pulsa-logo

Hands-On Samsung Galaxy S9: Game On!


Anwar Aburizal

Kamis, 15 Maret 2018 • 16:10


Kehadiran Samsung Galaxy S9 di pasar bagai  ledakan dari pistol yang menandakan bahwa balapan ponsel flagship tahun 2018 telah dimulai. Sebagai salah satu penguasa pasar smartphone tentunya produk terbaik dari Samsung selalu dinantikan dan menjadi standar baru.

Samsung Galaxy S9 pun datang ke meja redaksi PULSA untuk diuji, tapi sebelum ulasan yang mendalam, berikut kesan pertama perkenalan singkat PULSA dengan Galaxy S9 terkait tampilan fisik dan sejumlah fitur yang diunggulkan Samsung dari produk teranyarnya ini.

Desain dan Layar

Nyaris tidak ada inovasi yang disajikan Samsung pada tampilan fisik Galaxy S9. Namun hal tersebut tetap layak mendapatkan apresiasi, sebab hal ini merupakan salah satu bukti bahwa Samsung konsisten dengan gaya yang diusungnya dan tidak ikut-ikutan mengusung desain full screen berponi atau notch yang dipopulerkan kompetitor utamanya.

Dilihat dengan lebih teliti, sejatinya ada perubahan kecil namun signifikan yang diadopsi oleh S9, yakni Samsung telah memindahkan sensor sidik jari ke bawah lensa kamera utama. Hal ini tentunya membuat sensor ini relatif lebih nyaman untuk dijangkau dibandingkan dengan kepunyaan S8. Selain itu bezel di atas dan bawah layar ponsel ini tampak lebih tipis jika dibandingkan dengan pendahulunya.

PULSA berkesempatan menguji unit berwarna Coral blue (biru) yang menurut PULSA tampak sangat elegan. Selain warna Coral Blue, S9 juga tersedia dalam varian Midnight Black (hitam) dan Lilac Purple (ungu).Selebihnya S9 memiliki komposisi dan tata letak port, tombol serta sejumlah sensor yang sama seperti pendahulunya. Termasuk port audio jack 3.5mm yang akan mengakomodasi


Masih menggunakan panel Super AMOLED dengan resolusi QHD+, Samsung juga tidak tampak mengembangkan teknologi di sektor layar -yang mereka sebut sebagai infinity display- secara signifikan, atau bahkan mungkin mereka tidak melakukan pengembangan sama sekali dari yang digunakan pada S8. Memang sulit mengembangkan sesuatu yang mendekati kesempurnaan, jadi hal tersebut sangat bisa dipahami. PULSA bahkan tidak punya keluhan terkait layar pada S9.

Intelligent Scan

Seperti perangkat smartphone umumnya, S9 juga menyuguhkan sejumlah pengaturan saat initial boot up (pertama kali dijalankan), mulai dari informasi personal pengguna, hingga pengaturan konektifitas. Juga termasuk dalam pengaturan awal adalah fitur sistem keamanan, pengunci layar.  

Pada fitur pengunci layar, Samsung membawa inovasi bertajuk Intelligent Scan (pemindaian cerdas). Intelligent Scan sejatinya hanya penggabungan dari 2 pilihan pengunci layar yang sudah dimiliki Samsung sebelumnya pada Galaxy S8, yakni pemindai selaput pelangi (iris scanner) dan pengenal wajah (face recognition).

Fitur ini akan menganalisa wajah yang terlihat oleh kamera depan dan kondisi pencahayaan disekitar pengguna, kemudian sistem akan menentukan metode penguncian layar yang paling tepat diantara keduanya untuk digunakan.

Jika intelligent scan diaktifkan, setelah pengguna menyalakan layar, sistem pertama kali akan berusaha mengenali wajah pengguna dan akan langsung memindai iris jika otentifikasi awal gagal. Jika kondisi tidak begitu ideal unuk kedua pemindaian tersebut maka sistem akan menggabungkan keduanya untuk membuka layar. Tenang saja walaupun prosesnya seolah sangat rumit, namun semua proses diatas berjalan sangat instan.

Walau terdengar canggih, namun PULSA merasakan ada masalah terutama pada pemindai iris. Sebab beberapa kali S9 yang PULSA uji, gagal memindai saat mata terhalang oleh kacamata. Hal ini tentu agak merepotkan ketika ingin segera mengakses layar, karena sesekali proses pembukaan kunci layar menjadi tertambah oleh gerakan membuka kacamata terlebih dahulu. Meski begitu, pemindai iris sebenarnya tidak selalu gagal beroperasi saat menggunakan kacamata dan seiring lamanya penggunaan, PULSA menemukan jarak serta posisi yang ideal untuk membantu proses pemindaian agar lebih cepat berjalan.

Dual Aperture, AR Emoji dan Super Slow-Mo

”The Camera. Reimagined.” Kira-kira seperti itu tagline yang digunakan Samsung dalam program pemasaran Galaxy S9 dan S9+. Wajar saja, sebab jika diperhatikan, sejumlah fitur yang menjadi “bahan jualan” kedua produk ini kebanyakan berpusat di kamera.

Dalam peluncuran Galaxy S9 di Jakarta, Jo Semindang, IM Marketing Director Samsung Electronics Indonesia bersama 2 influencer, Tito Rikardo (fotografer profesional) dan Kelly Tandiono (model) mempresentasikan setidaknya 3 fitur unggulan Samsung S9 dan S9+ yakni dual aperture, AR emoji dan perekam video super slow-motion.

Slow-Mo Galaxy S9Slow-Mo Galaxy S9

Dual aperture menjadi yang paling menarik menurut PULSA. Karena bersama S9+, S9 menjadi yang pertama memiliki teknologi ini. Kamera utama bersensor 12MP yang dimiliki S9 dipasangkan dengan lensa yang mempunyai dua tingkatan bukaan sekaligus, F/1.5 dan F/2.4.

Bagi yang belum tahu, secara sederhana nilai aperture atau bukaan lensa atau f-stop adalah nilai yang menjelaskan seberapa besar diameter lubang cahaya yang terbuka menuju sensor kamera. Aperture lensa bekerja seperti pupil pada mata manusia, akan membesar untuk membiarkan lebih banyak cahaya yang masuk saat kondisi pencahayaan redup dan sebaliknya akan mengecil saat kondisi pencahayaan terang.

Hanya saja jika sebuah kamera ponsel hanya memiliki satu pilihan bukaan lensa, maka banyaknya cahaya yang masuk menuju sensor akan ditentukan oleh shutter speed (kecepatan rana). Nah karena Galaxy S9 dan S9+ memiliki dua tingkatan bukaan, maka sistem akan menentukan bukaan mana yang digunakan sesuai dengan keadaan cahaya di sekitar objek.

F/2.4 akan dipakai jika keadaan pencahayaan terang atau cukup dan F/1.5 akan digunakan bila kamera digunakan untuk memotret di area redup bahkan gelap.

Fitur berikutnya adalah AR Emoji. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk membuat emoji dengan karakter wajahnya sendiri. Emoji ini berformat .gif sehingga bisa dengan mudah dan ringan untuk dikirim melalui aplikasi messaging.

Kamera Setting Galaxy S9Kamera Setting Galaxy S9

Sayangnya, menurut PULSA pilihan bentuk fisik, dan rambut masih kurang variatif. Namun sekali lagi PULSA memilih untuk memberikan toleransi dan memakluminya mengingat fitur ini memang baru melakukan debut di Galaxy S9 dan S9+.

Akan menyenangkan jika bisa memilih karakter avatar dengan pilihan bentuk fisik seperti gemuk atau kurus, dan juga lebih banyak pilihan tatanan rambut yang tidak terlalu bergaya k-pop atau bahkan pilihan hijab untuk wanita pada fitur AR Emoji ini kedepannya.

Emoji Samsung Galaxy S9Emoji Samsung Galaxy S9

Fitur unggulan lain yang juga sempat PULSA coba adalah Super Slow Motion. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk merekam video yang memperlambat gerakan objek yang ada di video hingga 30 kali lebih lambat.

Karena cepatnya kamera menangkap gerakan pada mode ini, keadaan pencahayaan di sekitar objek harus benar-benar terang. Selain itu sumber cahaya pun tidak boleh sembarangan. Matahari adalah sumber pencahayaan paling baik untuk mode ini, jadi sebaiknya fitur ini digunakan di luar ruang (outdoor).

Kalaupun ingin membuat video di dalam ruangan, maka sebaiknya lampu yang digunakan memiliki frekuensi tinggi sehingga tidak tampak berkedip (flicker) dalam video slow motion.

Sebenarnya masih begitu banyak fitur yang ingin PULSA ulas pada Galaxy S9, untuk itu nantikan ulasan lengkapnya.

 

LATEST TIPS-APPS

Mengatur Pesan SOS di Smartphone Asus
BackUp Cloud di CloudMAX

2018-04-10 20:49:42