pulsa-logo

Aplikasi Parental Control Tak Efektif Lindungi Anak dari Dampak Negatif Internet


dian iskandar

Jum'at, 06 April 2018 • 10:58

Studi: Aplikasi Parental Control Tak Efektif Lindungi Anak dari Internet


ilustrasiilustrasi

Aplikasi parental control digunakan sebagai salah-satu upaya orang tua dalam melindungi anak dari konten negatitf di internet. Dengan aplikasi ini, semua kegiatan anak di Internet dengan mudah bisa dipantau. Tapi sayangnya menurut studi terbaru ternyata aplikasi parental control tidak efektif.

Studi ini dilakukan oleh University of Central Florida dan mengungkapkan bahwa aplikasi ini, yang bisa menunjukkan laman web mana yang dikunjungi anak Anda, memblokir situs web tertentu, dan membatasi penggunaannya, mungkin tidak efektif. Selain itu, penggunaan aplikasi ini cenderung membuat ganjalan antara orang tua dan anak remaja.

Survei yang dilakukan secara online ini melibatkan 200 orangtua yang memiliki setidaknya satu anak berusia 13 hingga 17 tahun. Setengah dari orang tua ini mengaku menggunakan aplikasi parental control. Orang tua ini lebih ketat, menuntut, dan menolak berkompromi dengan anak-anak mereka. Anehnya, remaja yang ponselnya membawa terdapat aplikasi aplikasi parental control (kontrol orang tua) lebih mungkin untuk melihat konten eksplisit dibanding remaja lain, dan merasa dilecehkan saat online. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa aplikasi ini sangat tidak efektif.

Penelitian kemudian melongok ke Google Play Store di mana mereka meneliti komentar yang diposting oleh orang tua dan anak-anak (usia 8 hingga 19) di sekitar 736 aplikasi kontrol orang tua yang tersedia untuk perangkat Android. Orang tua memberi aplikasi sebagian besar ulasan bagus. Dan bisa ditebak, bagi anak-anak tidak menggembirakan. 79% dari mereka meninggalkan ulasan bintang dua atau kurang (dari lima bintang).

Anak-anak merasa bahwa aplikasi ini adalah pelanggaran privasi mereka, dan mempromosikan "malasnya pengasuhan" dengan menutup komunikasi antara kedua belah pihak. Anak-anak juga mengeluh bahwa aplikasi kontrol orangtua mengubah orangtua mereka menjadi penguntit, dan mencegah mereka melakukan pekerjaan rumah.

Kedua studi tersebut membantu para peneliti menyimpulkan bahwa saat ini aplikasi kontrol orang tua yang tersedia tidak menjamin keamanan anak-anak yang online. Laporan itu mencatat bahwa remaja membutuhkan ruang sehingga mereka dapat belajar bagaimana mengembangkan "mekanisme koping" yang akan membantu sepanjang hidup mereka.

Laporan tersebut merekomendasikan bahwa generasi aplikasi kontrol orang tua berikutnya menyertakan fitur-fitur untuk membuat orang tua tetap terlibat dengan anak-anak mereka, dan mengajarkan para remaja cara menghadapi bahaya ketika online.


Tampaknya orang tua terlalu percaya pada aplikasi ini, dan penelitian menunjukkan bahwa alih-alih menggunakannya untuk mengintip kemana saja anak-anak mereka online, orang tua harus lebih terlibat dengan anaknya yang remaja. Cari tahu situs web apa yang mereka kunjungi, dan diskusikan hal-hal yang mereka lihat yang memengaruhi mereka. Juga, adalah bijaksana untuk berbicara tentang bahaya yang bisa mereka hadapi ketika menggunakan internet. (*)

Sumber: UCF via Phonearena