pulsa-logo

Mantan Petinggi Facebook: Media Sosial Merusak Tatanan Bermasyarakat


dian iskandar

Rabu, 13 Desember 2017 • 13:17

Mantan Petinggi Facebook: Media Sosial Merusak Tatanan Bermasyarakat


ilustrasi, foto: PULSAilustrasi, foto: PULSA

Facebook tidak dapat dipungkiri saat ini adalah salah satu jejaring sosial raksasa yang memiliki jumlah pengguna massif di seluruh dunia. Di balik misi utamanya yakni menghubungkan orang-orang dengan komunitas, teman, dan  keluarganya, namun nyatanya Facebook sebagai media sosial dianggap tidak sehat. Setidaknya ini adalah anggapan dari salah seorang petinggi di Facebook, bernama Chamath Palihapitiya.

Seperti dilansir dari Hindustantimes, Chamath Palihapitiya mengatakan bahwa media sosial  bisa menghancurkan tatanan sosial dan merusak cara masyarakat berinteraksi dengan sebagaimana mestinya. Beliau mengatakan bahwa hingga saat ini, tidak  mengizinkan anak-anaknya untuk memiliki akun atau bahkan mengakses platform Facebook sama sekali.  Bahkan beliau  sendiri mencoba menggunakan Facebook sejarang mungkin.

Saat mengisi sesi wawancara di sebuah pertemuan mahasiswa di Stanford Graduate School of Business bulan lalu, Chamath Palihapitiya mengatakan bahwa  rangkaian komunikasi yang berlangsung  di Facebook yang berupa  umpan balik, tak ubahnya  seperti  efek  obat  Dophamine yang memberikan semangat dalam  jangka pendek. Dan hal ini bisa menghancurkan  tatanan masyarakat  yang sesungguhnya.

Chamath Palihapitiya telah bergabung dengan Facebook di tahun 2007, yang merupakan  awal-awal pembentukan  perusahaan jejaring sosial raksasa tersebut.

Chamath Palihapitiya mengatakan bahwa media sosial seperti Facebook bisa memberikan dampak buruk  dan menggiring opini dan pikiran banyak orang pada suatu  keadaan tertentu.  Berbagai postingan  informasi yang beredar di media sosial  dapat memanipulasi perilaku dan pendapat  orang-orang untuk melakukan apapun yang mereka  inginkan. Ini benar-benar keadaan yang sangat buruk, dan mengerikan. Palihapitiya sembari merekomendasikan semua orang untuk “beristirahat”  dari platform jejaring sosial.

Dia juga mengungkapkan bahwa dirinya  bukanlah satu-satunya petnggi di Facebook yang secara terbuka mengakui dampak buruk dari platform jejaring sosial tersebut. Bulan lalu, Sean Parker, seorang investor awal di Facebook, mengatakan bahwa perusahaan media sosial tersebut  sangat berbahaya dan mengeksploitasi kerentanan dalam psikologi manusia. 

Antonio Garcia-Martinez, mantan karyawan Facebook lainnya, dalam bukunya  “Chaos Monkeys” berbicara panjang lebar tentang kekuatan sebenarnya yang Facebook miliki terkait data pengguna. Baru beberapa bulan yang lalu, bahkan mantan insinyur perangkat lunak Facebook Justin Rosenstein, menghapus semua aplikasi  jejaring sosial dari smartphone-nya.


Alasanya cukup masuk akal , dia mengatakan bahwa jejaring sosial  itu dianggapnya memiliki sifat adiktif.  Ironisnya, Rosenstein adalah salah satu otak di balik fitur Like di Facebook. Dan Rosentein menggambarkan Like di Facebook itu sebagai  kebahagiaan dan kesenangan yang  semu. (Nariswari)

Sumber: The Verge via Hindustantimes