pulsa-logo

Blockchain Jadi Topik Bahasan di CTI IT Infrastructure Summit 2018


Fauzi

Kamis, 08 Maret 2018 • 14:28

CTI IT Infrastructure Summit 2018


CTI IT Infrastructure Summit 2018, Foto: CTICTI IT Infrastructure Summit 2018, Foto: CTI

PT Computrade Technology International (CTI Group) menggelar konferensi dan pameran bertajuk CTI IT Infrastructure Summit 2018.

Acara ini dihadiri ratusan profesional TI, keuangan, pemasaran dan lainnya dari berbagai industri dengan fokus pada blockchain sebagai teknologi di balik Bitcoin, mata uang digital populer saat ini.

Mengangkat tema “Blockchain: The Next Digital Revolution in Every Industry”, CTI IT Infrastructure Summit menghadirkan pakar teknologi Vice President (Southeast Asia) Gartner Advisory Jonathan Krause dan Fitra Suryanto, Head of Presales, Dell EMC Indonesia sebagai keynote speakers.

Suasana seminar semakin hangat saat diskusi panel mengupas lebih dalam terkait adopsi blockchain yang lebih dari sebatas Bitcoin dan crypto currency lainnya antara Jonathan Krause, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan, dan Head of Operations and Technology Citibank Indonesia Tim Utama, serta dimoderatori oleh ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Prof. Richardus Eko Indrajit.

Direktur CTI Group Rachmat Gunawan mengatakan  teknologi blockchain memang mulai mencuat ke publik berkat Bitcoin dan bahkan dua hal tersebut sering dianggap sama, walau sebenarnya potensi yang dihasilkan dari blockchain jauh lebih luas dari sekedar mata uang digital.

“Pakar teknologi memprediksi teknologi ini akan mendisrupsi 19 industri. Mulai dari keuangan di mana blockchain bisa menghilangkan fungsi perantara dalam proses transaksi antara dua belah pihak, sampai ke kesehatan untuk membantu proses diagnosis pasien yang lebih cepat dan akurat. Selain mendiskusikan use case blockchain, CTI IT Infrastructure Summit 2018 juga membahas langkah apa yang harus diambil dan challenge yang harus dihadapi agar para profesional bisnis dapat menyusun strategi yang tepat untuk mengadopsi blockchain bagi kemajuan bisnis di ekosistem digital saat ini,” lanjutnya.

Rachmat Gunawan menambahkan, untuk dapat sukses mengadopsi blockcahin, perusahaan perlu melakukan beragam pendekatan yang memperhatikan beberapa aspek seperti proses bisnis, teknologi, operasional, skill, budaya perusahaan dan kematangan digital di perusahaan tersebut. Selain itu bisnis juga perlu mempertimbangkan tantangan yang mungkin hadir dari adopsi blockchain, seperti kesulitan memilih platform yang kehandalannya belum teruji mengingat market blockchain masih terbilang baru, ketersediaan skill, manajemen data,  dan keamanan.


Lembaga riset Gartner mengatakan nilai bisnis yang akan diciptakan oleh adopsi blockchain secara global akan meningkat menjadi $176 miliar pada 2025 dan akan melonjak menjadi $3,1 triliun pada tahun 2030 . Mayoritas inisiatif terkait blockchain berada di sektor jasa keuangan termasuk perbankan, diikuti oleh pemerintah, energi, dan supply chain. Gartner juga memprediksi industri perbankan akan mendapatkan nilai bisnis sebesar $1 milyar dari adopsi blockchain hingga akhir tahun 2020, khususnya dari penggunaan crypto currency.

“Blockchain dan teknologi distributed ledger berada di persimpangan berbagai sistem tambahan, dan jika ekosistem tersebut dibangun dengan tepat dapat mentransformasi cara perusahaan mencapai goal dan objektif bisnis ke depan. Namun sebagai langkah awal dalam inisiatif blockchain, perusahaan harus menentukan apakah teknologi tersebut tepat menjawab masalah dan objektif bisnis yang ingin dicapai. Dell EMC dan Dell Technologies memiliki beragam solusi dan layanan untuk membantu pelanggan mencapai gol bisnis mereka. Dukungan ini diawali dengan memvalidasi pemanfaatan blockchain, sampai ke pengimplementasian on premise, off premise, aplikasi dan teknologi blockchain berkelas enterprise,” jelas Fitra Suryanto, Head of Presales, Dell EMC Indonesia.

CTI IT Infrastructure Summit 2018 didukung oleh lembaga riset Gartner serta vendor-vendor TI terkemuka di dunia, seperti Dell EMC, Hewlett-Packard Enterprise (HPE), HPE Aruba, Samsung, IBM, Lenovo, Red Hat, Huawei, Defenxor, Trend Micro dan Tata Communications. (Ozi)

Sumber: PR