Image Credit: ShutterstockImage Credit: Shutterstock

BlackBerry Limited  mengumumkan hasil dari sebuah makalah penelitian global terbaru, setelah melakukan survei terhadap para pembuat keputusan Teknologi Informasi dalam penerapan IoT perusahaan.

Makalah penelitian yang dilakukan oleh 451 Research ini berjudul “Securing the Enterprise of Things: Opportunity for securing IoT with a unified platform emerging as IoT popularity grows” menunjukkan bahwa terdapat peluang yang sangat besar dengan adanya IoT, tapi di saat yang bersamaan terdapat juga kekhawatiran yang signifikan atas keamanan siber pada IoT.

Marty Beard selaku Chief Operating Officer di BlackBerry, mengatakan pertumbuhan IoT dipimpin oleh perusahaan, dan mereka terus memerlukan strategi pengelolaan endpoint terpadu yang mampu  menangani miliaran perangkat yang terhubung.

“Kami berfokus untuk mengamankan EoT karena dengan semua potensinya, perluasan penggunaan barang-barang yang terhubung menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan hanya seaman endpoint mereka yang paling rentan,” lanjutnya.

Responden dari survey tersebut merepresentasikan berbagai macam industri vertikal, yakni jasa finansial, pemerintahan dan kesehatan. Berikut adalah beberapa tema utama yang ditemukan dalam penelitian:

  • Tujuh puluh delapan persen dari responden menunjukkan ketertarikan mereka terhadap solusi yang memungkinkan mereka untuk mengelola seluruh endpoint mereka dalam satu titik.
  • Enam puluh tiga persen menyebutkan bahwa kekhawatiran “utama” mereka terletak pada i teknologi dan proses digital. Akan tetapi, sebanyak lebih dari sepertiga (37 persen) yang ternyata sudah memiliki strategi transformasi digital.
  • Organisasi merupakan yang paling tidak siap menghadapi ancaman eksternal, dengan hampir dua per tiga (61 persen) mengatakan bahwa peretas  dan perang siber  merupakan kekhawatiran utama mereka.
  • Tiga puluh sembilan persen responden dari organisasi yang sangat besar (lebih dari 10.000 karyawan) mengungkapkan bahwa kurangnya kerjasama antar departemen internal merupakan hambatan bagi pengelolaan endpoint terpadu, sementara 51 persen dari organisasi menengah merasakan hal yang sama.