pulsa-logo

Intip Persaingan Google dan Apple di Ranah AI, Siapa Terdepan?


Fauzi

Sabtu, 18 November 2017 • 15:54

Artificial Inteligence


Ilustrasi: Smartphone Tango Lenovo Phab 2 Pro, Foto: FauziIlustrasi: Smartphone Tango Lenovo Phab 2 Pro, Foto: Fauzi

Google dan Apple tidak diragukan merupakan dua raksasa teknologi yang begitu terkenal akan inovasinya. Sebagai perusahaan teknologi papan atas keduanya juga kerap bersaing untuk menjadi yang terdepan. Termasuk di ranah teknologi Artificial Inteligence (AI) keduanya kini tengah menancapkan pengaruh besarnya. Lalu, siapa lebih unggul.

“Google telah dianggap sebagai kekuatan terdepan dalam pengembangan teknologi AI berkat program komputer AlphaGo AI. Sementara Google masih memegang keuntungan di sektor cloud-AI, Apple tampaknya telah melampaui Google dalam pengembangan produk AI on-device dengan meluncurkan perangkat iPhone X dan iPhone 8-nya,” tulis DigiTimes dalam sebuah risetnya.

Sebagaimana diketahui, Apple telah berhasil menyuntikkan neural engine dual-core ke dalam prosesor A11, yang telah memberikan kekuatan pada iPhone X dan iPhone 8 untuk mengintegrasikan fungsionalitas seperti machine learning, model inferensi dan algoritma terkait untuk berperan sebagai chip application-specific integrated circuit (ASIC) untuk pengelanalan gambar dan mencapai akselerasi hardware.

Dengan fitur FaceID pengguna iPhone X dimungkinkan untuk merasakan pengalaman sebenarnya teknologi AI pada perangkat. Sementara dengan kamera TrueDepth, pengguna dapat membangun peta kedalaman wajah dan neural engine dapat mengidentifikasi dan mengkonfirmasi wajah dan membuka kunci iPhone.

Sementara berkaitan dengan pengembangan teknologi Augmented Reality (AR), meskipun Google telah meluncurkan platform Tango AR sekaligus menjalin kerja sama dengan sejumlah vendor, seperti Lenovo dan Asus untuk membesut smartphone berteknologi AR, namun faktanya smartphone ini telah gagal. Ada beberapa sebab yang mengantarkan kegagalan smartphone berteknologi AR, selain harganya jadi makin tinggi lantaran harus menancapkan sensor pengukuran kedalaan, jumlah smartphone Tango AR juga tergolong sangat langka imbas kerja sama yang terjalin dengan vendor smartphone yang terbatas. Nah, integrasi yang tidak matang antara software dan hardware AR juga disebut DigiTimes dalam risetnya merupakan faktor yang membuat AR Tango layu sebelum berkembang.

Sebaliknya, ARKit yang merupakan platform besutan Apple yang kini mendukung peragnkat iOS terbaru maupun peragnkat yang telah diluncurkan dua tahun lalu melalui proses upgrade. Tanpa menggunakan komponen hardware untuk membangun mode 3D, ARKit bisa memanfaatkan algoritma software untuk menumpuk scenario dan objek AR untuk memungkinkan pengguna untuk merasakan pengalaman AR.

Untuk bersaing secara efektif lawan ARKit, Google pun meluncurkan ARCore pada akhir Agustus lalu, mengggunakan teknologi yang mirip dengan ARKit. Namun, DigiTimes Research meyakini lantaran perangkat hardware yang support ARCore masih terbatas hanya pada smartphone Android 7.0 dan di atasnya, seperti Pixel dan Pixel XL dan Samsung Galaxy S8, jumlah peragnkat berbasis ARCore akan jauh tertinggal dari produk berbasis ARKit.


Sumber: DigiTimes